Orang Indonesia Mulai Andalkan Teknologi Cari Info Soal Destinasi Wisata

Pada tahun 2020, wisatawan global diperkirakan mencapai 1,26 miliar di mana 40 persen di antaranya berasal dari Asia.

Orang Indonesia Mulai Andalkan Teknologi Cari Info Soal Destinasi Wisata
tribunnews.om/reynas
The Singapore Dialogue: diskusi masa depan pariwisata di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa (1/9/2015). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - TravelRave 2015, festival pariwisata terdepan di Asia melalui Singapore Tourism Board (TSB) kembali diselenggarakan untuk keenam kalinya pada 19-23 Oktober 2015.

Festival ini menjadi sarana utama bagi para penggerak bisnis dan profesional untuk membangun jaringan, menemukan peluang bisnis baru yang terbaik dalam industri pariwisata Asia.

Kebangkitan wisatawan di Asia diprediksi akan tumbuh signifikan dari generasi milenial sebesar 58 persen di tahun 2020.

travel fair
Acara The Singapore Dialogue di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa (1/9/2015). 

Pada tahun 2020, wisatawan global diperkirakan mencapai 1,26 miliar di mana 40 persen di antaranya berasal dari Asia.

Dalam kelompok ini, wisatawan milenial Indonesia tercatat melakukan liburan secara implusif dan sangat mengandalkan informasi mulut ke mulut (word of mouth).

"Generasi milenial merupakan peluang yang sangat besar bagi industri pariwisata untuk berhasil menaklukan pasar ini," ujar Andrew Phua selaku Director Exhibitions and Conferences Singapore Tourism Board dalam acara The Singapore Dialogue di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa (1/9/2015).

Analyst Travel Team di Google Asia Pasifik, Danny Kim mengatakan tren terkini rata-rata berdasarkan pencarian kata kunci wisata, kalender wisata serta peran teknologi mobile dalam proses konsumen mengambil keputusan.

"Perilaku online para generasi milenial telah berubah secara signifikan selama beberapa tahun terakhir dengan semakin meluasnya penetrasi perangkat mobile dan internet," ucap Kim.

Apalagi sekitar 60 persen dari generasi milenia dunia berada di Asia yang sepertiga dari mereka berasal dari Tiongkok atau India.

Karena itu, keberhasilan dalam merebut gelombang permintaan konsumen diperlukan oleh para pemain guna memahami dan memenuhi preferensi wisata generasi milenial Asia.

Vice President Sales Marketing and Distribution untuk Malaysia, Indonesia, dan Singapura Accor Hotel, Adi Satria menyatakan integrasi teknologi dalam bisnis perjalanan wisata sangat memberikan dampak positif.

"Penggunaan teknologi masa kini maupun yang sedang berkembang dapat mendukung dan membantu meningkatkan sumber penghasilan, meningkatkan efisiensi operasional, dan mendorong standar layanan konsumen," tutur Adi.

Group President sekaligus CEO Smailling Tour and Travel Service, Anthony Akili memaparkan pernyataan senada yakni menekankan bahwa pelaku industri pariwisata harus mengembangkan bisnisnya agar tetap kompetitif serta memenuhi permintaan konsumen.

"Sebagai pemain yang cukup lama berkecimpung dalam industri pariwisata, Smailling Tour telah melakukan perubahan dari sisi operasional dan proses bisnis guna mempertahankan daya saing," kata Anthony.

Disamping itu, Managing Director dan Co-Founder Tiket.com, Gaery Undarsa menyebut bahwasanya potensi pertumbuhan industri pariwisata memang sangat besar.

Namun hal tersebut tetap tidak bisa lepas dari inovasi-inovasi cemerlang para pemain bisnis pariwisata untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan.

"Peningkatan jangkauan internet dan semakin meluasnya penggunaan smartphone juga membuka peluang besar bagi industri pemesanan atau booking online," imbuh Gaery. (*)

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved