Rudiantara: Indonesia Butuh 9 Juta Digital Talent hingga 2030

Menurut Rudiantara, Indonesia masih butuh lebih kurang sembilan juta digital talent atau tenaga kerja digital dari target di tahun 2030.

Rudiantara: Indonesia Butuh 9 Juta Digital Talent hingga 2030
IST/Bekraf
Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif Hari Santosa Sungkari saat berbicara di Konferensi Pers “Indonesia Menuju Startup Ekosistem Global” di Kantor Bekraf, Gedung Kementerian BUMN Lantai 15, Kamis 8/8/2019. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM,. JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara  menjelaskan saat ini Indonesia berada dalam masa pertumbuhan teknologi.

Perusahaan rintisan (start-up) milik anak bangsa bahkan mampu bersanding dengan kompetitor dunia.

Dia menyebut Tokopedia yang kini mencatat nilai total transaksi atau Gross Merchandise Value (GMV) sebesar Rp 18,5 triliun, sedangkan Gojek memberi kontribusi Rp 44 triliun pada ekonomi Indonesia.

“Itu semua karena mereka memanfaatkan digital. Tapi kita jangan mendewakan teknologi lah. Technology is nothing, yang kita perlukan adalah memperbaiki pola pikir mindset kita dan bagaimana cara mencari gagasan baru. Demikian juga pemerintah, jadi bukan teknologi yang merubah, teknologi menciptakan cara berpikir baru,” ujar Rudiantara dalam diskusi di Jakarta, Kamis (12/9/2019).

Menurutnya, Indonesia masih butuh lebih kurang sembilan juta digital talent atau tenaga kerja digital dari target di tahun 2030.

Baca: Uang Nasabah Rp 14 Juta Hilang, BRI Janji Investigasi

“Saat ini kondisinya sangat kekurangan. Kita butuh digital talent dipompa ke industri sampai 2030 sebanyak 9 juta, rata-rata 600 ribu per tahun,” kata Rudiantara.

Menkominfo berpesan kepada perusahaan digital di Indonesia agar tak perlu mengambil tenaga kerja dari luar.

Baca: Corolla Altis Hybrid Dibanderol Hampir 100 Juta Lebih Mahal dari Versi Mesin Konvensional

“Kita punya anak-anak yang mempunyai kapasitas jika mereka diberikan fasilitas peningkatan sumber daya manusia,” ujarnya.

Rudiantara menyatakan Kominfo bukan regulator di bidang pendidikan, pengembangan digital talent dapat menggunakan silabus dari perusahaan teknologi global antara lain Apple, Cisco, Google, dan Microsoft.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved