Minggu, 10 Mei 2026

Studi Lenovo Ungkap Pengeluaran Adopsi AI di ASEAN+ Naik 2,7 Persen 

Meskipun pengeluaran untuk AI terus meningkat, adopsi teknologi di kawasan ASEAN+ masih berada pada tahap awal.

Tayang:
Lita/Tribunnews
ADOPSI ARTIFICIAL INTELLIGENCE-[ki-ka] Senior VP Infrastructure Solutions Group Lenovo Worldwide Vlad Rozanovich, President Infrastructure Solutions Group Lenovo Asia Pacific Sumir Bhatia, ED and GM Solutions & Services Group Lenovo Asia Pacific Fan Ho dan General Manager Lenovo Indonesia Budi Janto. Lenovo’s CIO Playbook 2025 menunjukkan bahwa pengeluaran untuk AI di kawasan Asia Pasifik (AP) meningkat signifikan, mencapai 3,3 kali lipat dan di wilayah Association of Southeast Asian Nations (ASEAN+1), angka tersebut tercatat naik 2,7 kali lipat. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lenovo mengeluarkan edisi ketiga dari laporan Lenovo’s CIO Playbook 2025 yang berjudul It's Time for AI-nomics, sebuah studi yang diprakarsai oleh Lenovo berdasarkan data dan analisis dari IDC.

Studi ini mengacu pada survei global terhadap lebih dari 2.900 responden, termasuk lebih dari 900 pengambil keputusan Teknologi Informasi (TI) dan bisnis (ITBDM) di 12 pasar Asia Pasifik.

Para pemimpin bisnis dan pengambil keputusan TI mengonfirmasi bahwa tren investasi dalam kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin berfokus pada pengembalian investasi atau Return on Investment (ROI).

Baca juga: Spesifikasi Lenovo Tab K11, Meluncur dengan Prosesor MediaTek Helio G88

Laporan ini menunjukkan bahwa pengeluaran untuk AI di kawasan Asia Pasifik (AP) meningkat signifikan, mencapai 3,3 kali lipat.

Sementara di wilayah Association of Southeast Asian Nations (ASEAN+1), angka tersebut tercatat naik 2,7 kali lipat. 

Tahap Awal Adopsi AI: ROI sebagai Tantangan Utama

Meskipun pengeluaran untuk AI terus meningkat, adopsi teknologi di kawasan ASEAN+ masih berada pada tahap awal.

Sekitar 47 persen organisasi di kawasan ini sedang dalam proses evaluasi atau merencanakan penerapan AI dalam 12 bulan mendatang, angka yang sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata Asia Pasifik (56 persen) dan global (49 persen).

Tantangan terbesar yang dihadapi oleh organisasi adalah mendapatkan ROI yang optimal dari investasi AI mereka. 

Singapura menjadi pusat regional dengan tingkat kematangan dan infrastruktur AI yang lebih maju, sementara negara-negara ASEAN+ lainnya masih menghadapi hambatan dalam adopsi teknologi ini, seperti keterbatasan sumber daya dan keahlian.

Mewujudkan ROI dari investasi AI menjadi sebuah upaya jangka panjang yang mengharuskan organisasi untuk menemukan keseimbangan antara eksperimen dan implementasi proyek yang bisa dikembangkan lebih luas.

Menariknya, organisasi di Asia Pasifik mengharapkan ROI rata-rata 3,6 kali lipat dari investasi AI mereka, yang menuntut pendekatan terukur dalam peningkatan skala dan pengembangan kapabilitas internal. 

Adopsi AI yang lebih bertahap di ASEAN+ mencerminkan fokus pada optimalisasi rantai pasokan, peningkatan kepatuhan regulasi, serta peningkatan produktivitas karyawan, dengan mengatasi tantangan seperti manajemen data, keterampilan AIdan keamanan data.

Tantangan Tata Kelola AI

Seiring dengan berkembangnya adopsi AI, kesadaran tentang pentingnya tata kelola yang baik semakin meningkat.

Meskipun begitu, isu terkait etika dan bias dalam penggunaan AI tetap menjadi tantangan utama. Hanya 24 persen organisasi global dan 25 persen di Asia Pasifik yang telah sepenuhnya menerapkan kebijakan AI GRC (Governance, Risk and Compliance).

Di ASEAN+, 24 persen CIO melaporkan telah mengimplementasikan kebijakan AI GRC secara penuh, sejalan dengan tren global dan Asia Pasifik.

Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih terstruktur dalam menangani aspek tata kelola AI, yang kini menjadi prioritas utama bisnis di kawasan.

Tata kelola AI yang efektif membutuhkan kejelasan dalam prinsip etika, akuntabilitas, pengelolaan model, serta peningkatan privasi, keamanan dan pengawasan manusia secara terintegrasi.

President Infrastructure Solutions Group Lenovo Asia Pacific Sumir Bhatia, mengatakan prioritas bisnis di Asia Pasifik terus berkembang.

"Pada 2025, Governance, Risk dan Compliance naik 12 peringkat menjadi prioritas utama, menyoroti fokus pada AI yang aman dan bertanggung jawab. Produktivitas karyawan juga meningkat dari peringkat ke-7 ke posisi ke-2, menunjukkan peran yang semakin krusial. Lenovo berkomitmen untuk membuat AI lebih mudah diakses, etis, berdampak, dan mendukung bisnis dari berbagai skala," tutur Sumir dalam keterangannya, Senin (3/3/2025).

Adopsi GenAI Semakin Cepat

GenAI diperkirakan akan mengubah alur kerja perusahaan, dengan 42 persen pengeluaran untuk implementasi AI pada 2025 di ASEAN+ akan dialokasikan untuk beberapa teknologi.

Pertama, di Asia Pasifik, operasi TI menjadi fokus penggunaan utama. Kedua, ada lebih banyak fokus pada keamanan siber dan ketiga pengembangan perangkat lunak di Asia Pasifik.

Sementara itu, di ASEAN+ yang menjadi fokus utama adalah layanan terhadap pelanggan. Kedua operasi TI, ketiga disusul oleh rekayasa/R&D yang menjadi prioritas.

Infrastruktur On-Prem dan Hybrid Mendominasi

Laporan ini juga mengungkapkan bahwa 65 persen organisasi di Asia Pasifik memilih solusi on-prem atau hybrid untuk mendukung beban kerja AI.

Preferensi ini didorong oleh kebutuhan akan lingkungan yang aman, latensi rendah dan fleksibilitas operasional. Sementara itu, 19 persen masih bergantung pada layanan cloud publik.

Di ASEAN+ juga mencerminkan tren serupa, dengan 68 persen menggunakan solusi hybrid atau on-prem, sementara sisanya bergantung pada cloud publik.

General Manager Lenovo Indonesia Budi Janto, mengungkap arsitektur hybrid menawarkan kombinasi terbaik dari skalabilitas dan kontrol.

"Secara global, 63 persen organisasi memilih infrastruktur on-premise dan hybrid untuk AI, dengan ASEAN+ mencatat tingkat adopsi yang lebih tinggi. Hal ini mencerminkan fokus yang kuat pada inovasi sekaligus memastikan keamanan dan kepatuhan terhadap kebutuhan spesifik AI. Dengan solusi AI canggih yang menyeluruh, infrastruktur yang lebih cerdas, dan kemitraan strategis, Lenovo mendorong penerapan AI yang lebih cerdas untuk semua," ucap Budi.

AI PC: Adopsi Awal Menunjukkan Peningkatan Produktivitas

AI PC semakin diminati di Asia Pasifik, dengan 43 persen organisasi melaporkan peningkatan produktivitas yang signifikan.

Meskipun kesadaran terhadap teknologi ini meningkat, adopsinya masih berjalan lambat di berbagai pasar. Di ASEAN+, 65 persen organisasi telah memasuki tahap perencanaan untuk mengadopsi PC berbasis AI.

Seiring dengan semakin matangnya teknologi dan terbuktinya pengembalian investasi (ROI), laju adopsi diperkirakan akan semakin cepat, mendorong transformasi tempat kerja digital yang lebih luas.

Kebutuhan Akan Kemitraan

Dengan semakin banyaknya organisasi yang memperluas upaya AI mereka, 34 persen CIO di Asia Pasifik dan 44 persen CIO di ASEAN+ secara aktif memanfaatkan layanan AI profesional untuk mengatasi tantangan dalam manajemen data, keterbatasan talenta dan efisiensi biaya.

Menariknya, 56 persen CIO di ASEAN+ lainnya sedang menjajaki atau merencanakan penggunaan layanan ini dalam waktu dekat.

Kolaborasi ini membantu mengatasi keterbatasan kemampuan internal, memungkinkan organisasi untuk lebih fokus pada peningkatan keterampilan tim mereka, serta membangun ketahanan jangka panjang.

Executive Director dan General Manager, Solutions and Services Group Lenovo Asia Pacific Fan Ho, menyebut adopsi AI bukan hanya tentang keuntungan jangka pendek. Organisasi perlu berinvestasi dalam desain yang efisien, penerapan yang tepat dan integrasi solusi AI ke dalam operasional mereka untuk memastikan dampaknya dapat terukur.

"Layanan AI profesional memainkan peran penting dalam membantu organisasi mengadopsi AI dengan sukses melalui pendekatan berbasis hasil. Solusi seperti Lenovo AI Fast Start semakin mempercepat proses ini, memungkinkan bisnis untuk dengan cepat melakukan uji coba, mengoptimalkan, dan meningkatkan skala inisiatif AI dengan bimbingan ahli serta kerangka kerja yang telah teruji," jelas Fan Ho.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved