Jumat, 29 Agustus 2025

Wisata Sulsel

Ritual Tolak Sial Dengan Bermain-main Air Hingga Berpantun di Kepulauan Selayar

Untuk tolak bala (sial), masyarakat Kepulauan Selayar menggelar A'dinging-dinging yang digelar turun temurun tiap bulan Muharram. Seperti apa?

Tribun Timur/ Muthmainah Amri
Ritual A dinging-dinging di Kepulauan Selayar, untuk tolak bala (nasib sial). 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muthmainnah Amri

TRIBUNNEWS.COM, SELAYAR - Warga kampung Tenro desa Bontolempangan kecamatan Buki kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, baru saja menggelar ritual main air. Main air ini kerap disebut A'dinging-Dinging.

Ritual tahunan ini juga sebagai rangkaian perayaan hari ulang tahun kampung tersebut.

Kampung yang berada di utara Selayar, sekitar 20 kilometer dari ibu kota Selayar, Benteng.

A'dinging-dinging dilaksanakan secara turun temurun setiap bulan Muharram sejak ratusan tahun lalu. Ritual ini tetap dijaga oleh warga meski di jaman modern saat ini.

Ritual ini tak semudah yang terlihat di foto. Atau tak melulu main air dan membasahi orang orang yang ada disekitarnya.

Namun A'dinging-dinging dilakukan mulai dari Songkabala (tolak bala), Anrajo-rajo (ziarah ke makam leluhur), mengambil air suci dan Anrio-rio (mandi-mandi). Anrio-rio merupakan puncaknya.

Namun sebelumnya dilakukan pengambilan air suci dilaksanakan sebelum ritual Anrajo-rajo. Pengambilan air suci ini dilakukan oleh tujuh perempuan yang dituakan di kampung tersebut.

Mereka menggunakan kendi sebagai wadah untuk memgambil air tersebut dan berjalan kaki ke sumur tempat pengambilan air diiringi tabuhan gendang oleh dua anak laki laki.


Ritual A'dinging-dinging di Kepulauan Selayar.

Pada saat perjalanan kembali yang sudah membawa air suci, ke tujuh perempuan ini tidak diperbolehkan berbicara sampai air tersebut berada di tempat yang telah disiapkan.

Air ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit dan menolak bala bagi penduduk kampung Tenro yang meminum atau yang memandikannya pada zaman kejayaan Rihata Bakka Tenro Delempangan.

Usai prosesi tersebut maka main air pun dilakukan. Mayoritas bocah yang sudah siap sedia dengan wadah mereka menampung air suci tersebut.

Mereka mengelilingi kampung dan membasahi orang disekitar mereka. Hal ini menyenangkan mengingat makna dibalik ritual ini adalah menolak bala.

Menurut kepala desa Bontolempangan, Jamaluddin K, A'dinging-dinging sewaktu waktu dapat dipertontonkan pada saat kampung tersebut kedatangan tamu dari negeri seberang.

Dengan prosesi permandian anak Rara dan Daeng. Terselubung suatu makna yang menggambarkan kesejukan, kekompakan, kebersamaan dan kedamaian terhadap penduduk kampung Tenro.

Usai A'dinging-dinging, ada ritual A'manca Pa'dang. Ritual ini mempertontonkan dua laki laki yang bermain pedang.

Keduanya saling beradu untuk menjatuhkan satu dengan yang lain. Hal ini mengundang decak kagum dan sedikit jenaka oleh penonton. Sebab usia keduanya tak lagi muda namun tetap lihai mempertontonkan seni bela diri.

Usai A'manca Pa'dang, dilanjutkan Attojeng merupakan rangkaian dari ritual A'dinging-dinging.

Attojeng adalah mengayun dua perempuan yang duduk di ayunan yang terbuat dari bambu. Ayunannya kuat, bambu tempat menopang tangan sekira satu meter.


Anak-anak di Kepulauan Selayar menyaksikan ritual A'dinging-dinging.

Sambil diayun, perempuan tersebut menyanyikan lagu daerah khas Selayar. Semakin kencang ayunan, maka nyanyiannya juga semakin membahana. Mereka memakai baju adat Selayar.

Di kampung Tenro juga ada ritual berbalas pantun. Laiknya warga Betawi yang berbalas pantun, warga kampung ini juga melalukan hal yang sama.

Namun bedanya mereka memainkan rebana untuk mengiringi kata demi kata yang keluar dari tiga laki laki dan tiga perempuan. Ritual ini disebut A'bidi.

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan