Selasa, 9 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Dalam Kebenaran Mereka Terus Melangkah

SENJA hampir berlalu di Anantya Riding Club, di sebuah sudut kawasan Gunung Putri yang asri dan tenang, jauh dari keramaian.

Tayang:
Editor: Toni Bramantoro

Oleh Tubagus Adhi

SENJA hampir berlalu di Anantya Riding Club, di sebuah sudut kawasan Gunung Putri yang asri dan tenang, jauh dari keramaian. Suasana yang nyaman itu membuat Sidik Priyatmo terus asyik bercerita. Sesekali ia memalingkan pandangannya ke 'course' dihadapannya, di mana anak sulungnya, Galih, tengah berlatih di atas kuda tunggangannya, GP Totilas.

Galih Rasiyono, Diza Gupita, dan Anjasmara Wibisono, adalah tiga anak pasangan Sidik Priyatmo dan Retno Indarwati. Mereka adalah salah satu dari 'keluarga berkuda'. Sidik dan istrinya, Retno, tak pernah absen untuk selalu mendampingi putra-putrinya berkiprah dalam setiap aktivitas Equestrian Indonesia (Eqina). Tak terkecuali pekan ini, saat Eqina menggelar pelatihan terpadu untuk atlet-atlet senior dan yuniornya, Jumat hingga Minggu (24-26/5) ini di Anantya Riding Club.

Galih dan Anjas ikut serta dalam training-camp ini, sebagai ajang pembekalan untuk best-ferfomance para riders Eqina di seri kejurnas AE Kawilarang Memorial II sekaligus perebutan Piala Gubernur DKI, pada 14-16 Juni mendatang di arena pacuan kuda Pulo Mas, Jakarta Timur. Diza tak ikut pelatihan karena masih dalam pemulihan dari cedera yang dialaminya di Jateng Masters.

Sidik Priyatmo tak menyembunyikan kebanggaannya kepada Galih, Diza dan Anjas. "Sesekali saya memang masih suka diatas kuda juga, tetapi itu hanya sekadar buat ngeluarin keringat saja, beda sama anak-anak ini," kata Sidik, pemilik Andiga stable di Pulo Mas. Galih (22), mahasiswa semester 7 Universitas Indonesia, Diza (19/semester 2 di Usakti), dan Anjas (15/baru duduk di kelas 1 SMA) terus ambil-bagian dalam tiga seri kejurnas Eqina.

Mereka tak ketinggalan memberi dukungan langsung pada anak-anaknya di kejuaraan Jateng Masters, di Tengaran, selatan Semarang, akhir April lalu. "Anak-anak sudah cinta berat sama olahraga ini, jadi kami harus benar-benar mendukungnya," papar Sidik, yang mengaku pernah kerja kantoran tetapi kini punya usaha sendiri. "Berkuda itu harus full hobi juga, kalau tidak, susah untuk menekuninya. Suka atau tidak suka kami juga tak harus memikirkan cost yang dikeluarkan, yang jelas banyaknya piala di rumah sudah membanggakan," papar lelaki paruh baya itu.

Galih termasuk 'pendiri' dari perkumpulan berkuda Universitas Indonesia (UI), salah satu kegiatan ekstra-kurikuler dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Dari ratusan temannya yang berminat menggeluti berkuda tersebut, khususnya equestrian, secara bertahap terseleksi sekitar 50-an orang yang sebagian besar justru tak memiliki kuda. Hal itu tak menjadi penghalang. Mereka berlatih di Trijaya Equestrian, perkumpulan atau klub milik Ardi Hapsoro Hamidjoyo, atlet nasional berkuda yang juga sekjen Eqina.

Anak-anak UI yang hobi berkuda ini tentu saja punya keinginan untuk selalu berpartisipasi pada 'event-event' yang digelar Eqina. Akan tetapi, langkah mereka tak selamanya mulus. Mereka pernah dilarang keras untuk ambil-bagian dalam seri kejurnas Eqina, dan hanya diperbolehkan tampil pada kegiatan yang diselenggarakan oleh EFI (Federasi Equestrian Indonesia). Situasi itu tentu saja membuat mereka bingung. Apalagi, EFI terus menebar sanksi untuk seluruh rider yang ikut dalam 'event-event' Eqina.

Kekhawatiran yang sama sebenarnya pernah menghinggapi perkumpulan-perkumpulan berkuda dari kalangan mahasiswa juga, seperti anak-anak Universitas Gajah Mada (UGM). Begitu pun, anak-anak mahasiswa itu toh sudah cerdas mencermati keadaan. Anak-anak UGM, misalnya, juga tetap ambil bagian pada seri kejurnas Jateng Masters yang dibuka oleh Menpora Roy Suryo itu.

Salah satu filosofi dari olahraga adalah kebebasan untuk berekpresi dan beraktifitas dalam bingkai sportivitas. Inilah yang mestinya secara langsung atau tidak langsung harus diajarkan oleh para pembina olahraga itu sendiri. Ketika para atlet seperti berada dalam sebuah tekanan, bagaimana mungkin juga bisa menyuguhkan optimalisasi kemampuan seperti yang diharapkan. Apalagi, berkuda adalah olahraga yang benar-benar sensitif, di mana interaksi atau hubungan antara rider dan tunggangannya (kuda) harus benar-benar sinergi.

Galih, dan puluhan rider terbaik lainnya, termasuk yang diharapkan berseteru pada 'World Jumping Challenge' zona Indonesia yang akan diselenggarakan pekan depan di kawasan Sentul, Bogor. Akan tetapi, 'event' yang mestinya bergengsi ini diambang kekurangan riders potensialnya, paling tidak juga jika dibandingkan dengan kegiatan serupa yang digelar tahun silam di Arthayasa stable, Cinere. Tahun silam, dari tiga kelas yang dilombakan, yakni 100, 110 dan 120 meter, pesertanya membludak.

Fenomena itu tak mengejutkan, karena hingga tahun silam itu bagaimana pun EFI masih menjadi 'penguasa tunggal' kegiatan equestrian nasional, sehingga gelaran 'world jumping challenge' di Arthayasa stable masih menjadi pilihan utama. Situasinya kini sudah jauh berbeda. EFI, yang terbentuk 5 Februari 2009, sudah ditinggalkan oleh mayoritas stakeholders equestrian, karena dinilai sudah melenceng dari visi dan misi pendiriannya.

EFI dipandang tak lagi mengakomodasi kepentingan rider, klub atau anggotanya. Ketika rider atau klub tak lagi merasakan benefit berupa rangkaian kegiatan atau program pembinaan yang kontekstual, maka pemisahan diri adalah pilihan terbaik. Pembentukan Eqina melalui musyawarah nasional Masyarakat Equestrian pada 14 Desember 2012 di Bandung, Jabar, adalah klimaks dari muara kekecewaan dan ketidakpuasan sebagian besar pemangku dan pelaku equestrian nasional atas perilaku EFI yang dianggap lebih mengedepankan kepentingan kelompok.

GUGATAN DI BAKI

EFI memperoleh 'legalitasnya' sebagai national federation (NF) untuk Indonesia dari Federation Equestre Internationale (FEI) menyusul adanya rekomendasi dari surat sekjen Komite Olimpiade Indonesia (KOI) pada 23 Oktober 2009. Surat yang ditandatangani oleh Arie Ariotedjo subtansinya adalah rujukan terhadap EFI yang dianggap lebih bisa memajukan pembinaan equestrian di Indonesia dibanding Equestrian Commission of Indonesia (ECI). Surat tersebut juga langsung 'menunjuk' EFI untuk berhubungan dengan FEI, yang merupakan federasi internasional equestrian.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved