Tokoh Baru yang Punya Idealisme Akan Sulit Pimpin PSSI kata Akmal Marhali

Harapan publik untuk terjadi proses reformasi dan regenerasi di Sepakbola Indonesia dalam 20 tahun terakhir sulit direalisasikan.

Tokoh Baru yang Punya Idealisme Akan Sulit Pimpin PSSI kata Akmal Marhali
Ist for ribunnews.com
Koordinator SOS Akmal Marhali. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harapan publik untuk terjadi proses reformasi dan regenerasi di Sepakbola Indonesia dalam 20 tahun terakhir sulit direalisasikan.

Berbagai cara dan langkah yang dilakukan selalu mentok. PSSI dibuat seperti kerajaan. Takhta hanya diberikan kepada keturunan "raja" atau yang mau berkongsi. Tentunya, dengan kesepakatan khusus yang tak mengusik tirani dan dinasti yang dibangun.

Harapan adanya regenerasi atau potong satu generasi untuk melihat era baru PSSI pun sangat terealisasu. Kecuali melalui "tangan besi" pemerintah. Tapi, menjadi simalakama karena nanti dicap intervensi.

"Silakam disurvey bila tidak percaya! Masyarakat menginginkan adanya tokoh-tokoh baru di federasi karena generasi lawas sudah dianggap gagal. Bila timnas saja harus regenerasi untuk mengatasi mandeknya prestasi, PSSI sebagai induknya sejatinya harus memberikan contoh," ungkap Koordinator Save Our Soccer (SOS), Akmal Marhali.

Pangkal masalah sulitnya menghadirkan wajah baru di sepakbola adalah Statuta PSSI. Utamanya, pasal 38 ayat 4 yang mensyaratkan Anggota Komite Eksekutif harus telah aktif di Sepakbola Nasional dalam koridor PSSI sekurang-kurangnya lima tahun dan harus memenuhi syarat yang ditentukan dalam statuta PSSI.

"Ini pasal karet. Tafsirnya bisa bermacam-macam yang pada gilirannya tokoh baru yang punya idealisme akan sulit untuk memimpin PSSI. Apa maksud koridor PSSI? Apakah harus berada di dalam PSSI baru bisa mencalonkan diri? Bagaimana buat mereka yang punya visi bagus, idealis dan berintegritas, aktif membina sepakbola bahkan mengembangkan sepakbola di luar lingkaran PSSI. Pasal ini mengindikasikan PSSI bak sebuah kerajaan. Hanya keluarga raja dan yang berada di lingkaran istana yang bisa memimpin," tutur Akmal.

Selain soal batasan lima tahun aktif di sepakbola nasional dalam koridor PSSI, batasan Ketua Umum, Wakil Ketua Umum dan anggota Eksekutif tidak bokeh yiga periode juga multi tafsir.

Tak ada penjelasan batasan sejak kapan dihitungnya. Ditambah lagi aturan soal pernah terlibat tindakan pidana.

Plus pasal 42 yang menjelaskan apabila ketua umum berhalangan. Bila sebelumnya, digantikan wakil ketua dengan usia tertua, kini direvisi menjadi Wakil Ketua yang paling lama melayani dan berpengalaman dalam sepak bola.

"Banyak pasal-pasal yang memunculkan banyak interpretasi dan rawan salah diterjemahkan. Sayangnya dalam KLB pada 27 Juli 2019 yang salah satunya merevisi Statuta PSSI tak ada waktu untuk membedah satu persatu. Bagaimana bisa KLB yang membahas Kitab Undang Undang Organisasi hanya berlangsung satu jam ketika itu di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta. Acara hanya seremoni dan ketuk palu. Jangan-jangan voters pun tidak paham perubahan-perubahan yang dimaksud," urai Akmal.

Halaman
12
Editor: Toni Bramantoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved