Breaking News:

Sekretariat GoTo Curigai JHAT Perusahaan Perhotelan Jepang Lakukan Kecurangan

Kecurigaan penggunaan tidak sah kupon atas program GoTo Travel yang melibatkan anak perusahaan HIS, JHAT Co.Ltd. dituduhkan Sekretariat GoTo baru-baru

Foto JHAT
Situs Hotel JHAT Co.Ltd (Japan Hotel Advanced Technologies) 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO -  Kecurigaan penggunaan tidak sah kupon atas program GoToTravel yang melibatkan anak perusahaan HIS, JHAT Co.Ltd. dituduhkan Sekretariat GoTo baru-baru ini.

Ditemukan bahwa sekretariat GoTo sedang menyelidiki hotel dari perusahaan manajemen hotel yang menyediakan kamar, dengan asumsi ada sekitar 1400 menginap jangka panjang yang tidak wajar termasuk di salah satu anak perusahaan HIS.

Masalah ini diduga penipuan, seperti kurangnya akomodasi di banyak aplikasi GoTo yang melibatkan dua anak perusahaan HIS, dan semua akomodasi adalah hotel yang dioperasikan oleh perusahaan pengelola hotel JHAT.

Dalam wawancara selanjutnya dengan pihak terkait, sekretariat GoTo menyelidiki bahwa ada sekitar 1.400 aplikasi yang tidak wajar, termasuk untuk anak perusahaan HIS, seperti menginap jangka panjang lebih dari beberapa puluh malam di lebih dari 10 hotel yang dioperasikan oleh JHAT. 

Dari jumlah tersebut, diperkirakan sekitar 200 orang menginap di hotel di Taito-ku, Tokyo selama 69 malam berturut-turut, dan pemerintah mensubsidi sekitar 270 juta yen untuk hotel dan agen perjalanan.

Selain itu, dikatakan bahwa sekitar 260 orang menginap di hotel di  Koto-ku selama 43 malam berturut-turut.

Menanggapi tuduhan Sekretariat GoTo, JHAT berkomentar, "Kami pada prinsipnya telah membuat reservasi untuk penggunaan akomodasi, dan tidak ada niat untuk penggunaan yang tidak sah."

Di sisi lain, selain hotel yang berafiliasi dengan JHAT, ada lebih dari 900 malam berturut-turut yang tidak wajar, dan sekretariat GoTo sedang menyelidiki apakah ada penipuan dalam aplikasi untuk lebih dari 2.300 orang secara total.

Program GoToTravel di waktu lalu membuat masyarakat banyak bepergian dan belanja karena adanya diskon yang besar bisa sampai 50% dan jumlah tersebut diganti oleh pemerintah untuk memutar roda perekonomian Jepang lebih lanjut di tengah masa pandemi corona.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved