GO-JEK Tegaskan Tak Ada Kebijakan Pemutihan Massal Akun Eks-Mitra Driver

GO-JEK Indonesia Michael Reza Say meluruskan kabar adanya kabar open suspend atau yang lebih sering dikenal dengan pemutihan akun secara massal.

TRIBUN/HO
Chief Marketing Funding Officer Rumah Zakat Irvan Nugraha, Corporate Alliances Officer UNICEF Gibthi Ihda Suryani, VP Corporate Communication GO-JEK Michael Say, Managing Director Indonesia Mengajar Haiva Muzdaliva, Kepala Divisi Retail Nasional BAZNAS Fitriansyah Agus Setiawan, dan CO Founder WeCare.id Gigih Septianto berbincang dalam acara penyerahan secara simbolis donasi yang terkumpul selama Ramadhan melalui GO-TIX dalam program #CariPahala GO-JEK di Jakarta, Selasa (3/7/2018). TRIBUNNEWS/HO 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - VP Corporate Affairs GO-JEK Indonesia Michael Reza Say meluruskan kabar adanya kabar open suspend atau yang lebih sering dikenal dengan pemutihan akun secara massal.

Dia menegaskan kabar itu hoax alias palsu. Michael menyayangkan beredarnya kabar tersebut karena meresahkan mitra driver aktif.

"Open suspend massal berseberangan dengan apa yang menjadi salah satu prioritas GO-JEK yakni memberikan layanan yang aman dan nyaman kepada para pengguna. Selain itu, hal ini akan merugikan para mitra aktif kami yang sudah bekerja keras untuk menjaga kualitas pelayanan kepada pelanggan," katanya dalam keterangan tertulis.

Saat ini GO-JEK, sambung dia. sedang memprioritaskan perbaikan kebijakan sistem suspensi. Caranya dengan sesi menggelar pertemua dengan mitra secara berkala.

Baca: Massa Ojek Online Geruduk Kantor GO-JEK demi Ucapkan Selamat Ultah

Dalam sesi itu, dibahas seputar kebijakan suspensi sehingga apat lebih mudah dipahami dan terkomunikasikan dengan baik demi menjaga kualitas layanan GO-JEK.

Penjelasan itu pun juga disampaikan secara langsung kepada berbagai perwakilan eks mitra driver.

"Kami rutin berdiskusi dengan lebih dari 3,000 komunitas mitra driver aktif," tegas Michael.

Secara khusus Michael menyoroti ada pihak-pihak yang mengatasnamakan diri sebagai koordinator open suspend dan kerap meminta masyarakat untuk membagikan informasi data pribadi.

Ini tentunya mengundang risiko penyalahgunaan. "Kami ingin menghimbau masyarakat agar memperhatikan sumber-sumber informasi resmi serta berhati-hati ketika membagikan data pribadi mereka," tukasnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved