Menpar Arief Yahya Mantapkan Digitalisasi dari Arena WTM 2015 London
Jangan terharu, jika brand Wonderful Indonesia sanggup bersaing di pasar global dan membungkam rival terdekatnya
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jangan terharu, jika brand Wonderful Indonesia sanggup bersaing di pasar global dan membungkam rival terdekatnya, Malaysia dan Thailand?
Jangan kaget pula, jika kelak “ayam goreng” khas kuliner daerah pun mendunia! Jangan heran, calendar of events dari daerah-daerah bakal menjadi trending topic di dunia internasional.
Apa sih mimpi terbesar yang menjadi generator pembangkit energi Menteri Pariwisata RI, Dr Ir Arief Yahya MSc saat ini? Apa yang sedang dia pikirkan untuk membuat pariwisata take off dari ketertinggalan oleh tetangga sebelah, Malaysia dan Thailand? Dengan modal apa, dengan cara apa, dengan logika apa, dengan pendekatan apa, dia sanggup “menyalip di tikungan” dan menjadi pemenang di kawasan ASEAN?
Dari arena World Travel Market (WTM) 2015 London, Arief Yahya semakin mempertegas garis visi dan aksinya: Pariwisata harus menjadi back bone (tulang punggung, red) ekonomi bangsa, dengan target wisman 20 juta di penghujung tahun 2019.
Harus double, bahkan lebih, dan tidak bisa tidak. “Itu mimpi saya. Itu imaginasi saya. Itulah great spirit saya, sumber energi yang membuat saya terus berlari sampai tercapai,” aku Mantan Dirut PT Telkom yang berpatokan pada teorinya sendiri, IFA-Imagination, Focus, Actions itu.
Yang dia tempatkan di ruang “I” atau imaginasi adalah target double dari capaian saat ini, dan mengalahkan rival-rivalnya, yang sudah sukses lebih dahulu. Devisa Malaysia dari pariwisata tahun 2013 sudah tembus USD 21 M, tahun 2014 jumlah wisman sudah tembus 27 juta. Devisa Thailand dari tourism tahun 2013, sudah USD 42 M.
“Indonesia masih USD 10 M, separohnya Malaysia, seperempatnya Thailand! Ini kenyataan pahit yang harus kita terima saat ini. Kita genjot sampai 100 persen pun, hitungan di atas kertas, belum tentu bisa menyaingi mereka. Tapi, keyakinan saya itu melebihi tantangan yang ada di depan mata! Saya yakin betul,” ungkap Arief Yahya.
Itu adalah tantangan eksternal, yang ujungnya adalah kemampuan mendownload lebih banyak jumlah wisman ke tanah air. Arief Yahya memang gemar menggunakan standar sukses orang lain, sehingga selalu menancapkan target dengan outworld looking.
Tetapi di internal sendiri, dia juga menyimpan sumber energi baru, untuk menaikkan level pariwisata, sebagai penghasil devisa negara terbesar, melampaui oil and gas (minyak dan gas bumi), coal (batubara), crude palm oil (minyak kelapa sawit).
Tahun 2014, Oil and Gas menyumbang USD 23M, disusul Coal USD 16M dan CPO USD 13M. Pariwisata masih jauh, dengan USD 8,2M.
“Kalau 20 juta wisman masuk 2019, sudah hampir pasti, pariwisata menjadi leading sector yang paling konkret, paling mudah, dan menggerakkan ekonomi masyarakat lebih dahsyat. Saya bukan tidak pernah membuat target double ketika menjadi Dirut Telkom, dan atmosfer dan suasananya sama dengan saat ini ketika mencanangkan target double. Saya ditertawakan banyak orang. Dalam dua tahun, 2013-2014, target kapitalisasi Rp 300 T dari Rp 150T tercapai,” papar Arief Yahya.
Lalu dengan cara apa? Melompat di target double itu?
“Digitalize! Ya, digitalisasi. Saya akan kejar dengan digital di semua lini. Ya marketing, ya organizing, ya controling, ya promotion, ya penyiapan back end, dan semuanya aktivitas kreatif, berbasis pada teknologi informasi. Hanya dengan cara ini, saya akan mengubah peta pariwisata dunia, dan Indonesia tertanam kuat di sana,” urai Arief Yahya di yang makin menyala-nyala setelah bertemu tim Trip Advisor di London.
Brand Wonderful Indonesia juga akan di-endorse oleh Ogilvy Public Relations, konsultan international yang sudah eksis di 69 kantor di seluruh dunia, dan menangani perusahaan raksasa, semacam LG Electronics, American Express, Ford, Bayer, Merck, Wyeth, Nestle dan lainnya.
David Mackenzie Ogilvy, CBE, yang membangun perusahaan periklanan dan hidup di era 1911-1999 itu pernah dijuluki “Penyihir yang paling dicari di industri periklanan” oleh Majalah Time. Buku terlarisnya, “Confessions of an Advertising Man” juga menjadi salah satu yang terpopuler soal periklanan.
Yang pasti, kata Arief Yahya, Wonderful Indonesia akan semakin berkibar menjadi top of mind di jagat pariwisata dunia. Apakah itu mungkin?
“Apa yang tidak mungkin? Kita punya potensi, kita punya kemauan, dan kita harus punya kemampuan untuk menuju ke sana!” tegas Arief Yanya yang juga sudah berkolaborasi dengan Google itu.
Digitalisasi dengan mengandalkan Teknologi Informasi, kata dia, adalah alat untuk mencapai tujuan. Bukan tujuan itu sendiri, tetapi hanya sebagai platform untuk menuju cita-cita besar itu.
“Kami sudah identifikasi, selain 3 great (Bali, Jakarta, Batam), kami juga mengembangkan 10 prioritas pariwisata nasional, yakni Danau Toba-Sumut, Belitung-Babel, Tanjung Lesung-Banten, Pulau Seribu-DKI, Borobudur-Jateng, Bromo-Jatim, Mandalika-NTB, Morotai-Malut, Labuan Bajo-NTT, Wakatobi-Sultra. Itu terus kami dorong untuk cepat menjadi destinasi unggulan, setelah 3 great,” ujar Menpar yang makin gencar bermain di digital.
Pasar utama China misalnya, 68 persen mendapatkan informasi objek wisata sebelum mereka outbond ke luar negeri, menggunakan internet. Sementara ada lebih dari 100 juta orang Tiongkok setiap tahun berjalan-jalan ke luar negeri.
Yang mampir ke Indonesia hanya 1 persen, 1 juta orang saja? Sedangkan yang terbang ke Hongkong menembus 45 juta, atau dua per tiga dari jumlah wisman Hongkong yang tahun 2014 menembus 60,8 juta orang. Wisman Tiongkok yang ke Maccau juga besar, 25 juta orang setahun.
Turis Inggris, menurut Arief Yahya, adalah pasar terbesar Eropa-Amerika. Inggris mengalahkan Prancis, Belanda, Italia dan negara-negara yang berada di Eropa Timur. Inggris juga growth atau bertumbuh 14 persen, dari tahun sebelumnya.
“Itulah mengapa World Travel Market 2015 London ini sangat strategis buat eksistensi Wonderful Indonesia, juga untuk sales mission 52 industri pariwisata yang memiliki basis pasar di Eropa,” kata dia, yang juga memiliki data bahwa wisman Inggris itu 82 persen berbasis digital.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/arief-yahya-di-londonnn_20151103_155516.jpg)