Jumat, 29 Agustus 2025

Super Pandit

Gairah 4-3-3 Maurizio Sarri Bersama Lazio, Kandaskan AS Roma & Inter Milan, Juventus Selanjutnya?

Skema 4-3-3 ala Sarri atau biasa disebut Sarriball, memberi kepercayaan diri untuk membuktikan prinsip pertahanan terbaik adalah menyerang.

Penulis: deivor ismanto
Editor: Dwi Setiawan
Vincenzo PINTO / AFP
Penyerang Lazio asal Spanyol Pedro Rodriguez Ledesma (tengah) melakukan selebrasi dengan pelatih Lazio Italia Maurizio Sarri setelah mencetak gol dalam pertandingan sepak bola Serie A Italia Lazio vs AS Roma di stadion Olimpiade di Roma pada 26 September 2021. 

TRIBUNNEWS.COM - Lazio akan ditantang tamunya dari kota Turin, Juventus dalam lanjutan Liga Italia giornata ke-13 pada (21/11/2021).

Tim asuhan Maurizio Sarri tersebut dikenal sebagai pengandas perlawanan tim besar Liga Italia. Terakhir, Inter Milan mampu mereka kalahkan dengan skor meyakinkan 3-1.

Saat itu, gol-gol Lazio berhasil disumbangkan oleh Ciro Immoblie, Felipe Anderson, dan Sergej Milinkovic-Savic.

Baca juga: Kiat Kebangkitan Juventus, Sulap Pesakitan Dybala, Transformasi Posisi Chiesa & Tiru Tuah AC Milan

Baca juga: Kabar Bahagia bagi Milanisti, Zlatan Ibrahimovic Siap Tambah Masa Bakti bersama AC Milan

Tim asuhan Maurizio Sarri tampil dominan dengan catatan penguasaan bola sebanyak 52%.

Mereka juga begitu agresif menyerang pertahanan Inter dengan menorehkan 8 shot on target.

Skema 4-3-3 milik Sarri begitu moncer, total 565 passing dengan statistik akurasi umpan mencapai 92%.

Sang juara bertahan dibuat tunduk atas permainan cantik Biancocelesti.

Laga melawan Juventus akan menjadi momentum bagi Lazio untuk meraih tiga poin dan membuka peluang Scudetto mereka.

Saat ini Biancocelesti masih bertengger di posisi kelima klasemen Liga Italia dengan torehan 21 poin dari 12 pertandingan.

Melawan tim sekaliber Juventus yang saat ini masih terseok-seok di Liga Italia tentunya membuat kans Sarri untuk memenangkan pertandingan semakin terbuka.

Skema 4-3-3 ala Sarri atau biasa disebut Sarriball, memberi kepercayaan diri untuk membuktikan prinsip pertahanan terbaik adalah menyerang.

Untuk mewujudkan ambisinya, eks pelatih Chelsea tersebut membutuhkan tim yang banyak dan kuat dalam hal menguasai bola.

Itulah yang menjadi alasan, tiap klub yang dilatih Sarri akan banyak melakukan pergerakan tanpa bola saat melakukan serangan.

Hal tersebut berguna dalam memecah konsetrasi lawan sekaligus menciptakan banyak ruang untuk semakin banyak menguasai pertandingan.

Dengan begitu, Sarri membutuhkan gelandang cerdas yang memiliki visi bermain dan ketangguhan saat memegang bola.

Pun dengan full back yang dimiliki, full back dengan tipikal menyerang dan memiliki kemampuan dribel mumpuni adalah yang dibutuhkan Sarri.

Ketika di Chelsea misalnya, ia rela 'menenteng' Jorginho untuk ikut bersamanya pindah ke Stamford Bridge, padahal sang pemain mengaku nyaman berada di Napoli.

Jorginho yang memang memiliki atribusi kecerdasaan dan visi bermain yang tinggi membuat Sarri begitu mengandalkannya.

Lalu, Marcos Alonso, sebagai bek kiri Alonso yang memiliki kemampuan dalam hal dribel bola dibuatnya lebih banyak bergerak ke depan, bahkan menuju kotak penalti.

Hal tersebut bertujuan untuk membuat timnya unggul di sepertiga akhir serangan, Alonso diharapkan mampu merepotkan pertahanan lawan dengan atribusinya tersebut.

Di Lazio, Sarri merombak skema 3-5-2 peninggalan Simone Inzaghi menjadi 4-3-3 favoritnya.

Lazio peninggalan Inzaghi memiliki bek tangguh yang begitu kuat dan cerdas dalam mengalirkan bola.

Biancocelesti diperkuat Francesco Acerbi yang memiliki atribusi kecerdasan, kekuatan fisik, dan akurasi passing yang istimewa.

Bek Lazio Italia Francesco Acerbi (kiri) bersaing dengan penyerang Kroasia AC Milan Mario Mandzukic selama pertandingan sepak bola Serie A Italia Lazio vs Ac Milan di Stadion Olimpiade di Roma pada 26 April 2021.
Filippo MONTEFORTE / AFP
Bek Lazio Italia Francesco Acerbi (kiri) bersaing dengan penyerang Kroasia AC Milan Mario Mandzukic selama pertandingan sepak bola Serie A Italia Lazio vs Ac Milan di Stadion Olimpiade di Roma pada 26 April 2021. Filippo MONTEFORTE / AFP (Filippo MONTEFORTE / AFP)

Baca juga: Momentum Kebangkitan MU, Skema Tiga Bek Solskjaer, Posisi Baru Sancho, dan Kesempatan van de Beek

Baca juga: Antoine Griezmann Jadi Penonton Saat Atletico Madrid Ladeni AC Milan

Ia adalah seorang ball-playing defender yang bisa membuat Sarri mampu mempraktikan Sarriball-nya dengan nyaman.

Di posisi full back Sarri memiliki seorang Elsaid Hysaj yang pernah dilatihnya saat masih menjabat sebagai manajer Napoli.

Hysaj memang tak terlalu cepat, namun ia memiliki kemampanan dalam hal menguasai bola, catatan successful dribble Hysaj berada di rasio 69.4% per pertandingan.

Lalu di posisi yang paling penting, yaitu gelandang, Sarri memiliki seorang Sergej Milinkovic-Savic.

Jika Jorginho adalah pemain yang memiliki kecerdasan tinggi, Savic adalah gabungan dari kecerdasaan, etos kerja, dan naluri mencetak gol.

Musim ini saja, pemain berusia 26 tahun tersebut telah menyumbangkan 3 gol dan 4 assist untuk Biancocelesti, termasuk 1 golnya ke gawang Inter Milan.

Ia adalah salah satu gelandang terbaik di dunia dengan kemampuan bertahan dan menyerang yang seimbang.

Catatan xA pemain berpostur 195 cm tersebut adalah 1.9, sedangkan xG juga mencolok, yaitu 1.13.

Tak heran mengapa sang gelandang mampu memberi kontribusi gol untuk tim yang bermakas di Stadion Olimpico tersebut.

Itu dalam urusan menyerang, bagaimana dalam bertahan?

Savic memiliki kondisi fisik yang prima, selain jarang cedera, ia kuat dalam hal berduel dengan para gelandang ataupun penyerang lawan.

Catatan duels won-nya berada di angka 3.12 per pertandingan, tertinggi di Serie A.

Gelandang andalan Lazio, Sergij Milinkovic-Savic
Gelandang andalan Lazio, Sergij Milinkovic-Savic (instagram/sergej_21)

Catatan pressures-nya juga mencolok yaitu di angka 17.12 per pertandingan.

Savic adalah gelandang terlengkap di eropa, tak heran mengapa tim-tim Liga Inggris begitu ngebet mendapatkan tanda tangannya.

Sarri tahu betul dalam urusan memanfaatkan kemampuan Savic, bermain dengan 4-3-3 Savic menjadi anchor yang tak melulu berada di depan dua bek tengah.

Ia juga diberi peran untuk merangsek ke dalam kotak penalti jika memenumkan celah.

posturnya yang tinggi menjulang serta insting mencetak golnya membuat savic seringkali mampu merobek jala gawang lawan lewat sundulan ataupun tendangan terukur.

Dalam urusan mencetak gol, Sarri jelas mempercayakannya kepada penyerang haus gol asal Italia, Ciro Immobille.

Musim ini, Immobile berada di puncak daftar top skor Serie A dengan torehan 10 gol, ia berada di atas duet maut Inter Milan, Edin Dzeko dan Lautaro Martinez.

Immobille diapit oleh dua winger cepat, yaitu Pedro dan si anak hilang yang telah kembali, Felipe Anderson.

Nama yang disebutkan kedua, mampu dibuat Sarri kembali menunjukkan tajinya setelah hanya menjadi pemanis bangku cadangan untuk West Ham dan FC Porto.

Kepulangan winger asal Brasil tersebut membuat serangan Sarri dari sisi sayap menjadi lebih rancak.

Jika sebelumnya Felipe merupakan inverted winger, ia diberi peran yang berbeda oleh Sarri dengan menjadi winger kanan yang banyak bergerak lebih melebar.

Perannya fokus untuk membuat lawan kelimpuangan lewat kemampuan dribel dan skill olah bolanya.

Hal tersebut terbukti ampuh, dribbles completed Felipe berada di angka 2.18 per pertandingan, masuk 5 besar di Serie A musim ini.

Memang Lazio musim ini belum tampil konsisten, namun dari segi permainan, mereka menunjukkan peningkatan.

Pelatih Lazio, Maurizio Sarri mengangkat seekor burung elang hidup yang menjadi logo kebanggaan klub seusai menang dalam Derby della Capitale melawan AS Roma di Stadion Olimpico, Roma, Italia, Senin (27/9/2021) dini hari. Duel Lazio vs AS Roma berakhir dengan skor 3-2.
Pelatih Lazio, Maurizio Sarri mengangkat seekor burung elang hidup yang menjadi logo kebanggaan klub seusai menang dalam Derby della Capitale melawan AS Roma di Stadion Olimpico, Roma, Italia, Senin (27/9/2021) dini hari. Duel Lazio vs AS Roma berakhir dengan skor 3-2. (wsforwp)

Dua kali bertemu dua tim raksasa Italia, dua kali juga Lazio mampu memenangkannya dengan meyakinkan.

Sebelum Inter Milan, AS Roma yang saat itu sedang bagus-bagusnya bersama Jose Mourinho mampu mereka kalahkan dengan skor 3-2.

Kini, pandangan Biancocelesti tertuju pada Juventus, bukan tak mungkin Si Nyonya Tua akan menjadi korban ketiga dari keganasan Lazio dalam menghadapi tim dengan nama besar.

Meski harus tampil tanpa top skor mereka, Immobile karena cedera, Sarri tentunya memiliki plan B yang sudah ia siapkan dengan matang.

Wonderkid mereka yang masih berumur 18 tahun, Raul Moro nampaknya akan disipkan sebagai pengganti Immobile dalam urusan menjebol gawang lawan.

(Tribunnews.com/Deivor)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
1
Inter Milan
1
1
0
0
5
0
5
3
2
Napoli
1
1
0
0
2
0
2
3
2
Como
1
1
0
0
2
0
2
3
2
Juventus
1
1
0
0
2
0
2
3
5
Cremonese
1
1
0
0
2
1
1
3
© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan