Jumlah Kunjungan Dibatasi, Konsep Taman Nasional Komodo Akan Diubah Jadi Pariwisata Berkelanjutan

Kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo yang terus naik setiap tahun dan tanpa ada pembatasan diyakini akan mengancam kelestarian spesies di sana

Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
Tribunnews/Irwan Rismawan
Kapal wisatawan bersandar di Pulau Padar di kawasan Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Minggu (28/3/2021). Pemerintah mulai membatasi jumlah wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo, mulai Agustus 2022. Tribunnews/Irwan Rismawan 

Laporan Wartawan Tribunnews, Lita Febriani

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jumlah kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur, yang terus naik setiap tahunnya dan tanpa ada pembatasan diyakini akan mengancam kelestarian spesies di sana.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menyiapkan Program Penguatan Fungsi sebagai perwujudan komitmen pemerintah dalam upaya menjaga keutuhan nilai jasa ekosistem Taman Nasional Komodo.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong, menjelaskan terkait dengan urgensi dalam penguatan fungsi, Pulau Komodo, Pulau Padar dan Kawasan Perairan Sekitarnya tetap dibuka, namun dengan pembatasan dan manajemen kunjungan tersistem sebagai upaya perlindungan, pengaturan dan tata kelola kawasan Taman Nasional Komodo.

"Hal ini untuk mengajak masyarakat secara kolektif beralih ke pariwisata berkelanjutan yang lebih sadar akan dampak aktivitasnya dan bahwa daya tarik wisata dan kelestarian konservasi dapat hidup berdampingan," tutur Alue Dohong dalam Komodo Press Conference di kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, Senin (27/6/2022).

Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur Josef Nae Soi, menyampaikan akan ada empat agenda penguatan fungsi yang akan dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur di Taman Nasional Komodo.

"Agenda tersebut adalah penguatan kelembagaan, perlindungan dan pengamanan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan wisata alam," jelas Josef.

Baca juga: Berlaku Mulai Agustus, Kunjungi Taman Nasional Komodo Beli Tiketnya Harus Via Online

Melihat tren kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo dalam sepuluh tahun terakhir terjadi peningkatan jumlah yang signifikan akibat promosi intensif pada di sosial media.

Meskipun meningkatkan ekonomi, hal ini memberikan dampak terhadap perilaku Komodo.

Baca juga: Meski Ada Desakan, Proyek Pembangunan Pariwisata di Taman Nasional Komodo Akan tetap Dilanjutkan

Kepala Balai Taman Nasional Komodo Lukita Awang, menyebut Komodo yang berada di area dengan aktivitas manusia tinggi atau ekowisata secara signifikan menunjukan berkurangnya kewaspadaan dan cenderung adaptif dengan keberadaan manusia.

Seekor rusa berada di pantai Pulau Padar, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Minggu (28/3/2021). Pulau Padar merupakan pulau yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo dan menjadi objek wisata yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan di Labuan Bajo. Tribunnews/Irwan Rismawan
Seekor rusa berada di pantai Pulau Padar, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Minggu (28/3/2021). Pulau Padar merupakan pulau yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo dan menjadi objek wisata yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan di Labuan Bajo. Tribunnews/Irwan Rismawan (Tribunnews/Irwan Rismawan)

"Komodo yang berada di lokasi ekowisata cenderung memiliki bobot lebih besar, dimana hal ini bisa berdampak pada kerusakan ekosistem sekitarnya (kebutuhan pangan meningkat yaitu rusa)," Lukita.

Mulai 1 Agustus 2022, pemerintah akan membatasi jumlah kunjungan wisatawan ke TN Komodo sebanyak 200.000 orang per-tahun dengan sistem pemesanan tiket dilakukan secara online.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved