Super Pandit
AS Roma Usung Misi Balas Dendam Tapi Bodo/Glimt Punya Mental Militer yang Sulit Dikalahkan
Jose Mourinho dengan misi balas dendamnya menyambut Bodo/Glimt di Stadion Olimpico jelas tak membuat SuperLaget gentar, mental mereka sudah teruji.
TRIBUNNEWS.COM - AS Roma akan menghadapi Bodo/Glimt pada matchday 4 Liga Konferensi Eropa 2021/2022, pada Jumat, (5/11/2021) dini hari WIB.
Seperti yang kita tahu, di pertemuan sebelumnya, skuat asuhan Jose Mourinho dicukur habis dengan skor 6-1 oleh Bodo/Glimt.
Kekalahan memalukan AS Roma tersebut lantas menjadi pukulan tersendiri untuk Mourinho. Itu menjadi kekalahan terbanyak dia selama menjabat sebagai pelatih profesional.
Baca juga: Berita Milan, Apes Melulu Soal Wasit, Pioli Mengaku Pantas Disalahkan, Skenario Kelolosan Rossoneri
Baca juga: Jurgen Klopp, Sang Juru Selamat Liverpool: The Normal One, Gegenpressing, Pujian Gerrard
Pelatih asal Portugal itupun meminta kepada anak asuhnya untuk melukan kekalahan mereka sebelumnya, misi balas dendam pun terlontar saat dirinya melakukan konferensi pers.
“Kami memiliki enam poin, kami berada dalam situasi yang baik,” kata Mourinho.
“Kita melupakan hasil lawan Bodo kemarin, kami mengumpulkan enam poin di kandang kami, itu bagus,"
“Kami tidak bisa mengatakan bahwa besok sangat menentukan, tapi kami ingin finis pertama di grup dan memenangkan laga," pungkasnya.
Nampaknya, misi balas dendam juru taktik asal Portugal itu tak akan berjalan mulus, tim yang mereka hadapi adalah raksasa di liga domestik.
Bahkan, saat ini mereka berada di puncak klasemen Grup C Europa Conference League dengan torehan tujuh poin.
Ya, tim asal Norwegia ini bukanlah tim sembarangan. saat ini Bodo/Glimt berada di puncak klasemen Liga Norwegia (Eliteserien) dengan kumpulan 54 poin dari 25 pertandingan.
Bahkan, tim berjuluk Superlaget itu juga berstatus sebagai tim tak terkalahkan di liga domestik.
Mereka juga berada di atas tim raksasa Norwegia, Molde yang duduk di posisi kedua dengan torehan 47 poin.
Apalagi, di musim lalu, saat menjadi juara di Eliteserien, Bodo/Glimt berhasil menciptakan sejarah di sana dengan menjadi tim pertama yang mampu mencetak 100 gol lebih di kompetisi domestik.
Juru taktik Bodo/Glimt, Kjetil Knutsen adalah kunci dibalik garangnya penampilan klub berjuluk SeperLaget tersebut.
Ia adalah tipikal pelatih yang menampung segala kritik dan keluhan para pemainnya.
Knutsen tak hanya handal dalam meracik strategi, namun juga dalam hal menginspirasi para pemainnya untuk tampil habis-habisan di lapangan.
Dalam wawancaranya bersama Just Football, ia menjelaskan bahwa memahami kondosi pemain di skuatnya adalah hal penting, hadirnya chemistry antar pemain dan pelatih akan membuat tim menjadi kuat.
"Tak ada tim yang menang ketika hubungan antar pemain tidak bagus, saya tekankan kekompakan pada tim saya," Kata Knutsen.
"Mereka (skuat Bodo/Glimt) terbentuk dari rasa percaya dan chemistry yang terjalin satu sama lain,"
"Pemain saya harus tampil totalitas di lapangan, mereka harus selalu menang dan tidak pernah puas," pungkasnya.
Bisa dibilang Bodo/Glimt adalah tim besar baru di kompetisi Norwegia, mereka baru juara sekali yaitu di musim lalu.
Bahkan di tahun 2017 mereka masih berada di kasta kedua liga Norwegia yang bernama 1 Divisjon.
Barulah di tahun 2018 mereka berhasil promosi ke liga teratas Norwegia dan langsung menjadi juara di musim setelahnya.
Seperti kisah Leicester City di Inggris, Bodo/Glimt adalah tim kuda hitam yang berubah menjadi tim raksasa yang difavoritkan untuk menjadi juara di musim ke musim.
Padahal, skuat Bodo/Glimt banyak dihuni oleh pemain-pemain lokal yang tinggal di daerah kota Bodo, Norwegia.
SuperLaget menyediakan slot kurang lebih 40 % dari total skuat untuk diberikan kepada pemain lokal di kota Bodo.
Dan kebijakan yang dilakukan oleh pihak klub terbukti sukses, merek berhasil menerbitkan pemain lokal mentereng seperti Brede Moe, Patrick Berg, Erik Botheim, dan Jens Petter Hauge.
Nama yang disebutkan terakhir adalah eks punggawa AC Milan yang kini bermain untuk tim Bundesliga Jerman, Eintracht Frankfurt.
Menjadi tim besar baru di kompetisi domestik di Norwegia, memang tak membuat mental mereka kendor saat bermain di kompetisi kontinental.
Adalah Mannsverk, seorang mantan pilot perang Norwegia yang ditunjuk menjadi pelatih mental Superlaget.
Ia bekerja untuk Bodo/Glimt sejak tahun 2017, tugasnya adalah membentuk mental para pemain lewat pengalaman militernya.
Jadi tak heran mengapa para punggawa Bodo/Glimt mampu menunjukkan mental juara di setiap kompetisi yang mereka jalani.
Menjadi tim promosi di Liga Norwegia tak membuat penampilan mereka kendor, justru mampu menjadi juara di musim selanjutnya.
Bahkan, mereka mampu meneruskan trend positif dengan berada di puncak klasemen Liga Norwegia musim ini dan menjadi calon terkuat untuk membawa pulang trofi kedua kalinya secara beruntun.
Menjadi tim debutan di Europa Conference League juga tak membuat mereka berkeringat dingin.
Justru sebaliknya, Bodo/Glimt mampu membantai tim sekelas AS Roma dengan skor 6-1, mereka juga berada di puncak klasemen Grup C dengan torehan 7 poin.
Penampilan legit mereka di Europa Conference League serta keberhasilannya menghancurkan skuat Jose Mourinho bukanlah kebetulan semata.
Skuat asuhan Kjetil Knutsen memang memiliki kualitas, Bodo/Glimt adalah klub raksasa baru di Norwegia yang terbentuk dari chemistry kuat antar pemain dan pelatih, serta mental baja yang digodok oleh seorang mantan pilot perang.
Jose Mourinho dengan misi balas dendamnya menyambut Bodo/Glimt di Stadion Olimpico jelas tak membuat SuperLaget gentar, mental mereka sudah teruji.
Pasukan Knutsen datang ke Roma dengan kepala tegak, notaben tim raksasa Norwegia, pemuncak Grup C, dan sang pembantai Giallarossi melekat pada Bodo/Glimt.
(Tribunnews.com/Deivor)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/selebrasi-para-pemain-bodoglimt-usai-cetak-gol-ke-gawang-as-roma.jpg)