Liga 1

Wawancara Eksklusif dengan Paul Munster: Ingin Jadikan Bhayangkara FC Kembali Kuat

"Saya mempertanyakan kualitas mereka, saya tanya apa mereka sudah sampai mana kualifikasinya," ujarnya.

Wawancara Eksklusif dengan Paul Munster: Ingin Jadikan Bhayangkara FC Kembali Kuat
Tribunnews/JEPRIMA
Pelatih Bhayangkara FC Paul Munster saat berpose usai sesi wawancara khusus dengan Tribunnews di Stadion PTIK, Jakarta Selatan, Kamis (14/11/2019). Pada kesempatan tersebut Paul Munster menceritakan cara dirinya melatih tim Bhayangkara FC dengan menerapkan lisensi UEFA Pro. Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Semenjak datang di awal putaran kedua Liga 1 2019, Paul Munster langsung berbenah. Ia mengaku agak kaget lantaran Bhayangkara FC kondisi pemainnya tidak dalam keadaan bugar.

Sentuhan pelatih asal Irlandia Utara itu terbukti di laga debutnya. Paul bisa mengimbangi Bali United yang kala itu hinga saat ini masih bertengger di puncak klasemen sementara.

Hasil imbang itu juga mengembalikan mental Indra Kahfi dkk. yang mengalami dua kali kekalahan beruntun sebelum laga kontra Bali United.

“Pertama saya datang ke sini memang ada masalah, kami kalah dua kali sebelumnua. Dan ketika saya masuk,  saya buat latihan khusus,” kata Paul Munster kepada Tribunnews, Kamis (14/11/2019).

“Kemudian saya  mulai menerapkan sistem yang saya punya. Pertandingan awal kita imbang dari tim kuat di liga ini Bali United, dan setelah itu kami mulai mendapatkan hasil positif,” ujarnya.

Kehadiran Paul Munster di tubuh Bhayangkara FC bak oase di tengah padang pasir. Pelatih pemegang lisensi UEFA Pro itu sedikit demi sedikit mambangkitkan jawara Liga 1 2017.

Dari 10 laga yang ia pimpin, tim berjuluk The Guardian tersebut hanya sekali mengalami kekalahan saat menjamu PSS Sleman. Sisanya di torehkan empat kemanangan dan lima kali imbang.

Sementara itu catatan positif lainnya, Paul Munster sukses membawa Bhayangkara FC tak terkalahkan dalam laga tandang. Bahkan, terakhir, The Guardian mempermalukan Persipura Jayapura 1-3 di Stadion Delta, Sidoarjo.

Dari hasil laga itu, Paul Munster pun medapatkan predikat pelatih terbaik pekan ke-27 Liga 1 2019.

Nama Paul Munster memang belum terlalu menggema, namun torehan positif dikit demi sedikit yang diraih Bhayangkara FC menjadikan pelatih 37 tahun itu mulai disegani pelatih lainnya.

Dalam kesempatan ini, Tribunnews mendapatkan kesempatan berbicara langsung dengan Paul Munster. Ia mencurahkan bagaimana ia datang pertama ke Indonesia, memoles Bhayangkara FC hingga sejarah dirinya mendapatkan lisensi UEFA Pro di usianya yang masih terbilang muda.

Berikur petikan wawancara eksklusfi Tribunnews dengan Paul Munster di Stadion PTIK, Jakarta, Kamis (14/11/2019).

Bagaimana awal Anda datang ke Indonesia dan melihat kondisi Bhayangkara FC?

Pertama saya datang ke sini memang ada masalah, kami sebelumya kalah dua kali, dan setelah itu saya masuk, saya buat latihan khusus.

Saya mulai menerapkan sistem yang saya punya. Pertandingan awal kita imbang dari tim kuat di liga ini Bali United, dan setelah itu kami mempersiapkan tim dan dua pertandingan selanjutnya kami dapat hasil bagus.

Saya suka ada di Indonesia, orang-orangnya ramah, makanan, segalanya dan cuaca juga.

Buat saya tidak masalah, tim Bhanyangkara bagus, tim pelatih bagus, kami punya pemain bagus, dan saya pikir ini tidak hanya untuk musim ini tapi bisa saya fokuskan untuk musim depan juga.

Penilaian Anda mengenai kompetisi di Indonesia?

Kompetisinya sangat bagus, dan banyak pemain bagus di sini. Contohnya seperti Ichsan.

Di sini mereka berkompetisi untuk tampil lebih baik, karena ketika kamu main di Bhayangkara kamu akan dapat kesempatan untuk bisa masuk tim nasional.

Apa yang Anda lakukan pertama kali saat melatih Bhayangkara FC?

Ketika saya ke sini saya lihat kondisi fisik pemain sangat menurun.

Pemain tidak fit. Tim tidak seimbang. Tim bermain dengan banyak sistem dan pemain sangat bingung. Jadi setelah itu saya gelar pemusatan latihan, saya mulai terapkan taktik, teknik, mentalitas dan banyak aspek lainnya di dalam training camp.

Dan kasih filosofi saya, sejujurnya mereka mendengarkan saya dan mau balajar sehingga mengerti apa yang saya mau, dan mereka bisa memperlihatkan dalam pertandingan.

Pertandingan terakhir kami ada masalah banyak pemain yang ke timnas, ada beberpa pemain juga yang cedera, itu bukan planning kami di tahun ini.  Tapi mereka mengerti ketika saya lakukan, saya akan membawa tim ini bangkit dan akan sangat kuat di musim yang akan datang.

Dulu Anda sempat menjadi pemain, dan sekarang mejadi pelatih di usia yang terbilang Muda. Bisa Anda ceritakan?

Saya telah melatih ketika berusia 17, 18 tahun di Kanada itu sebelum cedera, saya melatih di kanada dua tahun, melatih pemain muda dan dewasa.

Dan saya selalu melatih pemain muda dan anak-anak. Bahkan anak-anak yang bermain di jalan. Saya berdoa suatu saat bisa menjadi pelatih di sebuah tim.

Situasinya berbeda ketika saya cedera, tapi saya sudah cinta dengan pekerjaan sebagai pelatih, ketika saya bermain di kasta tertinggi di eropa saya punya pelatih bagus. Kemudian saya melihat apa yang dia lakukan, saya banyak belajar dari dia ketika menggelar latihan.

Dan suatu ketika saya turun menjadi pelatih, saya bawa tim divisi empat akademi menang di semua pertandingan, satu tim di divisi tiga itu sangat bagus, divisi satu tiga tahun itu juga bagus, dan setela itu saya dapat linsensi A.

Sebelumnya saya tanggung jawab sebagai manajerial di BK Forward, dan ditunjuk sebagai pelatih kepala tim Orebro SK U-19, dan enam pamain masuk ke tim main di Swedish cup. Dari situ saya selesaikan linsensi Pro saya dan kemudian saya melatih ke India.

Waktu jadi pemain, Anda berprofesi sebagai Striker dan sempat mencatatt beberapa kali Topskor. Apa ada Arahan Khusus saat Anda jadi pelatih untuk striker tim Anda?

Menjadi sorang striker memang tidak mudah, karena striker harus punya taktik untuk memcahkan masalah, dan sekarang ketika saya menjadi pelatih, saya berikan pengalaman saya.

Tapi tidak cuma penyerang di sini saya ajarkan juga untuk pemain bertahan walaupun saya tak pernah menjadi seorang pemain bertahan tapi saya tahu persis bagaimana membuat pertahan ini menjadi lebih kuat, dan menjaga dari terjadinya banyak gol.

Saya ingin punya keseimbangan yang bagus di tim ini. Di sitausi yang banyak, dan saya percaya saya bisa membua tim ini lebih kuat. Seorang pelatih harus berbicara kepada pemain ketika pemain merasa kesulitan, dan mereka harus belajar untuk dapatakan yang lebih baik lagi.

Usia Anda terbilang Muda, 37 tahun sudah dapatkan Lisensi UEFA Pro, bisa diceritakan?

Ya, saya dapatakan lisensi B selama dua tahun di usai 32 tahun, dan setelah itu dua tahun lagi dapat lisensi A usia 34  tahun dan usia 35 tahun saya dapatkan lisensi Pro,. Di antara 18 orang yang ambil kurus, di sana banyak pelatih terbaik, pemain terbaik dan saya dilatih Harry Curley dan Danny MaCarthy,

Mereka mengetahui saya berdasarkan pengalaman saya sebagai pemain dan mereka sudah melihat saya melatih di berbagai tim. Waktu ambil kursus banyak pengalaman bagus yang saya dapatkan. Kami waku itu mengunjungi Manchester City selama satu pekan, kami mengunjungi akademinya juga tim utamanya, kami melihat mereka di Champion League. kami juga ke Swiss untuk mengambil beberapa kursus lagi.

Saya tidak merasa kecil ambil lesensi ini dengan pemain besar lainnya, karena saya cukup percaya diri. Secara keseluruhan itu pengalaman bagus saya, mereka pun tahu sekarang saya ada di Indonesia.

Merka suka mengirimkan pesan ke saya, mereka senang saya ada di sini. Setiap tiga tahun sekali saya harus kembali untuk upgrade kursus selama beberapa kali untuk mengetahui hal baru di sepakbola.

Saya senang dengan keputusan saya untuk memulai melatih dan ambil lisensi ini. Saya telah mengambil isensi tertingi tapi di sepakbola tidak ada kata berhenti untuk belajar, tiap hari saya belajar.

Sangat menyenangkan punya lisensi EUFA Pro. Sangat bangga bisa menyelesailan kursusnya karena saya telah mengorbankan banyak hal selamai enam sampai tujuh tahun, tidak ada libur musim panas. Saya tidak bisa berlibur di periode itu. Ketika ada kursus tiap minggu kita harus menghadirinya saya berkorban banyak tapi jangka panjang saya tahu apa yang saya inginkan .

Pergi ke Swedia melatih selama enam tahun ke india dan Vanuatu dan sekarang ada di sini. Ini semua adalah progres dan juga ambisi saya sebagai pelatih karena saya tahu apa yang saya inginkan, jadi saya akan membangikan apa yang saya punya kepada pemain dan staff di Bhayangkara ini.

Apakah Anda merasa rugi, punya Linsensi UEFA Pro tapi hanya melatih Tim di Indonesia?

Tak menutup kemungkinana ke depan saya dapat melatih di negara-negara besar, tapi Simom dan Yeyen telepon ke saya untuk pekerjaan ini. Saya menginginkan pekerjanan ini karena saya tahu Bhayangkara, dan apa yang Simon lakukan dengan tim dua tahun belakangan ini, saya melakukan riset tetang tim ini dan saya ini langkah yang bagus untuk awal kepelatihan saya.

Saya menyukai negara ini, sepakbola dan juga liganya. Saya bisa beradapatasi dengan cepat di sini

 

Rencana akan berapa lama Anda melatih di Indonesia?

Untuk tahun ini dan musim depan saya masih di sini. Itu yang ada kontrak, tapi jika mereka memungkinkan jangka lama saya juga senang menerima tawaran itu. Selama mungkin yang saya bisa. Karena dalam sepakbola banyak sekali perubahan. Tujuan saya datang ke sini untuk fokus dengan pekerjaan saya dan Bhayangkara.

Menurut Anda yang sudah melihat sepakbola di Benua Eropa, Apa yang kurang di sepakbola Indonesia?

Lapangan di sini masih kurang. Hal ini sangat membuat saya sedikit kesal  ketika belatih lapangan yang tersedian itu cukup jelek. Hal ini tentu saja harus diubah. Fasilitas harus lebih baik ke depan. mudah-mudahan bisa diperbaiki untuk musim selanjutnya

Kalau kamu ingin sepakbola yang baik kamu harus punya fasilitas yang baik juga dan itu sangat penting.

Ketika saya bertanding saya masih punya pertanyaan untuk ofisial pertandingan. Saya mempertanyakan kualitas mereka, saya tanya apa mereka sudah sampai mana kualifikasinya, Apakah mereka ambil kursus tertentu. Dan juga setiap pertandingan kualitas ofisial pertandingan suka buat furstasi pemain dan pelatih karena banyak sekali kesalahan.

Kedua hal itu adalah yang harus diperbaiki untuk saat ini. Di masa depan saya harap bisa merndatangkan banyak pemain berkualitas main di liga ini, karena liga ini punya potensi yang sangat bagus.

Di luar melatih sepakbola, apa hobi Anda?

Hobi saya sepakbola saja, teman-teman banya yang ajak saya main golf tapi saya tidak tertarik.

Saya juga sering nonton pertandingan sepakbola Liga Inggris, Liga Jerman, dan menonton pertandingan tim yang akan jadi lawan tim saya. Kalau saya nonton pertandingan secara lansgung saya akan belajar mengenai hal-hal yang saya dapat di pertandingan itu.

Terakhir, apakah Anda suka makanan Indonesia?

Saya masih belum tahu, tapi saya sudah berkunjung ke resto Jepang yang ada di sini. Saya tidak suka makanan pedas, jadi saya hati-hati kalau makan. Saya waktu di India punya pengalaman buruk, waktu saya makan tapi itu pedas. Setelah itu saya sakit sampai berat badang berkurang 3 kg.

 

Penulis: Abdul Majid
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved