Jumat, 5 Juni 2026

Selebrasi Lokal

Visi 100 Tahun yang Mengubah Jepang, Mampukah Samurai Biru Menembus Perempat Final Piala Dunia 2026?

Dari liga amatir ke target juara dunia 2050, seberapa jauh Jepang mampu melangkah di Piala Dunia 2026?"

Tayang:
Tribun Jateng/Franciskus Ariel Setiaputra
JERSEY ORI - Salah satu Jersey away Tim Nasional Jepang terpampang di salah satu outlet olahraga di DP Mall Semarang Sport Direct, Kamis (28/5/2026). - Dari liga amatir ke target juara dunia 2050, seberapa jauh Jepang mampu melangkah di Piala Dunia 2026?" 
Ringkasan Berita:
  • Jepang bertransformasi dari liga amatir menjadi kekuatan Asia lewat J-League dan visi 100 tahun JFA. Kini rutin tampil di Piala Dunia dan mempercepat target juara dunia ke 2050.
  • Krisis 1997 justru memperkuat fondasi sepak bola Jepang melalui akar rumput, akademi, dan profesionalisasi klub, yang melahirkan banyak pemain abroad.
  • Di Piala Dunia 2026, Jepang diprediksi bersaing kuat namun masih punya PR kreativitas individu untuk menembus semifinal.

 

TRIBUNNEWS.COM - Tiga puluh lima tahun yang lalu pada 1991, sepak bola Jepang mungkin berada di titik terendahnya. 

Liga utama mereka dimainkan oleh para pemain amatir, dan ketika itu Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) sadar harus melakukan sesuatu untuk mengubah sepak bola tim berjuluk Samurai Biru.

Dua tahun berselang, J League lahir pada Mei 1993, kompetisi profesional sepak bola Jepang yang kini telah berkembang menjadi salah satu yang terbaik di Asia.

Jepang bermimpi memiliki liga yang sukses dan berkelanjutan, liga yang bisa dibanggakan dengan memiliki 100 klub profesional, dan terakhir memenangkan Piala Dunia pada tahun 2092.

Semua itu adalah bagian dari visi jangka panjang 100 tahun yang disusun dalam buku biru JFA.

Pada saat kompetisi profesional belum dimulai, Jepang berada di bawah peringkat 40 ranking FIFA dan jumlah penonton pertandingan domestik yang sedikit menyusul dengan kondisi stadion yang kurang memadai.

Tiga tahun setelah J League bergulir, perubahan mulai tampak. Posisi Jepang di ranking FIFA membaik dengan menempati urutan ke-21 dan adanya peningkatan dalam jumlah penonton mingguan dari kompetisi domestik, menurut catatan These Football Times.

Semuanya berjalan ke arah yang benar. Tapi, pada tahun 1997 saat krisis ekonomi melanda negara Matahari Terbit, semuanya berjalan mundur ke arah yang tidak terduga.

Para investor mundur, sejumlah tim papan atas terancam bangkrut. Hal itu menyebabkan J League harus memiliki rencana jangka pendek dan jangka panjang untuk masa depan sepak bola Jepang.

Di sinilah rencana 100 tahun itu terungkap, dengan tujuan menandai peringatan seratus tahun J League dengan sistem liga yang terdiri dari seratus peserta profesional.

JERSEY ORI - Salah satu Jersey away Tim Nasional Jepang terpampang di salah satu outlet olahraga di DP Mall Semarang Sport Direct, Kamis (28/5/2026). Jersey Timnas away Jepang tersebut menjadi salah satu favorit paling dicari pecinta sepakbola jelang gelaran Piala Dunia 2026
JERSEY ORI - Salah satu Jersey away Tim Nasional Jepang terpampang di salah satu outlet olahraga di DP Mall Semarang Sport Direct, Kamis (28/5/2026). Jersey Timnas away Jepang tersebut menjadi salah satu favorit paling dicari pecinta sepakbola jelang gelaran Piala Dunia 2026 (Tribun Jateng/Franciskus Ariel Setiaputra)

Para petinggi pun bersiap menghadapi bencana ekonomi yang akan datang dikemudian hari, mereka terjun ke komunitas-komunitas di sekitar mereka, membentuk kemitraan dengan perusahaan-perusahaan kecil lokal, serta akademi-akademi tingkat akar rumput.

Tujuannya untuk mempromosikan olahraga kepada anak-anak muda dan mendorong partisipasi serta meningkatkan jumlah penonton.

Pada saat itu, kasta tertinggi sepak bola Jepang hanya diikuti oleh 16 klub, kasta kedua 10 klub. Tapi kini, J1 sudah diikuti 18 klub dan J2 memiliki 22 klub, sebuah peningkatan yang terukur.

Pada fase itu juga, Jepang menandai sejarah mereka untuk tampil di Piala Dunia, tahun 1998 di Prancis meski tersingkir di fase grup.

Dan perlu diketahui, tidak ada satu pun pemain abroad (yang bermain di luar negeri) Jepang ketika itu.

Tapi, perlahan namun pasti, Jepang melangkah dari tangga ke tangga. Hala rintang bukan menjadi kendala untuk berkembang.

Salah satu indikator keberhasilan sistem sepak bola Jepang adalah meningkatnya jumlah pemain yang berkarier di luar negeri. Jika pada Piala Dunia 1998 tidak ada satu pun pemain abroad, kini mayoritas skuad Samurai Biru bermain di liga-liga top dunia.

Tren tersebut berbanding lurus dengan peningkatan performa Jepang di Piala Dunia yang secara konsisten lolos dari fase grup dan mampu bersaing melawan tim-tim elite dunia.

Pada tahun 2002 dan 2010, Jepang diperkuat sekitar 4 pemain abroad. Jumlah itu meningkat pada 2018 saat diperkuat 16 pemain abroad.

Di Piala Dunia 2022 Qatar, 19 dari 26 pemain Jepang merupakan pemain yang bermain di luar negeri, dan hasilnya mereka mampu mengimbangi Kroasia (babak 16 besar) yang kemudian berhasil melenggang ke babak final.

Kini, di Piala Dunia 2026 Amerika Utara, Jepang hanya diperkuat tiga pemain domestik, dan sisa 23 pemain lainnya berkarier di luar negeri.

Sebuah peningkatan dari masa ke masa yang bisa menandai sejarah tim Samurai Biru dalam helatan sepak bola paling akbar di dunia.

Selama perjalanannya, Jepang berhasil mengalahkan Jerman dan Spanyol di Piala Dunia 2022, lalu Brasil, Inggris, dan Skotlandia dalam pertandingan yang memukau.

Raksasa tertinggi sepak bola Asia itu telah menunjukkan bahwa mereka bukan lagi tim kuda hitam, medioker, atau hanya pelengkap di Piala Dunia, tetapi salah satu tim yang patut diperhitungkan dengan segala kemajuan yang telah ditunjukkan.

Dan perlu diketahui, visi yang sebelumnya ditarget oleh JFA untuk juara Piala Dunia selama 100 tahun ke depan telah meningkat dengan menitik target pada tahun 2050, setelah dua kali tampil di Piala Dunia serta peningkatan di berbagai levek usia.

Keberhasilan sistem pembinaan Jepang juga terlihat di level usia muda. Tim U-23 Jepang mencapai perempat final Olimpiade Paris 2024, menyusul pencapaian serupa yang diraih tim putri senior yang menjadi salah satu indikator perkembangan sepak bola Jepang.

Tantangan untuk Piala Dunia 2026

Meski mengalami kemajuan pesat, Jepang masih dinilai menghadapi tantangan dalam menembus level elite dunia. Sejumlah pengamat menilai kreativitas individu pemain dan kemampuan memecah kebuntuan saat menghadapi lawan bertahan masih menjadi pekerjaan rumah bagi Samurai Biru.

Menurut ESPN, hambatan terbesar bagi Jepang untuk melangkah ke tahap selanjutnya adalah diri mereka sendiri.

Kritik yang paling sering dilayangkan kepada sang pelatih, Hajime Moriyasu anggapan bahwa ia terlalu berhati-hati ketika taruhannya tinggi.

Jepang mungkin bisa mengalahkan Jerman, Spanyol, dan Inggris ketika memanfaatkan momentum, tetapi mereka gagal menaklukkan Kosta Rika yang bermain dalam saat bertahan. Dan ketika mendapat serangan mengejutkan mereka kewalahan.

Pengamat sepak bola asal Semarang, Gigih Windar mengungkap pendapatnya soal reliabilitas yang tidak dimiliki oleh Jepang besutan Moriyasu.

Para pemain Jepang terlalu terpaku, dan mereka menuruti segala apa yang diinstruksikan oleh Moriyasu, tetapi mereka lupa melakukan inisiatif untuk memecah kebuntuan.

"Taktikalnya Hajime Moriyasu itu selalu jalan. Tidak pernah namanya taktiknya diimplementasikan secara salah. Namun ketika lawan bermain bertahan (seperti lawan Kosta Rika), mereka kesulitan untuk memecah kebuntuan," beber Gigih saat dikonfirmasi Tribunnews, Rabu (3/6/2026).

Pria yang kini menetap di kota Bengawan itu memprediksikan, Jepang dapat melaju dari fase gugur, namun tidak sampai semifinal.

Jika berhasil mencapai babak perempat final, itu akan menjadi catatan bersejarah untuk pertama kalinya bagi tim Samurai Biru.

"Semifinal belum. Kalau pertandingan 2022 mereka bisa kalahkan Jerman dan Spanyol, tetapi mereka kalah dari Kosta Rika."

"Negara kecil. Kalau tidak salah ingat, Kosta Rika itu juga tidak banyak percobaan ke gawang Jepang, tapi efektif. Ketika mereka bermain bertahan, Jepang tidak mengerti bagaimana memecahnya."

"Karena tidak ada satu pun sosok pemain yang bisa beri inisiatif untuk coba serang ke sini, serang ke sana. Tidak ada. Semuanya berdasarkan taktik arahan Hajime Moriyasu. Karakternya Jepang di situ," tutupnya.

Di Piala Dunia 2026, Jepang akan mengawali langkah melawan Belanda, lalu Tunisia, dan ditutup dengan pertandingan menghadapi Swedia.

(Tribunnews.com/Sina)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
1
Arsenal
38
26
7
5
71
27
44
85
2
Man. City
38
23
9
6
77
35
42
78
3
Manchester United
38
20
11
7
69
50
19
71
4
Aston Villa
38
19
8
11
56
49
7
65
5
Liverpool
38
17
9
12
63
53
10
60
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved