Tour de Java 2011
Maratua, Pulau Tak Terlupakan
PULAU Maratua. Nama pulau ini tak begitu asing bagi warga Kalimantan Timur. Keindahan alam dan keramahan penduduknya, membuat kami enggan
TRIBUNNEWS.COM - PULAU Maratua. Nama pulau ini tak begitu asing bagi warga Kalimantan Timur. Keindahan alam dan keramahan penduduknya, membuat kami enggan beranjak meninggalkan pulau yang telah menanamkan rindu. Mengapa Maratua mampu membuai rindu para wisatawan? Benarkah Maratua menjanjikan sejuta pesona?
PAGI itu speedboat yang akan membawa kami berlayar terlihat bersandar di salah satu jetty Pulau Derawan. "Teman-teman speedboat sudah siap. Kita akan segera berangkat ke Pulau Maratua," kata Arif Hadianto, Staff Public Relation, PT Berau Coal.
Rencananya, ada beberapa pulau yang akan kami datangi. Pulau-pulau itu bertebaran di sekitar Pulau Maratua. Di antaranya, Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki.
Ada sembilan orang yang ikut dalam rombongan kami. Mereka adalah wartawan Tribun Kaltim, Metro TV dan Kompas TV. Setelah menaikkan semua barang bawaan kami, speedboat satu mesin, mulai bergerak menuju laut lepas.
Pagi itu cuaca benar-benar cerah. Laut pun terlihat tenang. Sepanjang perjalanan, kami sempat melihat beberapa pulau yang kelihatan hijau. Termasuk Pulau Maratua.
Dari kejauhan pulau itu terlihat memanjang dengan nyiur melambai-lambai. Koordinat titik terluar Maratua 20 15' 12" LU, 1180 38' 41" BT. Pulau ini berbatasan dengan negara tetangga Malaysia dan Filipina.
Ada beberapa alternatif untuk menuju ke tempat ini. Pertama, para wisatawan yang sudah berada di Pulau Derawan, cukup menyewa speedboat menuju Pulau Maratua. Tarifnya, berkisar antara Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta (pergi pulang).
Alternatif kedua, dari Bandara Kalimarau, Berau, para wisatawan disarankan lewat jalan darat menuju Tanjung Batu. Perjalanannya memakan waktu dua jam.
Di Tanjung Batu, tersedia speedboat yang akan membawa wisatawan menuju Maratua. Waktu tempuhnya berkisar satu setengah jam.
Beberapa menit menjelang merapat ke Pulau Maratua, speedboat yang kami tumpangi mulai dihajar ombak. Bahkan, beberapa rekan kami basah kuyup. Dari kejauhan terlihat rumah-rumah kayu yang menjorok ke pantai berwarna cokelat.
Sebelum berlabuh di jetty, motoris speedboat, lebih dulu berputar ke arah kanan, karena di depan resort ada gundukan karang yang memanjang.
Sesampainya di Maratua, kami mendadak terkejut. Rumah-rumah berwarna cokelat itu ternyata Maratua Paradise Resort. Kabarnya, resort ini dikelola warga Malaysia.
Untuk menginap di resort yang dinding-dindingnya terbuat dari kayu, per orang dikenakan biaya antara Rp 700 ribu hingga Rp 900 ribu, lengkap dengan makan sing, pagi dan malam.
Satu resort dilengkapi dengan kamar mandi dengan fasilitas long bath up, lantai dan dinding keramik serta shower. Uniknya, jendela kamar mandi yang letaknya di atas long bath up, sengaja dibuat menghadap ke laut. Jadi wisatawan sambil mandi, bisa melihat pesona laut lepas.
Di resort ini, juga disediakan ruang tamu yang menyatu dengan tempat tidur, dilengkapi dengan kulkas, AC dan kipas angin gantung. Sedang di bagian belakang, pintunya dibuat lebar dan disediakan tempat santai.
Dari tempat inilah, para wisawatan bisa menyaksikan penyu dan berbagai jenis ikan yang menari-nari di sekitar resort. Apalagi air lautnya terlihat bening hingga karang lautnya terlihat.
Menjelang sore, kita juga bisa melihat indahnya sunset menebarkan sejuta warna menghiasai cakrawala. (achmad subechi)