Tribunners / Citizen Journalism
Grace dan Referendum Equestrian
GRACE sudah menanti saat Ardi Hapsoro Hamidjoyo, Maria Audira, putrinya, serta Samantha Born dan Nadhira Fatharani tiba di Cijanggel, Parompong.
Jadi memang harus dilihat latar belakang mengapa peristiwa itu terjadi. Bahwa dalam perjalanannya EFI menyimpang dari tujuan pendiriannya, sehingga mayoritas masyarakat equestrian mendeklarasikan berdirinya Eqina dibawah Pordasi, itu adalah kehendak mayoritas masyarakat equestrian.
Analoginya adalah sama dengan masyarakat Timor Timur yang melakukan referendum untuk merdeka keluar dari NKRI. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk tidak keluar dari NKRI. Jadi memahaminya hrs secara comprehensive.. Eqina didirikan melalui rakernas Pordasi, maka Eqina adalah 'legitimate' karena didirikan sesuai keputusan rapat anggota Pordasi.
"Jadi, pemikiran menyatukan equestrian dengan membubarkan Eqina Pordasi menurut saya keliru karena Eqina kan komisi equetrian di dalam Pordasi yangdiberi otonomi khusus. Harus dicari alternatif lain misalnya referendum, dimana dilakukan pertemuan seluruh masyarakat equestrian utk menentukan masa depan mereka. Pordasi dan Menpora bisa memfasilitasi pertemuan tersebut," papar Alex Benyamin
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.