Eks Kepala Keamanan Twitter Ungkap Platform Burung Biru Kurang Aman di Bawah Pimpinan Elon Musk

Mantan kepala kepercayaan dan keamanan Twitter Yoel Roth mengungkapkan platform media sosial tersebut kurang aman di bawah pemilik baru Elon Musk

OLIVIER DOULIERY / AFP
Foto ilustrasi diambil pada 04 Oktober 2022, menampilkan layar ponsel dengan foto Elon Musk dan logo Twitter di latar belakang di Washington, DC. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Mantan kepala kepercayaan dan keamanan Twitter Yoel Roth mengungkapkan platform media sosial tersebut kurang aman di bawah pemilik baru Elon Musk.

Dalam wawancara pertamanya sejak dia mengundurkan diri pada bulan lalu, Roth mengatakan Twitter tidak lagi memiliki cukup staf untuk menangani keamanan pengguna.

Sebelumnya, Roth pernah mentweet bahwa keamanan Twitter telah meningkat di bawah kepemilikan orang terkaya di dunia itu.

Baca juga: Apple Ancam Blokir Twitter, Elon Musk: Kami akan Buat Ponsel Khusus 

Saat ditanya dalam sebuah wawancara di konferensi Knight Foundation pada Selasa (29/11/2022), apakah dia masih merasa perusahaan media sosial itu aman di bawah kepemimpinan Musk, Roth dengan yakin menjawab "Tidak".

Melansir dari Reuters, Roth merupakan seorang veteran Twitter yang membantu mengarahkan platform itu mengambil beberapa keputusan penting, termasuk langkah untuk menangguhkan secara permanen akun mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada tahun lalu.

Kepergian Roth dari Twitter semakin mengguncang pengiklan, dan banyak karyawan mundur dari Twitter setelah Musk memberhentikan setengah staf perusahaan media sosial itu. Pekerja yang mundur termasuk mereka yang terlibat dengan moderasi konten.

Twitter di bawah kepemimpinan Musk mulai menyimpang dari kebijakan tertulis dan Musk terkadang membuat keputusan secara sepihak, yang menurut Roth menjadi alasannya mundur dari perusahaan itu.

"Salah satu batasan saya adalah jika Twitter mulai diatur oleh dekrit diktator daripada kebijakan ... saya tidak perlu lagi dalam peran saya, melakukan apa yang saya lakukan," katanya.

Roth menambahkan, perubahan langganan premium Twitter Blue, yang akan memungkinkan pengguna membayar tanda centang terverifikasi di akun mereka, telah diluncurkan meskipun ada peringatan serta masukan dari tim kepercayaan dan keamanan.

Peluncuran tanda centang berbayar dengan cepat membuat banyak spammer bermunculan dan menyamar sebagai perusahaan besar seperti Eli Lilly, Nestle, dan Lockheed Martin.

Roth juga mengatakan Twitter keliru dalam membatasi penyebaran artikel New York Post yang membuat klaim mengenai putra calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden sesaat sebelum pemilihan presiden 2020.

Baca juga: Elon Musk akan Luncurkan Centang Biru, Emas, dan Abu-abu di Twitter, Apa Bedanya?

Namun dia membela keputusan Twitter untuk menangguhkan akun Trump secara permanen karena risiko hasutan kekerasan lebih lanjut setelah kerusuhan di US Capitol pada 6 Januari 2021.

"Kami melihat contoh paling jelas tentang bagaimana hal-hal berubah dari online ke offline. Kami melihat orang tewas di Capitol," kata Roth.

Sementara Musk men-tweet pada 19 November bahwa akun Trump akan dipulihkan setelah mayoritas tipis memilih langkah tersebut dalam jajak pendapat Twitter yang dilakukannya.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved