Tribunners / Citizen Journalism
Berkuda yang Mestinya tak 'Diperkuda'
JANGAN pernah menyepelekan kuda sebab kuda dari masa ke masa adalah simbol dari pekerja keras
Sementara itu, terkait hubungannya dengan KON, proses keanggotaan EFI dilakukan melalui mekanisme sidang komisi yang dipaksakan. Ini terjadi pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) KONI di Hotel Preanger, Bandung, Jabar, 21-22 Februari 2013 lalu. Proses masuknya EFI mengundang protes keras karena pengambilan suara (voting) dinilai tidak sah dan tidak sesuai dengan kuorum. Voting untuk memutuskan keanggotaan EFI hanya diikuti oleh 36 anggota KONI, dari total 83. Hasil voting, 16 menerima, 10 menolak dan 10 abstain.
Proses masuknya EFI sebagai anggota baru KON juga tidak terlepas dari pemaksaan kehendak yang dilakukan oleh pimpinan KON sendiri. Hal ini terkait dengan adanya Surat Keputusan (SK) Ketum KONI tertanggal 10 April 2012 terkait pengukuhan personalia kepengurusan PP Pordasi periode 2011-2015 yang diketuai oleh Muhammad Chaidir Saddak. Dalam SK itu, kepengurusan PP Pordasi 2011-2015 tanpa komisi equestrian, sehingga hanya komisi pacu, polo dan peternakan yang diterakan.
SK Tono Suratman terkait pengukuhan personalia PP Pordasi 2011-2015 tersebut sebenarnya sudah ditangkis oleh PP Pordasi melalui suratnya tertanggal 18 April 2012 yang ditandatangani langsung oleh Muhammad Chaidir Saddak. Dalam surat itu, Pordasi mengajukan protes dan keberatan atas dihilangkannya komisi equestrian dalam struktur kepengurusan PP Pordasi 2011-2015 tersebut. Apalagi, pada Rapat Anggota KON tahun 2010 dan 2011 ada rekomendasi bahwa KON mestinya tetap memfasilitasi pengembalian status NF equestrian dari EFI kepada komisi equestrian Pordasi.
Surat tanggapan Pordasi atas SK Ketum KON terkait pengukuhan kepengurusan Pordasi 2011-2015 itu tidak pernah direspon oleh Tono Suratman, hingga ke saat berlangsungnya RAT di Bandung. Pada saat digelarnya RAT di Hotel Preanger inilah, dengan modal "SK bodong" Ketum KON 10 April 2012 itu, pengurus EFI bergerilya ke KON-KON daerah daerah dengan menyebarkan dusta bahwa equestrian sudah tidak menjadi bagian dari Pordasi sehingga KON daerah harus menyesuaikan pada Pengprov Pordasi untuk mengeluarkan equestrian dan menjadi EFI Provinsi.
Pordasi sendiri sebenarnya tidak pernah merasa keberatan jika equestrian bisa berdiri sendiri, sejauh pemisahan itu dilakukan melalui mekanisme organisasi. "Sejak awal saya selalu menegaskan, mari kita bicarakan baik-baik dan kita selesaikan secara internal," kata Muhammad Chaidir Saddak, ketum PP Pordasi. Walau begitu, Eddy Saddak keberatan jika keputusan Tono Suratman untuk menghilangkan komisi equestrian dari struktur kepengurusan Pordasi 2011-2015 didasarkan pada Memorandum of Understanding (MoU) antara Pordasi dan EFI pada 13 Maret 2012, antara lain mengenai kesanggupan dari ketum Pordasi untuk menyelenggarakan Munaslub Pordasi, di mana salah satu agendanya adalah adanya rencana untuk membicarakan masalah adanya wacana pemisahan dan pelepasan pembinaan equestrian dari Pordasi.
Pada Rakernas Pordasi 11 Mei di Jakarta, MoU antara Pordasi dengan EFI tersebut dimentahkan kembali oleh peserta Rakernas. Disamping menganulir MoU, Rakernas juga memutuskan bahwa Pordasi tidak akan menyelenggarakan Munaslub, karena tidak sesuai dengan AD/ART Pordasi. Keputusan penting lainnya adalah, menetapkan equestrian sebagai bagian yang tak terpisahkan dari struktur kepengurusan PP Pordasi.
Sebagai tindak-lanjut dari Rakernas Pordasi, pada 14 Desember 2012 di Bandung dilangsungkan Munas dari Masyarakat Equestrian Indonesia, yang menghasilkan pembentukan Equestrian Indonesia atau Eqina. Setelah dibentuk, langsung digelar Rapat Koordinasi (Rakor) Eqina dan PP Pordasi yang hasilnya menyetujui masuknya Eqina menjadi bagian dari Pordasi. Setelah itu, Pordasi kemudian menyampaikan pembentukan Eqina Pordasi kepada pimpinan KON dan KOI masing-masing melalui surat pada 26 Desember 2012 dan 29 Januari 2013.
Dalam surat itu, dilaporkan bahwa pada Rapat Koordinasi Nasional Pordasi dan Musyawarah Nasional Masyarakat Equestrian Indonesia yang dihadiri 22 klub equestrian di Indonesia dan 18 Pengprov Pordasi, diputuskan pembentukan Eqina. Duet Jose Rizal Partokusumo dan Ardi Hapsoro Hamidjoyo ditunjuk sebagai ketua umum dan sekjen.
'ON THE TRACK'
Mungkin masih bisa diperdebatkan, apakah dalam jangka panjang 'perselisihan' yang terjadi diantara pemangku equestrian yang tergabung dalam EFI dan Eqina akan menimbulkan kerugian besar pada proses pembinaan equestrian itu sendiri. Di satu sisi, bagaimana pun ini menjadi sebuah pembelajaran dalam pencapaian berorganisasi yang baik. Eqina, yang mendapat dukungan dari mayoritas pelaku equestrian, wajar jika tetap berada dalam tatanan konstitusional.
Itu pula yang membuat Eqina mampu bergerak cepat dalam merumuskan program kerja atau kegiatan tahun 2013. "Kami on the track," kata Ardi Hapsoro Hamidjoyo, sekjen Eqina. Program pembinaan jangka panjang sudah dijabarkan dengan pencanangan 11 seri kejurnas yang digelar selama 2013 ini. Sejauh ini, tiga seri kejurnas sudah dilaksanakan dengan baik melalui kejuaraan AE Kawilarang Memorial I, Eqina Terbuka dan Jateng Masters.
Pada 25 dan 26 Mei, di Anantya Riding School, Gunung Putri, Bogor, dilaksanakan training-center yang akan melibatkan rider senior dan yunior Eqina. Inilah momen di mana para riders akan mencoba untuk fokus menghadapi kelas-kelas 'baru'. Para rider senior, misalnya, dikonsentrasikan untuk mulai menguasai kelas 140 meter pada nomor show jumping di mana sebelum ini mereka paling tinggi hanya 'bertarung' maksimal di kelas 130 meter. Sementara itu, untuk rider yunior, kelas mereka juga akan dinaikan dari maksimal 100 meter menjadi 110 meter.
Dalam seri kejurnas berikutrnya para rider senior dan yunior sudah akan berseteru di kelas hingga 140 meter dan 110 meter tersebut. Pada 15-16 Juni, digelar seri kejurnas dengan memperebutkan Piala Gubernur DKI Jaya Joko Widodo di Pulo Mas, yang dikaitkan dengan perayaan menyambut HUT Kota Jakarta ke-486. Juli tidak ada kegiatan karena Ramadhan, dan seri kejurnas dilanjutkan pada Agustus dengan gelaran kejuaraan Piala Kapolri di Ditpolsatwa stable, Kelapa Dua, Depok. Setelah itu, ada AE Kawilarang Memorial II, kejuaraan Radius Prawiro Open, Jateng Masters II di Semarang, dan AE Kawilarang Memorial III di Pulo Mas.
* Tubagus Adhi, Wartawan senior tinggal di Jakarta
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.