Breaking News:

Google Akan Pindahkan Data Pengguna ke AS Pasca Brexit, Ini Imbasnya Bagi Warga Inggris

arena AS memiliki perlindungan privasi yang lebih lemah jika dibandingkan dengan Uni Eropa (UE).

TRIBUNNEWS.COM/FITRI WULANDARI
Ilustrasi: Google meluncurkan Grow with Google di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, INGGRIS - Perusahaan-perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS) tengah mempertimbangkan keputusan apakah mereka harus memindahkan data dan akun milik pengguna Inggris ke AS.

Para Pengamat menilai bahwa jika raksasa teknologi seperti Google memindahkan akun pengguna ke AS, maka para pengguna asal Inggris terancam kehilangan privasinya.

Karena AS memiliki perlindungan privasi yang lebih lemah jika dibandingkan dengan Uni Eropa (UE).

Sehingga akan memudahkan pihak berwenang di negeri paman sam untuk mengaksesnya.

Dikutip dari laman Sputnik News, Jumat (21/2/2020), Google memang berencana untuk memindahkan akun penggunanya di Inggris ke AS dalam suatu langkah yang akan membuat warga Inggris yang menjadi pengguna Google kehilangan perlindungan data yang dijamin oleh hukum UE.

Sejumlah sumber dari raksasa teknologi itu mengatakan bahwa sebagai akibat dari Brexit, tidak ada untungnya mempertahankan akun Inggris di Irlandia, di mana Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR) berlaku.

Keputusan itu tampaknya merupakan buntut dari kurangnya kejelasan mengenai niat pemerintah Inggris dalam mempertahankan visibilitas yang diabadikan dalam GDPR.

Baca: Apa Itu Google Station, Program WiFi Cuma-cuma yang akan Jadi Kenangan

Baca: Google Donasikan Rp 13,6 Miliar untuk Latih 22 Ribu Guru

Sebuah sumber mengatakan bahwa AS memiliki data perlindungan privasi paling lemah.

"Amerika Serikat memiliki perlindungan privasi terlemah dari setiap sektor pendukung ekonomi utama," kata sumber tersebut.

Setelah data akun milik pengguna Inggris dibawa ke AS, maka para penegak hukum Inggris mungkin akan mengalami sedikit kesulitan dalam mengakses informasi yang mereka targetkan.

Seperti yang disampaikan mantan pimpinan Google untuk teknologi privasi global Lea Kissner.

"Jangan pernah mengabaikan keinginan perusahaan teknologi untuk tidak terjebak di antara dua pemerintahan yang berbeda," kata Kissner.

Google pun tidak menanggapi komentar tersebut, namun banyak perusahaan teknologi lainnya turut menghadapi situasi yang sama, yakni memegang data akun pengguna Inggris saat masih berada dalam wilayah UE dan tunduk pada peraturan UE.

Para pengamat industri menilai proteksi data akan menjadi salah satu dari banyak masalah yang harus diatasi Google, mengacu pada dampak Brexit ini.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved