Breaking News:

Startup Aquatech DELOS Peroleh Pendanaan Tahap Awal Dipimpin Arise

Dana gabungan dalam putaran pendanaan tahap ini ditujukan untuk memodernisasi Akuakultur Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai Revolusi Biru. 

Editor: Hasanudin Aco
ist
Tambak Dewi Laut Aquaculture di Garut Selatan, Jawa Barat, salah satu mitra tambak udang DELOS. 

Dengan identitas itu, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan dan modernisasi industri akuakultur di Indonesia. DELOS sendiri adalah wajah modernisasi dari perusahaan akuakultur lokal terkemuka, Dewi Laut Aquaculture (DLA) dan Alune Aqua dalam wujud teknologi digital.

“Di mana industri yang didominasi oleh cara tradisional dan terfragmentasi, dapat bertransformasi  menjadi tambak modern dan sistematis berbasis ilmiah. DELOS memadukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan praktik manajemen yang baik untuk meningkatkan produktivitas tambak udang dan meningkatkan hasil di atas rata-rata, mendekati 40 ton/ha,” ujar CEO DELOS, Guntur Mallarangeng.

Dengan garis pantai sepanjang 54.000 km, sumber daya manusia pesisir yang melimpah, serta iklim tropis yang menunjang, seharusnya Indonesia mampu menjadi pemimpin global untuk akuakultur yang berkelanjutan.

Terutama dengan komoditi udang Indonesia yang mampu bersaing dalam skala global sebagai produk akuakultur paling berharga kedua di dunia, dalam hal produk ekspor makanan laut terbesar. 

Bahkan permintaan global untuk protein berbasis makanan laut kian meningkat, saat ini akuakultur memasok lebih dari 60 persen dari semua makanan laut yang dikonsumsi.

Dengan perspektif itu, pemerintah Indonesia telah menargetkan budidaya dan produksi udang untuk tumbuh 250 persen selama tiga tahun ke depan.

Namun, adopsi teknologi yang rendah, praktik pengelolaan yang kurang baik, dan akses yang buruk terhadap pembiayaan telah membatasi pertumbuhan akuakultur Indonesia itu sendiri,  dan menghambat produktivitas tambak.

Faktor-faktor ini telah menciptakan hambatan di tengah-tengah value chain, dan membatasi output pabrik dan ekspor di hilir hingga rata-rata hanya mencapai 40 persen sampai 60 persen kapasitas pabrik.

Inti masalah ini berujung pada kesenjangan produktivitas, dimana kurang dari 5 persen tambak yang ada dapat menghasilkan 4x lipat di banding tambak lain (40 ton vs.10 ton/Ha).

Inilah yang membuat industri senilai USD 2 miliar itu tidak dapat memenuhi potensi terpendamnya untuk menjadi 2 kalo lipat, senilai USD 4 miliar.

Halaman
123
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved