Rabu, 10 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

QUO VADIS MUNAS EQUESTRIAN?

WACANA mengenai perlunya Musyawarah Nasional Equestrian sudah mengemuka beberapa waktu lalu.

Tayang:
Editor: Toni Bramantoro

Oleh Tubagus Adhi

WACANA mengenai perlunya Musyawarah Nasional Equestrian sudah mengemuka beberapa waktu lalu. Seruan atas pentingnya dilakukannya rekonsiliasi secara menyeluruh 'masyarakat equestrian' sudah sejak lama dikemukakan oleh mayoritas dari pemangku kepentingan atau 'stakeholders' equestrian baik pemilik, pembina dan atlet yang selama ini bergabung dan berkompetisi dalam naungan Equestrian Indonesia (Eqina) yang tetap berwadah atau berafiliasi dengan Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi). Sebuah cerminan dari sikap jiwa besar Eqina dalam upaya menjunjung tinggi prinsip-prinsip dasar dalam olahraga, terutama sportivitas.

Eqina selama ini dianggap sebagai sebuah 'organisasi sempalan' atau 'organisasi tandingan' dari Federasi Equestrian Indonesia atau EFI. Sebagai pemegang mandat 'National Federation' atau NF dari Federasi Equestrian Internasional (Federation Equestre Internationale/FEI), maka EFI pun seakan-akan tetap berada di atas angin dan terus memandang sebelah mata pada Eqina. EFI juga merasa memiliki otoritas penuh untuk melakukan apa saja walau sangat kontraproduktif, termasuk dengan memberikan sanksi atau 'banned' bagi sebagian besar atlet (rider) yang berpartisipasi dalam seluruh kegiatan Eqina, terutama 'rider' yang dinilai potensial untuk tampil di pentas regional atau global.

Itulah situasi mendasar yang harus disadari oleh para petinggi pemangku keolahragaan tanah air, dalam hal ini KONI Pusat, sebelum memutuskan sikap akhirnya terkait penyelenggaraan Munas. Dalam hal ini, pimpinan KONI Pusat sulit untuk dapat memaksakan Munas EFI, sebagaimana pernah disampaikan oleh Ketum KONI Pusat Tono Suratman. Sulit pula untuk bisa diterima akal sehat jika KONI Pusat memaksakan Munas EFI untuk merangkul seluruh komunitas equestrian, sebab mayoritas 'stakeholders' equestrian justru bukan anggota EFI.

Mereka adalah anggota Eqina, yang secara fanatik terus terlibat dalam kegiatan-kegiatan Eqina-Pordasi. Oleh karena itu pula sangat wajar jika pimpinan KONI Pusat diimbau untuk tidak memaksakan Munas EFI tersebut. Apalagi, legalitas EFI sebagai anggota KONI Pusat sendiri masih terus dipertentangkan. EFI ditetapkan sebagai salah satu anggota baru KONI Pusat pada Rapat Anggota 21 Februari 2013 di Bandung, walau melalui mekanisme atau prosedur yang sangat dipaksakan dan bertentangan dengan aturan/peraturan. EFI juga belum dapat melengkapi persyaratan keanggotaan sesuai ketentuan AD/ART KONI, terutama 'perpanjangann tangan' di daerah atau Pengprov.

Wajar karenanya jika mayoritas masyarakat equestrian sulit menerima kenyataan ketika pimpinan KONI Pusat pada 4 Mei lalu tetap mengukuhkan kepengurusan baru EFI, periode 2013-2017, dibawah kepemimpinam Irvan Jusrizval Gading dan Sekjen Triwatty Marciano, setelah sebelumnya men-'delete' atau menghapuskan komisi equestrian dalam kepengurusan PP Pordasi.

DUKUNGAN BESAR

Saat ini, begitu mudahnya untuk melihat dukungan yang luar biasa kepada Eqina. Mayoritas 'stakeholders' equestrian semakin mempercayakan proses pembinaan atlet dan kuda-kudanya kepada Eqina. Bukan kepada EFI. Sanksi atau 'banned' yang diterapkan EFI kepada banyak 'rider' tidak menyurutkan keinginan, semangat, dan antusiasme mereka untuk tetap berpartisipasi dalam kegiatan Eqina. Tiga seri Kejurnas Eqina, yakni AE Kawilarang I di Artayasa stable, Eqina Terbuka di Ditpolsatwa stable, dan Jateng Masters di Tengaran, perbatasan Semarang-Salatiga, sudah membuktikan hal itu. Peserta dari tiga kejurnas tersebut terus mengalami peningkatan. Puncaknya terjadi pada AE Kawilarang Memorial II, 14-16 Juni di arena equestrian Pulo Mas.

Partisipasi atau keterlibatan luar biasa dari mayoritas pelaku equestrian di tanah air pada AEK Memorial II itu secara impulsif mendorong Ketua Umum Eqina Jose Rizal Partokusumo untuk memberikan 'pesan khusus' kepada Irvan Gading. ".... Kelurahan Eqina Pordasi melaporkan bahwa kami yang dikatakan sekelas kelurahan telah berhasil menggelar event AEK Seri 2 dengan record jumlah peserta 122 ekor kuda, 130 riders, dan 410 entries. Juga dgn menggelar kelas Show Jumping International 140 cm dgn jumlah 7 peserta yg dimenangkan melalui kompetisi yg ketat dgn Clear Round pada babak jump-off oleh Raymen Kaunang. Semoga laporan ini diterima dgn hati nurani yang lapang...".

Sebalumnya, sebuah cemoohaan dilontarkan oleh irvan Gading. Sangat paradoks ketika dia menyebut boleh-boleh saja 'event-event' diikuti banyak atlet. Tetapi, apa yang akan mereka tuju? Sudah pasti 'riders" Eqina tak akan dapat berkompetisi di pentas regional atau global, sebab mereka harus lebih dulu memperoleh rekomendasi atau persetujuan dari EFI sebab sebagai perpanjangan tangan FEI merekalah organisasi equestrian nasional yang sah. "..Atlet-atlet Eqina mungkin akan bertanding di tingkat kelurahan saja," begitulah antara lain cibiran petinggi EFI.

Irvan Gading tak bergeming menerima sindiran itu. Hingga beberapa hari pasca pesan 'BBM' dan 'WA' itu dikirim, Jose Rizal Partokusumo tak menerima balasannya. "...Terakhir dia janji akan ketemu saya sepulangnya dari Jerman sekitar dua bulan lalu. Namun, tidak ada realisasinya sampai sekarang. Ya, kita teru saja kirim news, seraya terus berharap mudah-mudahan hati mereka tergerak. Pada dasarnya kita ini berteman...."papar Jose.

Benar, para pendiri EFI semuanya adalah teman-teman Jose Rizal Partokusumo juga. EFI, yang disebut-sebut terbentuk sejak 20-11-2008, mendeklarasikan dirinya sebagai wadah tunggal equestrian di tanah air seperti tertuang dalam akte pendirian EFI oleh notaris Budiono Wijaya pada 5-2-2009. Dalam akte itu juga disebutkan adanya sembilan orang pendiri EFI, Mereka, Irvan Jusrizal Gading, Rafiq Hakim Radinal, Prasetiono Sumiskun,Otto Setyawan, Triwatty Soemantri, David Ardi Hapsoro Hamidjoyo, Larasati Iris Rischa Gading, Mariana Theresia, dan Herlan Matrusdi.

Dalam perjalanannya, EFI tak pernah benar-benar mampu menempatkan dirinya sebagai pengemban amanat masyarakat equestrian. Itu pula yang menyebabkan terjadinya friksi dalam pengelolaan organisasi, yang pada akhirnya menumbuhkan 'kerusakan internal' dan perpecahan serius. Buntutnya adalah, pendirian Eqina pada pertengahan Desember 2012 di Bandung, yang dideklarasikan oleh 'Masyarakat Equestrian" yang dipelopori oleh mayoritas pendukung pendiri EFI seperti Ardi Hapsoro Hamidjoyo dan Alexander Benyamin, tokoh senior berkuda pemilik Santa Monica stable. Belakangan, para pendiri EFI lainnya seperti Rafiq Radinal dan Herlan Matrusdi juga seperti kembali ke 'khitah'-nya. Rafiq Radinal bahkan menyempatkan diri untuk menyaksikan gegap gempitanya persaingan di AEK Memorial II di Pulo Mas.

Pada kesempatan itu pula secara terbuka dia mengemukakan bahwa satu-satunya jalan untuk mempersatukan kembali seluruh komunitas equestrian adalah melalui munas dari seluruh stakeholders equestrian. "Satu-satunya cara untuk rekonsiliasi menyeluruh adalah melalui munas. Saya tetap khawatir kita akan dijatuhi sanksi oleh FEI jika kondisinya seperti ini terus..." begitu antara lain ditekankan oleh Rafiq.

FEI, yang dipimpin oleh HRH Princess Haya dari Jordania, sejauh ini memang belum menunjukkan tanda-tanda ketertarikannya untuk menelaah secara serius permasalahan equestrian di Indonesia. Akan tetapi, sebagaimana lazimnya diberlakukan oleh federasi cabang olahraga internasional, tak diperkenankan adanya asosiasi ganda atau kepengurusan nasional yang mendua, seperti keberadaan EFI dan Eqina di Indonesia. Walau demikian, bukan berarti FEI tak bergeming atau akan terus tinggal diam.

Fakta menunjukkan adanya hubungan historis yang cukup baik antara FEI dengan Pordasi. Para petinggi FEI, yang bermarkas di Laissane, Swiss, sudah berulangkali berkunjung ke Indonesia. Legalitas equestrian sebagai bagian yang terintegrasi langsung dengan Pordasi, sejak 1975, bahkan dicapai setelah adanya persetujuan dari Sekjen FEI Chevallier de Menten de Horne. Rekomendasi yang diberikan Horne untuk pengesahan keberadaan bidang equestrian di Pordasi didasarkan pada kemajuan dan perkembangan dari disiplin cabang berkuda yang dikhususkan pada endurance, dressage dan jumping itu.

Dalam konteks 'dualisme organisasi' equestrian yang terjadi saat ini Pordasi sendiri rasanya perlu mengulang kembali kemesraan hubungan seperti yang terjalin di masa lalu itu. Pengurus Pordasi harus aktif untuk melakukan pendekatan lebih serius kepada FEI, sekaligus untuk memperoleh gambaran mengenai revitalisasi equestrian yang benar-benar dikehendaki oleh masyarakat equestrian itu sendiri. Sebab, FEI sendiri tak boleh hanya menerima pelaporan secara sepihak terkait adanya 'kekisruhan' dalam pengelolaan disiplin equestrian tersebut. EFI sah-sah saja merasa tetap 'disayang' oleh FEI. Namun, fakta menunjukkan bahwa justru 'organisasi tandingan' seperti Eqina yang lebih disayang oleh komunitas equestrian tanah air.

* Penulis ada Pecinta dan Pemerhati Olahraga

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved