Blog Tribunners
Memahami Agresivitas Mahasiswa Makassar
HATI terluka bak tersayat sembilu ketika mendengar berita, "dodo" mahasisw
Kedua Fakultas tersebut menjadi sasaran penyerangan karena diduga pelaku pembacokan yang menewaskan "dodo" dan melukai seorang temannya berasal dari dua fakultas tersebut.
Peristiwa kekerasan antarmahasiswa ini bukan yang pertama, setidaknya ada beberapa peristiwa tawuran yang dilakukan oleh mahasiswa Makassar dalam waktu yang berdekatan.
Tanggal 14 juni 2010 tawuran antara fakultas ekonomi dengan fakultas olah raga UNM. Konon persitiwa ini berawal dari adanya saling ejek di sebuah pertandingan futsal.
Tanggal 18 Mei 2010 terjadi tawuran antara fakuktas teknik dengan fakultas Olah Raga UNM.
Tanggal 25 Mei 2010 di UNHAS sempat terjadi tawuran antara mahasiswa FISIPOL dengan Mahasiswa Fakultas Teknik.
Perisitwa lain yakni tawuran antara mahasiswa peternakan dan mahasiswa teknik UNHAS yang bermula seorang mahasiswi diganggu oleh mahasiswa yang mengaku berasal dari Fakultas Pertanian.
Sangat disayangkan mengapa mahasiswa mudah sekali terjebak dengan tindakan agresif dan kekerasan sebagai media dalam menyelesaikan konflik. Padahal hal itu sangat paradoks dengan kaum intelektual yang disandangnya.
Dalam kajian Psikologi Sosial ada beberapa teori yang menjelaskan tentang perilaku agresivitas, psikoanalisis-freudian menjelaskannya sebagai instink destruktif (bahwa setiap manusia memiliki sifat bawaan untuk merusak).
Hipotesis frustasi agresi menjelaskan bahwa perilaku agresi timbul atas dorongan dari keadaan deprivasi (kondisi kehilangan atau kekurangan), harga diri adalah kebutuhan manusia, karena itu ketika seseorang merasa kehilangan atau terusik harga dirinya, maka ada kebutuhan untuk mengembalikan keutuhan harga diri tersebut salah satunya melalui tindakan agresif.
Hipotesis ini juga menjelaskan bahwa frustasi mengaktifkan kenginan untuk melakukan tindakan agresif, frustasi timbul akibat adanya pengaruh eksternal yang dianggap menjadi penghalang tercapainya tujuan.
Misalnya pada pertandingan futsal, kekalahan tim A oleh tim B dapat menimbulkan frustasi tersendiri pada tim A baik pada penontonnya maupun pemainnya, dan tim B dianggap sebagai penghalang tercapainya tujuan yakni kemenangan. Tim B dianggap sebagai sumber frustrasi yang memicu terjadinya tindakan agresi baik yang dilakukan oleh pemain maupun oleh penonton yang biasanya dimulai dengan agresi–verbal (umpatan, cacian atau hinaan).
Nisbet tahun 1993 menjelaskan bahwa agresifitas juga terkait dengan faktor budaya, yakni adanya penerimaan yang tinggi terhadap penggunaan kekerasan, baik untuk pertahanan diri maupun untuk merespon atau provokasi sebagai cara untuk mempertahankan kehormatan.
Hipotesis hawa panas juga merupakan salah satu kajian yang menjelaskan perilaku agresi berbagai penelitian menunjukkan hasil yang konsisten bahwa kriminalitas dan kekerasan lebih meluas pada daerah-daerah yang suhunya panas dari pada wilayah dengan suhu lebih sejuk atau dingin.
Sementara dalam hemat penulis peristiwa tawuran ini terjadi, berawal dari penerapan komunikasi destruktif yakni komunikasi yang menghancurkan perasaan-perasaan positif dan menghilangkan keinginan untuk berkomunikasi lebih jauh dan tergantikan dengan rasa amarah, benci dan dendam karena pilihan kata dan simbol yang digunakan adalah tidak beretika, tidak taat aturan, menyakitkan serta serta tidak mampu menghargai dinamika dan perbedaan.
Selain itu, Peristiwa tawuran ini mengindikasikan rendahnya kepekaan dalam memahami suasana psikologis kelompok dengan identitas berbeda. Sebuah penetrasi yang terlalu mudah memasuki ruang ruang sensitive yang kemudian menyulut emosi perlawanan. Selain itu kelompok-kelompok mahasiswa ini terlalu mudah terjebak pada ruang perbedaan yang takarannya jauh lebih kecil (hanya perbedaan fakultas atau hanya beda kampus) tanpa pernah melihat kesamaan identitas yang ukurannnya jauh lebih besar (sebagai warga Sul-Sel atau sebagai sesama anak bangsa).
Karena itulah perlu ada pemaknaan yang lebih dalam mengenai perbedaan dan konflik. Manusia setiap saat berhadapan dengan konflik. Konflik tidak selamanya negatif. Konflik memberikan kesempatan kepada manusia untuk belajar menghargai perbedaan. Konflik adalah medan subur untuk melatih kecerdasan kita secara keseluruhan, baik kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi, kecerdasan sosial juga kecerdasan spiritual.
Konflik akan selalu hadir sering kehidupan manusia sebagai sunnatullah dan itu bukanlah sebuah kekeliruan. Harmoni bukanlah hidup tanpa konflik, tapi sejauh mana individu atau kelompok mengelolah konflik tersebut untuk tidak menjadi benturan, perilaku agresif dan kekerasan serta destruktif.
Karena itu berangkat dari persoalan diatas maka penulis berpikir bahwa sudah saatnya mahasiswa dibekali dengan kemampuan resolusi konflik mengingat rentangnya mahasiswa Makassar terlibat dalam berbagai peristiwa anarkis dan kekerasan yang sangat merugikan banyak pihak bukan saja pada mahasiswa yang bersangkutan, kampus itu sendiri, proses belajar mengajar, yang lebih penting lagi pada citra kota Makassar yang negatif di dunia luar.
Kemampuan komunikasi dan negosiasi menjadi skill penting yang perlu dimiliki mahasiswa untuk mencari titik temu atas sebuah miskomunikasi dan perbedaan. Komunikasi menjadi begitu penting untuk mempertahankan keutuhan rasa kesatuan. Komunikasi yang diharapkan dikembangkan oleh mahasiswa baik dalam masa resolusi terlebih dalam masa damai adalah komunikasi emphatic, yakni kemampuan verbal dan non-verbal untuk memberikan kesempatan pada orang lain untuk tetap merasa nyaman dengan segala kondisinya, sehingga orang tersebut tidak terbersit hatinya untuk menyerang dan menganggap kita sebagai lawan yang harus di hancurkan.
Komunikasi, tata bahasa menjadi sangat penting untuk dijaga, kerap kali dilupakan bahwa tugas kita bukan sekedar memenangkan kepentingan sendiri, bukan sekedar memuaskan libido oral kita, tapi kemenangan kita kepuasan kita tidak boleh menghilangkan rasa nyaman orang lain atau kelompok lain. Komunikasi yang empatik dan persuasive akan meredam kemarahan sementara komunikasi destruktif akan memicu provokasi dan agresif.
Penggunaan simbol-simbol kekerasan seperti pentungan, parang, badik, busur, bamboo runcing, lemparan batu dan sebagainya sebaiknya dihilangkan dari lingkungan kampus. Bahasa kampus adalah bahasa dialektika, komunikasi yang santun dan menempatkan perbedaan sebagai keniscayaan.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.