Breaking News:

Di Indonesia Aja

Fakta Sejarah di 5 Destinasi Super Prioritas #DiIndonesiaAja

Mengingat Indonesia adalah negara kepulauan, perjuangan kemerdekaan pun turut tersebar di berbagai daerah di seluruh penjuru tanah air.

Shutterstock
Seorang pemuda mengibarkan bendera merah putih di Labuan Bajo. 

TRIBUNNEWS.COM – 17 Agustus merupakan momen di mana bangsa Indonesia secara resmi mengumandangkan kemerdekaannya. Kemerdekaan yang diraih 76 tahun lalu tersebut telah melalui sejarah perjuangan yang panjang.

Mengingat Indonesia adalah negara kepulauan, perjuangan kemerdekaan pun turut tersebar di berbagai daerah di seluruh penjuru tanah air. Tidak terkecuali di daerah yang termasuk dalam 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang.

Ternyata, ada cerita perjuangan di lima destinasi primadona tersebut yang jarang diketahui orang banyak, lho! Simak fakta sejarah perjuangan Indonesia di 5 DPSP berikut ini!

diindonesiaja

1) Raja dari Negeri Toba

Danau Toba, Sumatera Utara.
Danau Toba, Sumatera Utara. (Shutterstock)

Danau Toba di Sumatera Utara merupakan destinasi wisata yang terkenal akan keindahan alamnya. Di masa lalu, peperangan melawan penjajah juga terjadi di wilayah yang dikenal dengan nama Negeri Toba ini.

Perjuangan di wilayah Toba dipimpin oleh Patuan Besar Ompu Pulo Batu atau Sisingamangaraja XII.

Melansir Kompas, Sisingamangaraja XII berjuang memimpin perjuangan para masyarakat Batak melalui perang gerilya di wilayah Toba sejak tahun 1878.

Untuk mengingat jasanya, Sisingamangaraja XII kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah pada tanggal 9 November 1961.

2) Apel pasukan besar di Borobudur

Sebagai peninggalan budaya, Candi Borobudur menjadi salah satu warisan dunia yang terdaftar di UNESCO pada tahun 1991.

Ternyata, destinasi wisata populer di Jawa Tengah ini tidak hanya sarat nilai budaya, namun juga pernah menjadi lokasi peristiwa penting dalam perjuangan kemerdekaan.

Dilansir dari Kompas, menurut Budayawan Borobudur Ariswara Sutomo, desa-desa di sekitar Borobudur seperti Majaksingi, Tuksongo, dan Klontangan menjadi medan pertempuran antara para pejuang dengan pasukan Belanda.

Tidak kalah penting lagi, pada tahun 1949 pasukan yang dipimpin Panglima Besar Jenderal Sudirman pernah melaksanakan apel besar di pelataran candi tersebut.

Pasukan Jenderal Sudirman di pelataran Borobudur.
Pasukan Jenderal Sudirman di pelataran Borobudur. (dok. Kompas)

Disebutkan ketika itu, Jenderal Sudirman seraya menunggang kudanya, memimpin apel perang yang diikuti seluruh pasukan besar yang berada di pos-pos perjuangan di Kedu Selatan.

3) Tradisi Peresean, luapan kegembiraan prajurit di Mandalika

Sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), wilayah Mandalika, Nusa Tenggara Barat, juga memiliki sejarah perjuangan kemerdekaannya sendiri.

Dalam penelitian berjudul “Identitas Orang Sasak: Studi Epistemologis terhadap Mekanisme Produksi Pengetahuan Masyarakat Suku Sasak”, disebutkan bahwa Suku Sasak yang merupakan orang asli Mandalika dulunya mengalami penjajahan berulang-ulang sejak abad ke-14, termasuk oleh para penjajah Belanda dan Jepang.

Dua pemain peresean (pepadu) bertarung dalam kesenian tradisional presean di Desa Ende, Lombok, NTB, Minggu (26/11/2017). Peresean merupakan kesenian tradisional suku Sasak yang dulunya diadakan setiap musim kemarau panjang, namun saat ini juga dipertunjukkan untuk wisatawan. (Foto ini di ambil sebelum pandemi Covid-19).
Dua pemain peresean (pepadu) bertarung dalam kesenian tradisional presean di Desa Ende, Lombok, NTB, Minggu (26/11/2017). Peresean merupakan kesenian tradisional suku Sasak yang dulunya diadakan setiap musim kemarau panjang, namun saat ini juga dipertunjukkan untuk wisatawan. (Foto ini di ambil sebelum pandemi Covid-19). (ANTARA FOTO/SYAIFUL ARIF)

Dari sejarah penjajahan yang panjang tersebut, Suku Sasak melahirkan tradisi bernama Peresean. Jenis kesenian tradisional yang menjadi luapan emosional para raja dan prajurit setelah memenangkan pertempuran di medan perang.

Mengutip Jurnal Analisa Sosiologi, hingga sekarang, pertunjukan Peresean masih dilakukan pada acara-acara khusus di waktu-waktu tertentu, seperti pada saat hari ulang tahun desa atau pun kabupaten, juga pada saat perayaan HUT kemerdekaan RI.

4) Kontribusi Timorsch Verbond di NTT

Pulau Padar, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
Pulau Padar, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. (Shutterstock)

Dikenal sebagai salah satu destinasi plesiran impian, Labuan Bajo yang terletak di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini juga punya peristiwa sejarah dalam perjuangan kemerdekaan, lho.

Melansir Arsip Citra Kabupaten Manggarai Barat dari Arsip Nasional Republik Indonesia, disebutkan bahwa sejak tahun 1920 telah terjadi pergerakan politik melawan penjajahan di NTT.

Pergerakan di NTT tersebut semakin menguat dengan dibentuknya organisasi nasional Timorsch Verbond pada tahun 1921. Walaupun Timorsch Verbond berpusat di luar daerah Nusa Tenggara Timur, tetapi cabang-cabangnya sebagian besar berada di daerah Nusa Tenggara Timur

Sebagai sebuah organisasi, Timorsch Verbond yang dipimpin oleh J.W Amalo ini pernah mengadakan sebuah kongres politik besar di NTT dan bekerja sama dengan PPKI yang punya peranan penting dalam merencanakan kemerdekaan Indonesia.

5) Tiga tokoh berjasa dari Likupang

Ada banyak tokoh Minahasa yang berperan dalam perundingan serta perang melawan penjajah. Termasuk juga tokoh yang berasal dari Likupang, destinasi wisata yang terletak di Minahasa Utara, provinsi Sulawesi Utara.

Veldbox peninggalan Belanda di wilayah Minahasa.
Veldbox peninggalan Belanda di wilayah Minahasa. (Tribun Manado/Ryo Noor)

Dikutip dari Buku Sejarah dan Kebudayaan Minahasa yang ditulis Jessy Wenas, ada tiga tokoh penting dari Likupang dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Tiga tokoh tersebut adalah Andries Lintong, Bernadus Kalengkongan, dan Hendrik Pontoh yang turut serta dalam pertemuan dengan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada tahun 1803, terutama untuk membahas sistem produksi beras yang menguntungkan bagi kesejahteraan rakyat Minahasa.

Dengan wilayahnya yang luas dan terdiri dari beribu-ribu pulau, selalu ada cerita dan fakta sejarah bangsa yang belum diketahui banyak orang.

Mengingat Indonesia masih berperang melawan pandemi Covid-19, semoga fakta-fakta sejarah tersebut dapat tetap mengobarkan semangat #IndonesiaTangguhIndonesiaTumbuh dalam dirimu. Agar kamu juga kian semangat untuk menghentikan penyebaran virus dan melindungi orang-orang tercinta di sekitarmu.

Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh

Menyambut HUT RI yang ke-76, yuk tingkatkan kembali semangat untuk memerangi pandemi Covid-19! Salah satunya dengan mengutamakan aktivitas #DiRumahAja dan menerapkan protokol kesehatan 6M, yakni mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, menghindari makan bersama, dan mengurangi mobilitas.

Jika ada keperluan mendesak yang mengharuskan kamu keluar rumah, jangan lupa untuk menerapkan protokol CHSE di berbagai tempat ya!

Yang tak kalah penting, upaya efektif menekan angka penyebaran Covid-19 bisa kamu lakukan adalah dengan melaksanakan vaksinasi. Vaksinasi dapat mendorong herd immunity agar #IndonesiaTangguhIndonesiaTumbuh dan segera terbebas dari pandemi.

Di sisi lain, Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno, terus mendorong tercapainya target vaksinasi sebagai upaya pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia, agar roda perekonomian dapat kembali menggeliat.

Sejak bulan Februari 2021, Kemenparekraf bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Pemerintah Daerah, serta pihak swasta dalam memfasilitasi vaksinasi kepada lebih dari 32.641 orang melalui Fasilitasi Sentra Vaksin yang ditujukan bagi masyarakat umum maupun pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali, Jakarta, Yogyakarta, Batam, dan Bintan.

Di awal semester kedua hingga akhir tahun 2021 ini, Kemenparekraf akan terus mendorong adanya sentra vaksin baru.

“Sehingga di akhir bulan Agustus ini Kemenparekraf/Baparekraf bersama-sama dengan 6 PTN Pariwisata dan 3 Badan Otoritas dapat melakukan vaksinasi kepada 38.276 pelaku parekraf dan masyarakat umum. Diharapkan program ini dapat dilaksanakan terus menerus setiap bulan hingga akhir tahun 2021 sebagai upaya mendukung target vaksinasi Pemerintah Pusat demi tercapainya herd immunity,” ujar Menparekraf Sandiaga Uno, dikutip dari “Siaran Pers: Menparekraf All Out Dukung 3 Juta Vaksinasi, Pariwisata Segera Pulih, Ekonomi Bergerak, dan Lapangan Kerja Kembali Tercipta” di situs resmi Kemenparekraf, Sabtu (17/7/2021).

Rayakan 17 Agustus-an #DiRumahAja? Mengapa tidak! Kamu tetap dapat memeriahkan HUT RI ke-76 dengan seru, lho! Misalnya, dengan membeli kerajinan tangan dan kuliner khas Indonesia dari berbagai jenama lokal. Dengan #BeliKreatifLokal, kamu dapat membantu UMKM Indonesia bertahan di tengah gempuran pandemi.

Ada juga aktivitas seru dari Pesona Indonesia yang bisa kamu lakukan dalam menyambut Hari Kemerdekaan RI #DiRumahAja, yaitu dengan mengikuti kompetisi 17 Agustusan #MelodiKemerdekaan di Instagram.

Dalam kompetisi ini, kamu dapat mengunggah video kreasi menyanyikan salah satu lagu daerah #DiIndonesiaAja yang sudah ditentukan di laman resminya. Buatlah video sekreatif mungkin berdurasi 1 menit; boleh sambil menari, bermain musik, atau menggunakan kostum dan aksesoris meriah agar peluang menang semakin besar.

Kemudian, unggah video kreasimu di Instagram Feed, follow dan mention akun Instagram @pesonaid_travel, sertakan hashtag #MelodiKemerdekaan pada caption. Jangan lupa mention 3 orang temanmu untuk ikutan ya!

Kompetisi berlangsung hingga 20 Agustus 2021. Yuk, ikutan! Ada hadiah uang tunai total jutaan rupiah untuk 3 juara terpilih dan hadiah hiburan yang menarik untuk 20 orang pemenang terpilih!

Follow juga akun instagram @pesonaid_travel untuk mengikuti update dari kompetisi Video Kreasi #MelodiKemerdekaan dan dapatkan informasi mengenai pariwisata Indonesia serta ekonomi kreatif lokal lainnya.

Penulis: Anniza Kemala/Editor: Bardjan

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved