Indonesia Perlu Sistem Observasi Kelautan Terintegrasi Telekomunikasi Berbasis Fiber Optik
Pengembangan dan penerapan teknologi di bidang ini juga diproyeksikan memberikan prospek ekonomi yang menjanjikan bagi Indonesia serta para mitra
Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia merupakan negara yang rawan bencana gempa bumi hingga gempa yang berujung tsunami, karena terletak di cincin api pasifik.
Oleh karena itu pemerintah terus mendorong upaya penanggulangan bencana yang efektif, satu diantaranya melalui penguatan serta pengembangan sistem informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami.
Pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini sedang melakukan pengkajian dan pengembangan serta usaha penerapan teknologi, melanjutkan apa yang telah dilaksanakan sejak 2019 lalu.
Pengembangan dan penerapan teknologi di bidang ini juga diproyeksikan memberikan prospek ekonomi yang menjanjikan bagi Indonesia serta para mitra.
Pengembangan ini diawali dengan adanya 1 stasiun kontrol (landing station) yang memiliki satu Ocean Bottom Unit (OBU), kemudian 1 stasiun kontrol dengan dua OBU yang akan diterapkan di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun ini.
Sementara pengembangan multi sensor multi OBU dan multi landing station, saat ini sedang dalam tahap pengkajian.
Baca juga: 10 Anggota Dewan Pengarah BRIN Resmi Dilantik Jokowi, Megawati Soekarnoputri Jadi Ketua
Pengkajian ini juga termasuk pengintegrasian fungsi lainnya seperti telekomunikasi laut berbasis fiber optik.
Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan sistem observasi berbasis teknologi ini memiliki prospek ekonomi yang sangat menjanjikan.
"Indonesia memiliki sumber daya yang terbatas dalam melakukan eksplorasi terhadap kekayaan laut dan dalam mendorong blue economy juga dalam mitigasi bencana. Sistem observasi berbasis teknologi fiber optic merupakan salah satu teknologi yang menjanjikan di masa kini," kata Handoko, dalam webinar Indonesia Cable Based Tsunameter (INA-CBT) bertajuk' Kebencanaan Kabel Bawah Laut: Menuju Sistem Observasi Laut yang Terintegrasi dengan Telekomunikasi Laut Berbasis Fiber Optik', Selasa (12/10/2021).
Menurutnya, yang menjadi tantangan ke depan bagi Indonesia adalah bagaimana negara ini bisa mendorong sistem observasi laut agar mampu dijangkau dan dikembangkan melalui kerja sama yang menguntungkan dengan para mitra di bidang telekomunikasi serta industri lainnya.
Baca juga: Peneliti BRIN: Penjabat Kepala Daerah dari TNI/Polri akan Sulit Diusut Jika Lakukan Kesalahan
Para mitra yang ia sebut ini berkaitan dengan teknologi sensor yang tidak hanya dapat membantu mengembangkan serta memelihara sistem, namun juga menghubungkan berbagai pulau di Indonesia.
"BRIN pun berkomitmen untuk mendukung pengembangan teknologi dan infrastruktur dalam Sistem Observasi Kelautan," tegas Handoko.
Sementara itu, Plt. Kepala Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi (OR PPT) - BRIN Dadan Moh Nurjaman mengatakan Indonesia saat ini memiliki tantangan untuk dapat mengimplementasikan teknologi observasi bawah laut yang terintegrasi dengan teknologi submarine fiber optic cable.
"Sistem observasi kelautan yang terintegrasi dengan sistem telekomunikasi berbasis submarine fiber optic cable menjadi hal yang sangat menguntungkan bagi Indonesia, tentunya ini di bidang telekomunikasi. Selain itu juga dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat," kata Dadan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/284.jpg)