Senin, 1 Juni 2026

Heboh ChatGPT, Begini Sejarah, Cara Kerja hingga Dampak Penggunaan Aplikasi Berteknologi AI

Kehadiran ChatGPT membuat sejumlah perusahaan teknologi raksasa tertarik ikut membuat aplikasi serupa.

Tayang:
Digital Trends
Aplikasi ChatGPT besutan OpenAI sukses mencuri perhatian warganet global. Setiap harinya ada sekitar 13 juta pengguna yang mencoba mengakses ChatGPT. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, CALIFORNIA – Hanya dlam waktu beberapa bulan sejak dirilsi November tahun lalu, aplikasi ChatGPT besutan OpenAI sukses mencuri perhatian warganet global, dimana setiap harinya ada sekitar 13 juta pengguna yang mencoba mengakses ChatGPT.

Berkat pencapaian tersebut ChatGPT ditetapkan sebagai aplikasi konsumen dengan pertumbuhan paling pesat sepanjang sejarah.

Kehadiran ChatGPT bahkan membuat sejumlah perusahaan teknologi kepincut ikut membuat aplikasi serupa.

Kendati sejumlah negara menganggap keberadaan ChatGPT  sebagai alat propaganda yang mendapat memperdaya penggunanya melalui disinformasi dan manipulasi narasi, namun hal tersebut tak lantas membuat chatbot ini mengalami sepi peminat.

Memanfaatkan kecanggihan teknologi  Artificial Intelligence (AI) buatan OpenAI, kehadiran ChatGPT diklaim dapat mempermudah pengguna dalam menjawab sebuah pertanyaan serta melakukan tugas-tugas seperti mengerjakan soal ujian, hingga membuat cerita pendek dengan gaya penulis tertentu.

Kelebihan ini membuat ChatGPT besutan OpenAI mirip layaknya aplikasi virtual assistant dan customer service chatbot, karena menghasilkan tanggapan yang alami dan berkualitas dalam percakapan.

Sejarah ChatGPT

Sebelum popularitas ChatGPT melonjak, OpenAI awalnya menciptakan chatbot dengan tujuan untuk membuat teknologi AI lebih aman dan bermanfaat bagi masyarakat. 

Namun pada tahun 2018, OpenAI meluncurkan model GPT (Generative Pretrained Transformer), yang menjadi salah satu model bahasa AI terpopuler pada saat itu.

Baca juga: Apple Blokir Semua Layanan Berbasis ChatGPT karena Alasan Keamanan

Seiring berjalannya waktu model Open AI terus mengembangkan kecanggihan teknologinya, hingga meluncurlah GPT-3, yang merupakan cikal bakal dari terbentuknya ChatGPT.

ChatGPT sendiri pertama kali diperkenalkan pada tahun 2020 dengan memanfaatkan feedback dari para pengguna untuk melakukan sejumlah peningkatan.

Ilustrasi Logo ChatGPT ___
Tahun 2018, OpenAI meluncurkan model GPT (Generative Pretrained Transformer), yang menjadi salah satu model bahasa AI terpopuler pada saat itu.

Termasuk peningkatan faktualitas, kemampuan matematika tambahan, kemampuan untuk berhenti membuat tanggapan, kemampuan untuk melihat percakapan sebelumnya, dan masih banyak lagi.

Cara kerja ChatGPT

Berdasarkan informasi yang dikutip dari laman resmi OpenAI, kecerdasan ChatGPT didapat lantaran mereka menyematkan model AI pada Reinforcement Learning from Human Feedback (RLHF).

Sistem ini yang kemudian membuat kinerja ChatGPT lebih unggul ketimbang teknologi lainnya.

Baca juga: Ancaman ChatGPT Palsu Incar Data Kartu Kredit, Pengguna Diminta Waspada

Untuk mengakses aplikasi ini pengguna bisa mengunjungi link website resmi ChatGPT ini, setelah itu Anda akan diminta untuk masuk atau ‘login’ dengan akun OpenAI.

Apabila belum memiliki akun, pengguna bisa mendaftar menggunakan terlebih dahulu menggunakan Google Account atau Microsoft Account.

Saat melakukan pendaftaran pengguna akan diminta untuk memasukan data yang diminta, setelah itu layanan ChatGPT akan memverifikasi akun melalui pesan yang dikirim via email.

Dampak Positif Kehadiran Chat GPT

Kemunculan ChatGPT dianggap sebagai suatu teknologi dapat membuat banyak orang terkesan lantaran layanan ini memiliki sejumlah kelebihan yang tidak dapat dimiliki aplikasi lain , diantaranya:

Kecepatan Merespon Tanggapan

ChatGPT diklaim memiliki kemampuan untuk menghasilkan tanggapan yang cepat namun berkualitas,mirip seperti seperti virtual assistant dan customer service chatbot.

Baca juga: Kepincut Fitur Pintar ChatGPT, Spotify Rilis Layanan DJ

Bedanya, ChatGPT mampu menjawab pertanyaan lebih update. Karena ChatGPT dapat belajar dan beradaptasi secara dinamis berdasarkan data yang baru.

Kelebihan ini yang membuat layanan ini sangat banyak digandrungi masyarakat

Kemampuan Multitasking

Selain merespon sebuah tanggapan, ChatGPT juga dapat melakukan lebih dari satu tugas sekaligus dan menjadi alat yang fleksibel untuk berbagai aplikasi.

Dengan kemudahan tersebut pengguna bisa melakukan berbagai hal secara bersamaan dengan aplikasi ini.

Data Base Yang Luas

ChatGPT dilatih pada jutaan teks dari internet dari sistem Deep Learning, sehingga layanan ini memiliki pengetahuan yang luas terkait berbagai hal.

Dengan keunggulan itu aplikasi dapat memahami banyak hal dan memberikan tanggapan yang relevan dan akurat pada pertanyaan apa pun.

Dampak Negatf Kehadiran ChatGPT

Selain kelebihan, ChatGPT juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan oleh para penggunanya, seperti:

Jawaban yang Dihasilkan Bias

Karena ChatGPT dilatih pada data internet, dalam beberapa kasus, platform ini tidak mampu membedakan antara fakta dan opini.

Jawaban yang bias ini dikhawatirkan dapat menghadirkan disinformasi bagi pengguna.

Memerlukan Jaringan Internet

Untuk menjalankan ChatGPT pengguna diharuskan untuk memiliki jaringan internet yang stabil, agar ChatGPT dapat bekerja secara maksimal.

Apabila pengguna hanya tersambung dengan internet buruk, maka ChatGPT banyak menampilkan bug.

Picu Pengangguran

Hadirnya layanan berteknologi AI seperti ChatGPT, belakangan memicu ancaman bagi para karyawan terkait adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Prediksi ini diungkap oleh lembaga survey  MLIV Pulse, dari laporannya tercatat sebanyak dua pertiga dari 292 karyawan mulai khawatir apabila pekerjaannya berisiko tergantikan oleh kecerdasan buatan.

OpenAI ChatGPT
OpenAI, pencipta aplikasi ChatGPT (Tangkapan Layar OpenAI)

 “Ada perang AI yang sangat menarik yang muncul di antara perusahaan teknologi,” kata Profesor Ilmu Komputer Universitas Southampton Wendy Hall kepada Bloomberg TV.

Meskipun tidak semua divisi dapat digantikan dengan teknologi AI, namun dengan menyematkan teknologi model AI pada sistem Reinforcement Learning from Human Feedback (RLHF) pekerjaan tertentu dengan mudah dapat diotomatisasi oleh teknologi AI.

Diantaranya seperti menulis teks, menerjemahkan bahasa, menggambar hingga melakukan percakapan seperti manusia dengan berbagai topik. 

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved