Lebih Fleksibel, Pebisnis Semakin Banyak Manfaatkan e-commerce untuk Promosi Usaha

Internet bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan telah menjadi kebutuhan hidup masyarakat di seluruh dunia.

Penulis: Sanusi
Editor: Hendra Gunawan
Ist
ilustrasi.Platform e-commerce 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Era digital kuat ditandai dengan ketergantungan masyarakat terhadap internet dan media sosial (internet of thing).

Internet bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan telah menjadi kebutuhan hidup masyarakat di seluruh dunia.

”Ketergantungan manusia terhadap internet dan media sosial ditangkap dengan baik oleh dunia bisnis dan perdagangan,” ujar praktisi dan penyiar radio Ari Utami pada webinar ”Indonesia Makin Cakap Digital” yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI di Bali-Nusa Tenggara, Sabtu (10/9/2022).

Ari mengatakan, era digital telah membuat hidup menjadi lebih mudah. Selain mempermudah mengakses dan melakukan komunikasi, era digital juga memudahkan manusia dalam berbisnis dan bertransaksi, lantaran lebih fleksibel. Pebisnis dan wirausaha kini banyak memanfaatkan e-commerce untuk mempromosikan usahanya.

Baca juga: Kisah Ini Buktikan e-Commerce Mampu Dorong UMKM Lokal Naik Kelas di Era Digital

”E-commerce (electronic commerce) merupakan bentuk perdagangan elektronik barang dan jasa, meliputi penyebaran, penjualan, pembelian, pemasaran, yang mengandalkan sistem elektronik melalui jaringan internet,” jelas Ari dalam diskusi virtual bertajuk ”Tips Menggunakan E-Commerce untuk Promosi Usaha” yang juga diikuti secara nobar oleh beberapa komunitas digital di Bali.

Menurut Ari, beberapa aktivitas yang dapat dilakukan dengan e-commerce, yakni meliputi: transaksi dana, pertukaran data elektronik, sistem manajemen, dan pengumpulan data secara otomatis.

Beberapa keunggulan pemasaran e-commerce, diantaranya: hasil lebih cepat diketahui dan dapat dilihat langsung, banyak sumber data yang dapat dianalisis, dan lebih dekat dengan pelanggan. Sumber data yang dapat dianalisis, misalnya kelompok umur, jumlah pengeklik, hingga jumlah pembeli.

”Adapun dampak negatif e-commerce, misalnya: potensi penipuan, pencurian data, gangguan sistem (listrik, jaringan, human error), serta hacker,” pungkas pemilik bisnis online OBR itu.

Dari sudut pandang budaya digital (digital culture), Wakil Ketua III STMIK Primakara I Gede Putu Krisna Juliharta menyatakan, penggunaan e-commerce erat hubungannya dengan persoalan bagaimana memanfaatkan teknologi informasi untuk promosi usaha.

Menurut Krisna, percepatan pertumbuhan toko online, marketplace hingga penggunaan e-commerce tak bisa dipisahkan dengan peristiwa pandemi Covid-19. ”Pandemi Covid-19 membuat Indonesia 10 tahun lebih maju. Kemajuan paling nyata, dapat disaksikan dari munculnya toko online, marketplace, kelas online, dan pekerjaan kantor,” sebut Krisna.

Baca juga: Mitra Binaan Peruri Gabung di Program UMKM BUMN Go Online, Ini Pesan Erick Thohir

Penggunaan e-commerce untuk promosi usaha, lanjut Krisna, tidak bisa dipisahkan dengan maraknya penggunaan media sosial. Menurutnya, media sosial telah mengubah budaya promosi lantaran biayanya rendah namun memiliki jangkauan lebih luas.

”WhatsApp, Instagram, Facebook, dan TikTok merupakan kanal promosi paling populer. Pengguna digital lebih suka konten promosi yang bisa bergerak (video),” kata Krisna.

Pada kesempatan itu, Krisna juga membagikan tips penggunaan e-commerce untuk promosi usaha, yakni: media sosial untuk membangun bisnis pelanggan dan mendorong kunjungan ke toko, gunakan live streaming untuk mengedukasi konsumen mengenai produk, dan merespons tren ritel secara cepat untuk mendorong penjualan.

”Selain itu, manfaatkan kampanye mega (oleh marketplace) untuk mendorong penjualan, seperti 11.11, 12.12, mengintegrasikan pengalaman brand di kanal offline dan online, bereksperimen dengan voucher, diskon, dan gratis ongkir untuk mendorong penjualan,” tandas Krisna.

Sejak dilaksanakan pada 2017, Gerakan Nasional Literasi Digital telah menjangkau 12,6 juta warga masyarakat. Pada tahun 2022, Kominfo menargetkan pemberian pelatihan literasi digital kepada 5,5 juta warga masyarakat.

Pelatihan literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten itu selalu membahas setiap tema dari sudut pandang empat pilar utama. Yakni, kecakapan digital, etika digital, keamanan digital, dan budaya digital untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved