Konflik Rusia Vs Ukraina
Rusia Sebut Konten Meta dan Twitter Sebagai Terorisme Informasi
Sumber-sumber informasi Rusia diblokir atau dibatasi aksesnya sehingga masyarakat setempat tidak bisa memahami sudut pandang dari pemerintah Rusia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Perlakuan Meta dengan Facebook dan Instagramnya serta Twitter terhadap Rusia dianggap tidak adil.
Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia menyatakan secara terbuka.
Baca juga: Sanksi Inggris ke Oligarki Rusia, Rumah 4,4 Juta Pound Milik Putri Tiri Menlu Lavrov Bakal Melayang
Sebagai contohnya, dalam keterangan resmi tersebut, setiap konten mereka yang hendak dibagikan, misalnya di Twitter, akan ada peringatan bahwa konten tersebut dikatakan sebagai konten yang berada di bawah kendali pemerintah Rusia.
“Kami berpendapat bahwa yang dilakukan para pemilik medsos Barat dalam konteks situasi di Ukraina adalah terorisme informasi (informational terrorism),” demikian keterangan Kedutaan Rusia, Kamis (24/3/2022).
Sumber-sumber informasi Rusia diblokir atau dibatasi aksesnya sehingga masyarakat setempat tidak bisa memahami sudut pandang dari pemerintah Rusia.
Baca juga: Sanksi Inggris ke Oligarki Rusia, Rumah 4,4 Juta Pound Milik Putri Tiri Menlu Lavrov Bakal Melayang
“Bukankah hal ini adalah pelanggaran terhadap hak untuk mengakses informasi?,” tulis rilis itu lagi.
Lagi pula, situasi ini semakin mengkhwatirkan mengingat penyebaran informasi oleh pihak Ukraina mengandung banyak hoax dan ujaran kebencian serta melakukan kekerasan terhadap para prajurit Rusia yang justru diperbolehkan oleh Meta.
Kebijakan ini sekali lagi membuktikan russophobia yang luar biasa di negara-negara Barat. Akibatnya, kini konten Rusia dibatasi dan tidak terdistribusikan secara luas.
“Artinya, konten-konten kami belum tentu muncul pada “feed” pengikut kami.”
Sekarang, selain dibatasi, selalu ada kemungkinan akun Rusia diblokir. Konten-konten Rusia dianggap “mengancam” dan itu aneh.
Baca juga: Bantu Perangi Rusia, Inggris Kirim 6.000 Rudal ke Ukraina
“Lagi pula, bukankah di tengah situasi ini kita justru membutuhkan variasi/konten informasi? Apa yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa Barat ingin masyarakat dunia hanya menerima satu sudut pandang informasi, yang sama sekali jauh dari kebenaran,” tulis rilis tersebut.
Karena itu, Kedutaan Besar Federasi Rusia di Republik Indonesia baru membuka saluran Telegram yang baru, yaitu https://t.me/kedubesrusia. Silakan ikuti saluran Kedutaan Besar untuk tetap bersama kami.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-facebook___________.jpg)