Jumat, 22 Mei 2026

Badai PHK

Meta PHK 11.000 Karyawan, Kelompok Big Tech Makin Pudar

Raksasa teknologi, Meta akhirnya melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 11.000 karyawannya.

Tayang:
Editor: Hendra Gunawan
CHRIS DELMAS / AFP
Foto ilustrasi logo META 

TRIBUNNEWS.COM, NEW YORK - Raksasa teknologi, Meta akhirnya melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 11.000 karyawannya.

Resesi dunia yang berkepanjangan ternyata membuat bisnis raksasa teknologi Amerika Serikat ini juga turun.

Akibatnya, perusahaan besutan Markk Zuckerberg tersebut harus melepas 13 persen karyawannya yang setara denga 11.000 orang pegawai.

Hal ini terungkap dalam pesan yang dikirimkan langsung oleh CEO Meta Mark Zuckerberg kepada para karyawan.

Baca juga: Iklan Digital Merosot, Laba Google hingga Meta Rontok: Industri Teknologi Nyalakan Alarm Krisis

"Hari ini saya menyampaikan beberapa perubahan tersulit yang diambil dalam sejarah Meta," tulis Mark dalam suratnya, dikutip dari CNBC, Kamis (10/11/2022).

"Saya memutuskan untuk mengurangi jumlah karyawan perusahaan sebesar 13 persen, dan melepas lebih dari 11.000 karyawan bertalenta kami," tambah dia.

Dalam surat tersebut, Mark juga menyebutkan, manajemen akan mengambil sejumlah langkah lain untuk membuat perusahaan lebih ramping dan efisien ke depannya, yakni melalui pemotongan biaya diskresioner dan memperpanjang masa penghentian perekrutan hingga kuartal pertama tahun depan. Pemangkasan karyawan itu terjadi di tengah masa sulit bagi Meta.

Induk platform Facebook, WhatsApp, dan Instagram itu sedang menghadapi tren penurunan pendapatan, disertai peningkatan biaya operasional signifikan.

Investor saat ini khawatir terhadap biaya dan pengeluaran Meta yang terus meningkat, di mana pada kuartal III-2022 melesat 19 persen secara tahunan menjadi 22,1 miliar dollar AS.

Padahal, di sisi lain penjualan keseluruhan Meta turun 4 persen secara tahunan menjadi 27,71 miliar dollar AS, sedangkan pendapatan operasional anjlok 46 persen menjadi 5,66 miliar dollar AS.

Mark bilang, perusahaan tengah melakukan pengurangan di berbagai divisi, tetapi perekrutan tidak akan berjalan secara proporsional, sebagai imbas dari rencana perusahaan untuk merekrut lebih sedikit tenaga kerja pada 2023.

Baca juga: Iklan Digital Merosot, Laba Google hingga Meta Rontok: Industri Teknologi Nyalakan Alarm Krisis

Meta memperpanjang periode pembekuan perekrutan hingga kuartal pertama tahun depan dengan sedikit pengecualian.

"Ini merupakan momen sedih, dan tidak ada jalan lain untuk itu. Untuk mereka yang pergi, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih untuk seluruh kontribusi yang diberikan di sini," ujarnya.

Adapun karyawan yang terdampak pemangkasan akan menerima bayaran setara 16 minggu upah, ditambah dua minggu upah untuk setiap tahun bekerja.

Selain itu, Meta juga akan menanggung asuransi kesehatan selama enam bulan.

Asal tahu saja, Meta tengah fokus berinvestasi pada metaverse dengan mengembangkan berbagai infrastrukturnya.

Hal ini telah membuat Meta mengeluarkan 9,4 miliar dollar AS pada tahun ini saja, dan angka itu diproyeksi terus meningkat.

Valuasi FAANG Mulai Turun

Ancaman resesi global terus membebani perusahaan-perusahaan teknologi raksasa alias Big Tech. Lima perusahan teknologi yang tergabung dalam FAANG (Facebook/META, Amazon, Apple, Netflix, dan Google (Alphabet)) kini tengah berjuang menghadapi penurunan valuasi pasar.

Selama bertahun-tahun FAANG menjadi perusahaan-perusahaan sebagai investasi yang paling cemerlang.

Baca juga: Meta Ungkap Masalah yang Sebabkan WhatsApp Down Telah Diperbaiki

Namun, laporan keuangan terkini menunjukkan bahwa hegemoni kelompok Big Tech ini sebagai perusahaan yang cuan terus tergerus. Sebagai contoh, saham META, bila kita membeli pada lima tahun lalu saat masih bernama Facebook, kini nilai sahamnya sudah anjlok 49 persen.

Padahal di saat bersamaan indeks S&P 500 justru mengalami kenaikan 45 persen. Perusahaan milik Mark Zuckerberg itu kini tak hanya menghapus keuntungan saat pandemi, tapi juga turun pada posisi tahun 2015.

Meskipun kelima saham Big Tech tersebut masih memberikan kontribusi lebih dari 13 persen dari kapitalisasi pasar S&P, narasi bahwa FAANG merupakan perusahaan yang cuan sepertinya sudah berakhir untuk selamanya.

Mengutip Marketwatch, saham META berada di peringkat 10 berdasarkan nilai valuasinya pada Selasa pekan lalu.

Posisi ini jatuh di bawah Visa Inc, untuk pertama kalinya sejak Agustus tahun ini. Berdasarkan catatan Companiesmarketcap, kapitalisasi pasar META pada 31 Agustus 2021 tercatat 1,07 triliun dollar AS, namun tahun ini turun hampir separuhnya menjadi tinggal 562,19 miliar dollar AS.

Adapun kapitalisasi pasar terbesar di dunia, yakni lebih dari 1 triliun dollar AS adalah Apple 2,2 triliun dollar AS, Saudi Aramco 2,03 triliun, Microsoft 1,6 triliun dollar AS, dan Alphabet 1,1 triliun dollar AS.

"Meta, seperti perusahaan media sosial lainnya, telah terpengaruh secara negatif oleh langkah yang dilakukan Apple dalam bisnis periklanan serta antisipasi umum dari pengeluaran iklan yang lebih rendah karena kita mungkin akan mengalami resesi," kata Nick Mazing, direktur penelitian di Sentieo.

Dia menilai, Apple telah menghancurkan kerajaan teknologi iklan di platform Meta, dan kini telah berdampak pada iklan-iklan di Facebook. (Kompas.com)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kapitalisasi META Terus Anjlok, Hegemoni “Big Tech” FAANG Berakhir?"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved