Wisata Sumsel
Taman Nasional Sembilang Sumsel, Saksi Keindahan Burung Migran
Taman Nasional Sembilang benar-benar menunjukkan panorama alam yang indah dan sejuk. Tempat singgah oleh ribuan burung migran
Laporan Wartawan Sriwijaya Post/Refly Permana
TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Akhir November tahun lalu, Forum Komunikasi Kompas Gramedia (FKKG) Sumsel menggelar Ekspedisi Burung Migran di Taman Nasional Sembilang (TNS) di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel).
Taman Nasional Sembilang benar-benar menunjukkan panorama alam yang indah dan sejuk.
Sangat cocok bagi Anda yang ingin menghabiskan waktu berlibur beberapa hari setelah menjalani rutinitas kerja sehari-hari.
Lokasi Taman Nasional Sembilang didominasi oleh kawasan perairan.
Di sana terdapat beberapa sungai besar dengan pemukiman penduduk di bagian tepinya.
Posisinya Taman Nasional Sembilang ini juga bertetanggaan dengan Bangka Belitung.
Di sana kita bisa melihat langsung pertemuan air sungai bercampur air laut yang berasal dari laut Bangka.
Untuk sampai ke Taman Nasional Sembilang, memang tidak mudah.
Butuh sedikit pengorbanan, baik dari sisi waktu maupun tenaga.
Sebab, dari pusat Kota Palembang, kita butuh waktu sekitar lima jam perjalanan darat menuju dermaga di Pelabuhan Tanjung Api-api.

Sejumlah pengunjung melintas di antara tanaman bakau sambil mengabadikan lingkungan di sekitar saat menuju Taman Nasional Sembilang di Banyuasin, Sumsel. (Tribun Sumsel/Abriansyah Liberto)
Dari dermaga itu, perjalanan dilanjutkan dengan menumpang speed boat dengan tarif atau ongkos sekitar Rp 200 ribu per kepala.
Selama perjalanan menuju Taman Nasional Sembilang, mata akan disuguhi pemandangan sungai, laut, dan beragam jenis tumbuhan termasuk mangrove.
Taman Nasional Sembilang memang terkenal dengan kelestarian tanaman mangrove yang membuat kawasan ini tetap terasa alami.
Di beberapa titik sungai, bisa dilihat ratusan penduduk tinggal di atas rumah bertiang.

Perkampungan nelayan di Sungai Bungin. Kawasan ini di kenal nelayan penghasil terasi juga tempat tinggal buaya, harimau Sumatera dan beruang madu. (Sriwijaya Post/Zaini)
Mereka yang hampir seluruhnya mencari nafkah di air ini hidup kompak satu sama lain.
Keterbatasan teknologi tidak pernah mereka keluhkan selagi hasil tangkapan di sungai masih bisa mereka dapat.
Penduduk di sepanjang kawasan menuju Taman Nasional Sembilang amat ramah setiap kali mereka kedatangan tamu.
Dua jam berada di atas speed boat, tidak akan terasa dengan pemandangan indah di sekitarnya.
Jika punya waktu, kita juga bisa mampir di sebuah kawasan yang dinamakan Mangrove Trail.

Staf pengawetan Taman Nasional Sembilang, Riza Kadarisman mengamati berbagai jenis tanaman mangrove di kawasan Sungai Barong. (Sriwijaya Post/Zaini)
Di kawasan ini, pengurus Taman Nasional Sembilang yang didukung penuh oleh Pemkab Banyuasin maupun Kementerian Kehutanan membudidayakan berbagai jenis bibit tanaman mangrove.
Kawasan ini sering dijadikan tempat penelitian mahasiswa.
Bahkan, pernah sejumlah wisatawan asing datang untuk mengetahui secara langsung cara mengembangbiakan tanaman mangrove.
Di pusat kunjungan Taman Nasional Sembilang, terdapat hutan mangrove yang masih sangat rimbun.
Berbagai hewan hutan dan hewan air juga bisa dilihat di sini.
Sebab itu, pengunjung disarankan memakai jasa guide tour untuk mengelilingi kawasan yang super luas ini.
Taman Nasional Sembilang acap kali ramai dikunjungi wisatawan di saat momen akhir tahun.
Pasalnya, periode November hingga Desember, kawasan tepi perairan di Taman Nasional Sembilang dijadikan tempat singgah oleh ribuan burung migran.
Alasan inilah mengapa Ekspedisi Burung Migran digelar FKKG Sumsel di bulan November tersebut.

Sejumlah pengunjung melintas di antara ribuan burung migran yang singgah di Taman Nasional Sembilang di Banyuasin, Sumsel, Minggu (16/11/2014). (Tribun Sumsel/Abriansyah Liberto)
Saat eksepedisi digelar, ribuan burung migran tampak dari kejauhan tengah asyik berjemur di tepi sungai.
Mereka mencari makan, berkomunikasi, hingga beristirahat di kawasan tersebut.
Tempat di mana mereka berpijak merupakan lumpur super lembek yang membuat manusia bisa tenggelam jika melintas.
Ini yang menjadi tantangan utama peserta ekspedisi kala itu demi untuk mendapatkan gambar burung migran terbaik.
Anda tertarik untuk berkunjung ke sana.
Siapkan semua perbekalan, termasuk kamera, karena momen indah di sana sayang untuk sekadar diceritakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/taman-nasional-sembilang_20150603_112627.jpg)
