Sepi Peminat, Metaverse Decentraland Senilai Rp 18 Triliun Hanya Miliki 38 Pengguna

Diprediksi jadi proyek yang paling menjanjikan di industri digital, ternyata kepopuleran Metaverse tak dapat menarik minat investor

Editor: Hendra Gunawan
PDQ Wire
Ilustrasi metaverse 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, NEW YORK – Diprediksi jadi proyek yang paling menjanjikan di industri digital, ternyata kepopuleran Metaverse tak dapat menarik minat investor untuk masuk dalam dunia virtual Decentraland.

Bahkan ekosistem metaverse yang valuasinya senilai 1,2 miliar dolar AS atau Rp 18,5 triliun, dengan satuan Kurs Rp 15.472 hanya memiliki 38 pengguna yang aktif melakukan transaksi jual beli NFT di Decentraland, selama periode 24 jam pada awal pekan ini.

Menurut pantauan dari DappRadar, tercatat bahwa Decentraland mengalami penyusutan pengguna hingga membuat aktivitas transaksi seperti pembelian atau penjualan NFT menurun drastis dibandingkan dengan jumlah orang yang berkunjung di Metaverse ini.

Bahkan posisi ini membuat Decentraland kalah bersaing dengan kompetitornya yakni The Sandbox yang saat ini mengklaim telah memiliki 522 pengguna aktif dalam kurun waktu yang sama, dikutip dari The Verge.

Baca juga: Pembaca Menurun Hingga Tekan Pendapatan, Meta Tutup Layanan Newsletter Mulai 2023

Sebelum mengalami penyusutan DappRadar mengungkap bahwa platformnya yang merupakan Web3 yang dibangun dengan menjual 90.000 bidang tanah virtual, pernah mengalami lonjakan pengguna aktif hingga menyentuh 675 pengguna.

Namun seiring dengan menurunnya popularitas Metaverse membuat Decentraland perlahan kehilangan pesona. Pudarnya hype Metaverse juga dibarengi dengan lesunya permintaan terhadap aset berbasis blockchain lainnya, termasuk mata uang kripto dan NFT.

Menanggapi beredarnya isu yang menyebut bahwa perusahaan telah mengalami penyusutan pengguna, Sam Hamilton, Direktur Kreatif di Decentraland dengan lantang membantah tuduhan tersebut.

Meski proyek metaverse yang menjual real estate virtual ini kerap mendapatkan dikritik oleh banyak pengamat.

Salah satunya dosen dari Indiana University Bloomington Edward Castronova yang mengatakan metaverse Decentraland merupakan investasi penipuan berbentuk skema piramida

Baca juga: Meta Tangguhkan Perekrutan Karyawan, Jadi Korban Resesi?

Namun melalui akun Twitternya Hamilton menjelaskan bahwa Decentraland masih memiliki sekitar 8.000 pengguna aktif harian (DAU) serta 1.074 pengguna yang berinteraksi dengan smart contract di platform Decentraland per September 2022..

Jumlah ini berbanding terbalik dengan yang diungkap oleh DappRadar, menurut Hamilton jumlah pengguna di Decentraland dapat lebih akurat apabila diamati dengan melihat dasbor yang dibangun oleh komunitas platform, ketimbang menggunakan metrik Delphi Chain Link (DCL) besutan DappRadar. Alasan inilah yang membuat Decentraland terlihat mengalami penyusutan pengguna yang amat drastis.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved