Breaking News:

Professtama dan Red Piranha Berikan Edukasi dan Solusi Keamanan Siber dari Australia

Seminar dan workshop ini merupakan salah satu upaya Professtama untuk meningkatkan keamanan siber di Indonesia.

ist
Dr Sanny Suharli, Founder & Chairman PT. Professtama Teknik Cemerlang (kanan) dan Richard Baker, Director of Red Piranha (kiri), bersama Allaster Cox, Charge d’Affairs, Australian Embassy (tengah) menghadirkan First Australian Unified Threat Management Solution di The Ritz-Carlton Mega Kuningan pada 27 Februari 2019. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Professtama Teknik Cemerlang (Professtama), perusahaan solusi teknologi sekuriti dan Red Piranha, perusahaan keamanan siber asal Australia memberikan edukasi dan solusi keamanan siber kepada BUMN dan korporasi lewat Seminar & Workshop First Australian Unified Threat Management Solution pada 27 dan 28 Februari 2019.

Founder & Chairman, Professtama Teknik Cemerlang Sanny Suharli, mengungkapkan menurut Global Cybersecurity Index (GCI) dari International Telecommunications Union (ITU) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Indonesia menempati urutan ke-70, atau masih berada pada level maturing, sementara Australia pada level leading.

Seminar dan workshop ini merupakan salah satu upaya Professtama untuk meningkatkan keamanan siber di Indonesia.

“Memiliki pengalaman selama 34 tahun dalam menyediakan solusi teknologi sekuriti berkualitas terbaik dunia di tanah air, Professtama telah menjual lebih dari satu juta CCTV di Indonesia. Pada kuartal I 2019, kami akan merambah segmen teknologi keamanan siber dengan memperkenalkan produk Crystal Eye, Unified Threat Management (UTM) dari Red Piranha,” kata Sanny Suharli, dalam keterangan tertulis, Jumat (1/3/2019).

Sementara itu, Direktur Red Piranha Richard Baker, menuturkan potensi kerugian akibat ancaman siber begitu besar. Insiden siber dan interupsi bisnis menempati posisi pertama dan kedua dengan takaran yang sama (37%) dalam Top 10 Global Business Risks berdasarkan Allianz Risk Barometer tahun 2019.

Red Piranha melihat secara global peretasan informasi (data breaches) menimbulkan kerugian sebesar Rp 20,4 miliar hingga Rp 52,7 miliar per kasus.

Dengan total kerugian akibat ancaman siber pada tahun 2019 diperkirakan berkisar sebesar 2 triliun dolar Australia hingga 4 triliun dolar Australia. Dalam lima tahun ke depan, angka kerugian ini diperkirakan dapat mencapai lebih dari 8 triliun dolar Australia.

Richard baker mengatakan, perkembangan ancaman siber yang semakin kompleks, menjadikan salah satu tantangan terbesar adalah kebutuhan akan keamanan siber.

Mengingat besarnya biaya yang diperlukan terkadang menjadi hambatan, korporasi seringkali mengabaikan betapa pentingnya proteksi yang kuat terhadap ancaman keamanan siber.

Kerja sama Red Piranha dengan Professtama memungkinkan setiap UKM, korporasi, BUMN dan Managed Service Provider di Indonesia untuk memiliki salah satu solusi keamanan siber terbaik dari Australia dengan harga yang terjangkau lewat produk unggulan, Crystal Eye.

"Crystal Eye merupakan Unified Thread Management (UTM) pertama asal Australia yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan UKM maupun korporasi, dan merupakan salah satu UTM terkuat di kelasnya,” ujar Richard Baker.

Baca: Tiga Pekerja Fasilitas Nuklir Australia Terkena Tumpahan Bahan Kimia

Adapun, Crystal Eye mengedepankan sistem pertahanan berlapis. Platform UTM lengkap Crystal Eye dilengkapi dengan Next Generation Firewall (NGFW), intelijen pendeteksi ancaman aktif, serta penyimpanan logaritma jangka panjang hingga 20 terabyte.

Sistem intelijen pendeteksi ancaman aktif Crystal Eye mampu memproses lebih dari 14 juta indikator ancaman (IOC) per hari, dengan kemampuan analisa dan visibilitas aktual yang memungkinkan penanganan ancaman secara otomatis.

Penulis: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved