PHRI Keberatan Harga Tiket Pesawat Kini Sudah Keterlaluan Mahalnya

PHRI menegaskan, tarif tiket pesawat mahal akan menggannggu pemulihan ekonomi dan upaya membangkitkan sektor pariwisata Tanah Air

Editor: Choirul Arifin
Warta Kota/Nur Ichsan
Kesibukan penumpang pesawat di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Rabu (20/10/2021). PHRI keberatan atas fenomena tarif tiket pesawat mahal karena akan menggannggu pemulihan ekonomi dan upaya membangkitkan sektor pariwisata Tanah Air. (Warta Kota/Nur Ichsan) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kalangan pengusaha perhotelan yang tergabung dalam  Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyatakan keberatan atas tarif tiket pesawat yang kini tinggi.

Jika kecenderungan tarif tiket pesawat mahal terus berlanjut dikhawatirkan akan menekan animo masyarakat berwisata.

Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran menegaskan kenaikan harga tiket pesawat akan berdampak negatif pada upaya percepatan pemulihan ekonomi Indonesia dan upaya mendorong kebangkitan sektor pariwisata Tanah Air.

"Dalam pariwisata, ada konsep 3A yakni Amenitas, Atraksi dan Aksesibilitas. Aksesibilitas akan menjadi hambatan karena kenaikan harga tiket atau berkurangnya frekuensi penerbangan," ujarnya.

"Hal ini akan berdampak pada pariwisata, terutama dari perspektif hotel dan restoran khususnya di daerah-daerah di luar Pulau Jawa, seperti Bali, NTB, NTT, Sumatera Utara, Padang, Kalimantan, Sulawesi, Papua," lanjutnya.

Kenaikan tiket pesawat akan menjadi kendala tersendiri untuk meningkatkan okupansi di daerah sana sebab sumber pergerakan ada di Jakarta, jika kita membicarakan wisata domestik," ujarnya saat dihubungi oleh Kontan, Rabu, 6 Juli 2022.

Baca juga: Menparekraf: Kenaikan Harga Tiket Pesawat Karena Adanya Revenge Travel

Ia menambahkan, pada tahun 2019 lalu isu kenaikan harga tiket pesawat juga ada dan memberikan efek pada penurunan kegiatan pariwisata.

Saat itu masalahnya hanya ada di penerbangan domestik, namun saat ini juga terjadi pada harga tiket pesawat internasional. Namun saat itu, bisa menguntungkan bagi pelaku perjalanan luar negeri ke domestik.

Baca juga: Tiket Pesawat Masih Mahal, Kemenhub akan Evaluasi Besaran Fuel Surcharge

Pada masa tersebut masyarakat Indonesia yang melakukan perjalanan wisata ke luar negeri juga tinggi, atau tercatat kurang lebih sekitar 10 juta orang.

Hal ini membuat wisata domestik lebih sepi dibandingkan luar negeri pada tahun 2019. Ia memproyeksi, hal yang sama bisa terulang kembali tahun ini.

Halaman
12
Sumber: Kontan
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved