Pemindahan Ibu Kota Negara

Empat Rekomendasi Teknologi Keamanan Canggih untuk Ibu Kota Baru dari ATISI

Berikut adalah empat rekomendasi teknologi sekuriti untuk ibu kota baru dari ATISI dan para pelaku industri teknologi sekuriti di Indonesia:

Empat Rekomendasi Teknologi Keamanan Canggih untuk Ibu Kota Baru dari ATISI
TRIBUN KALTIM/FACHMI RACHMAN
Suasana salah satu sudut Tahura Bukit Soeharto Kelurahan Bukit Merdeka, Kecamatan Samboja, Kukar, Rabu (31/7). Lokasi yang berdekatan proyek jalan tol Seksi 2 Balikpapan Samarinda di KM 45 ini pernah ditinjau Presiden Joko Widodo saat mencari kandidat ibu kota baru. Di kawasan ini juga ditemui beberapa penanda geospasial dari Badan Informasi Geospasial RI. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Teknologi dan Industri Sekuriti Indonesia (ATISI) bersama PT. Professtama Teknik Cemerlang (Professtama), perusahaan solusi teknologi sekuriti menyeluruh  di Indonesia, menyampaikan dukungan dan rekomendasi teknologi sekuriti terkait dengan rencana pembangunan ibu kota baru Republik Indonesia.

Dr Sanny Suharli, Ketua Umum ATISI mengatakan, pihaknya ikut mendukung pembangunan ibu kota baru.

"Aset dan infrastruktur strategis adalah sasaran utama penyadapan dan pencurian data, sehingga ibu kota baru tentu perlu memiliki teknologi keamanan mutakhir. Apalagi, peningkatan keamanan siber adalah salah satu dari 25 program prioritas rencana kerja pemerintah RI tahun 2020,” kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (8/8/2019).

Adapun Irwandi Salim, Presiden Direktur PT Professtama Teknik Cemerlang mengungkapkan, Ibu kota baru nanti tentu harus dilengkapi dengan teknologi keamanan canggih dan sesuai dengan konsep yang saat ini direncanakan, yakni 'forest city'.

“Professtama siap mendukung pembangunan ibu kota baru sesuai dengan kapabilitas dan keahlian kami selama lebih dari 35 tahun di industri teknologi sekuriti,” kata dia.

Berikut adalah empat rekomendasi teknologi sekuriti untuk ibu kota baru dari ATISI dan para pelaku industri teknologi sekuriti di Indonesia:

1) Anti Penyadapan dan Pencurian Data

Dr Sanny Suharli menegaskan teknologi anti penyadapan dan pencurian data mutlak harus ada dalam sistem keamanan ibu kota baru, khususnya dalam hal pertahanan terhadap celah keamanan (backdoor code).

Mengingat dengan backdoor code, akses ke CCTV dapat diretas tanpa perlu mengetahui kata sandi, sehingga rentan pencurian rekam data denah ruangan maupun aktivitas di infrastruktur strategis.

2) Sistem Keamanan Berlapis

Richard Baker, Director of Red Piranha, menyatakan ibu kota baru wajib memiliki sistem pertahanan keamanan siber berlapis, yang memiliki Next Generation Firewall (NGFW), penyimpanan logaritma jangka panjang, sistem intelijen pendeteksi ancaman aktif, kemampuan analisa dan visibilitas aktual, serta penanganan ancaman secara otomatis.

Seperti Crystal Eye, Unified Threat Management (UTM) dari perusahaan keamanan siber asal Australia, Red Piranha.

3) Jumlah dan Teknologi CCTV

Irwandi Salim menjelaskan idealnya perlu 100 CCTV per 1 kilometer persegi di ibu kota baru. Kemudian, ibu kota baru yang memiliki konsep forest city baiknya memakai teknologi kamera CCTV 360 derajat dengan fitur thermal dan nightvision.

Juga ada fitur anti korosi dan anti ledakan. Hal ini agar bisa mendeteksi dengan komprehensif dalam gelap, sensitif terhadap perubahan suhu untuk pencegahan kebakaran, dan tahan bencana.

4) Face Recognition dan Artificial intelligence

Scottie Kim, CEO Jisung Protech, menerangkan perlu ada teknologi face recognition dan artificial intelligence, yang mampu mendeteksi wajah dan mencocokkan dengan database pelaku kejahatan secara akurat. Seperti teknologi Helios dari Jisung Protech, yang mampu melakukannya hanya dalam 3 detik. Jisung Protech memang memiliki teknologi keamanan andal dari Korea Selatan dengan standar militer untuk melindungi infrastruktur strategis.

Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved