Breaking News:

Tiga Keluhan yang Paling Sering Disampaikan Wisatawan soal Pariwisata Bali

Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengaku ada tiga hal yang menjadi kekurangan dan kelemahan yang dikeluhkan wisatawan di Bali.

Kompas.com/Ayu Sulistyowati
Pemandian Yeh Sanih di Desa Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, memiliki keunikan sebagai obyek wisata unggulan di wilayah utara Pulau Dewata. Pengunjung bisa menikmati sejuknya air tawar Yeh Sanih. Meski terletak hanya beberapa meter dari bibir laut, air laut tidak pernah bercampur dengan air di Yeh Sanih. 

TRIBUNNEWS.COM, DENPASAR - Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengaku ada tiga hal yang menjadi kekurangan dan kelemahan yang dikeluhkan wisatawan di Bali.

Tiga Kelemahan tersebut di antaranya, sampah, macet dan pramuwisata tak berlisensi Bali.

bali
Pesona Bali. (Beautyamazing)

Kelemahan ini merupakan hasil survei yang harus secepatnya ditangani.

"Ini hasil survei kita terhadap wisatawan. Yaitu sampah, macet dan pramuwisata yang tidak berlisensi Bali," kata Mangku Pastika, di Denpasar, Selasa (5/1/2016).

Menurut Pastika, soal sampah memang diakui ada beberapa tempat tidak bisa menjaga kebersihan, walaupun masih banyak destinasi wisata yang sudah dapat menjaga kebersihannya.

Terkait kemacetan, lanjut Pastika, memang benar bahwa di Bali sudah seperti kota metropolitan yang kemacetannya terkadang tidak bisa dihindarkan, salah satu penyebabnya adalah pertumbuhan kendaraan.

"Kemacetan, memang karena pertumbuhan kendaraan kita yang luar biasa tingginya. Belum lagi arus lalu lintas dari Jawa yang datang ke Bali, tidak seimbang dengan pertumbuhan jalan. Harus ada solusi transportasi," ujarnya.

Kelemahan lainnya soal pramuwisata, banyak pramuwisata yang tidak memiliki lisensi Bali sehingga belum mampu memahami persis budaya Bali.

"Jika tidak memahami budaya Bali maka informasi yang diberikan akan tidak penuh dan terkadang salah informasi karena tidak tahu betul arti, makna dan lainnya terkait berbagai budaya yang ada di Bali," katanya.

Biasanya, lanjut Pastika, pramuwisata ini dari negara di mana wisatawan itu berasal.

Artinya wisatawan banyak yang membawa pemandu wisata sendiri atau mengambil pemandu yang bisa bahasa asal negara tersebut tapi minim pengetahuan terkait budaya Bali.

"Masalah inilah yang saat ini serius dipikirkan oleh Pemerintah Daerah Bali, agar pramuwisata asli Bali mampu menjadi pemandu wisata yang baik dengan berbekal kemahiran bahasa terutama bahasa Mandarin, Inggris, Korea, Jepang dan lainnya," tambah Pastika.

Editor: Malvyandie Haryadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved