Tribunners / Citizen Journalism
Capres 2014 Hasil Top Survei Saja Tidak Cukup
Fakta membuktikan bahwa hasil top survei saja tidak cukup menjamin bahwa elektabilitas dan popularitas pencapresan seorang capres
Editor:
Toni Bramantoro
Oleh: Alex Palit
Fakta membuktikan bahwa hasil top survei saja tidak cukup menjamin bahwa elektabilitas dan popularitas pencapresan seorang capres memberi efek sebagai magnet pendulang peraupan suara pemilih. Nyatanya terbuktikan di hasil pemilihan legislatif, di mana elektabilitas dan popularitas seorang yang namanya selalu bertengger di urutan teratas hasil top survei capres tidak berdampak memberikan efek signifikan dalam mengkatrol perolehan suara di partainya.
Celakanya lagi, ketika nama capres hasil top survei yang digadang-gadang bakal memenangi Pilpres 2014 dan diharapkan pula pendulang suara single mayority dalam memenangi pemilihan legislatif ini ternyata kharismanya tidak memberikan efek signifikan menjadi magnet perolehan suara partai.
Pertanyaannya sekarang, seperti di lagu Peterpan; Ada apa denganmu?. Di sini menunjukkan kepada kita bahwa ada faktor lain tak kalah pentingnya yang harus dimiliki seorang capres, selain elektabilitas dan popularitas produk pencitraan hasil top survey, yaitu sejauhmana kepemilikan kompetensi capres bersangkutan. Aspek kompetensi ini salah satunya dapat ditunjukkan lewat pemaparan visi misinya. Pencitraan popularitas boleh top survei, tapi apa dan mana paparan visi misinya, justru itu lebih penting untuk diketahui rakyat pemilih.
Sebut saja si raja dangdut Rhoma Irama. Padahal capres yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini tak sekalipun namanya masuk daftar unggulan top survei capres 2014, nyatanya sosok dan kharismanya sebagai musisi mampu menjadikan magnet “Rhoma Irama Effect” dalam mendulang perolehan suara cukup signifikan bagi PKB.
Pendulangan suara “Rhoma Irama Effect” ini semata-mata bukan lantaran elektabilitas dan popularitas sebagai raja dangdut. Setiapkali ditanya visi misinya, capres yang diusung PKB selalu menjawab dengan tegas bahwa visi misi saya ada di lagu-lagu saya. Bagi Rhoma Irama, bahasa lagu merepresentasikan visi misi ketika mengikrarkan dirinya tampil sebagai capres.
Beda lagi dengan Prabowo Subianto. Capres Partai Gerindra ini menuangkan visi misi pencapresan dirinya lewat buku “Membangun Kembali Indonesia Raya – Strategi Besar Transformasi Bangsa”. Lewat buku setebal 300-an halaman ini Prabowo memaparkan secara rinci pikiran-pikiran, gagasan-gagasan visionernya tentang Indonesia ke depan. Setidaknya buku ini merepresentasikan visi misi pencapresan dirinya akan dibawa ke mana Indonesia ke depan bilamana memenangi Pilpres 2014.
Seperti dalam judul tulisan ini “Capres 2014 Hasil Top Survei Saja Tidak Cukup”. Artinya kompetensi capres salah satunya juga diukur dari gagasan visionernya yang dijabarkan lewat pemaparan visi misinya. Sebelum menentukan pilihan, rakyat juga butuh mengetahui paparan visi misi capres yang bersangkutan. Bukan sekadar elektabilitas dan popularitas produk pencitraan hasil top survei. Pasalnya sekarang rakyat sudah pintar, cerdas dan kritis dalam memilah dan memilih menentukan pilihan untuk tidak salah pilih. Termasuk rakyat sudah cerdas dan kritis mencermati mana capres dengan gagasan visionernya, dan mana capres yang hanya mengandalkan pencitraan tarian kuda lumping.
Bagaimana kita akan memilih pemimpin dan menjatuhkan pilihan kalau capres yang kita gadang-gadang ternyata tidak punya visi misi tentang Indonesia ke depan. Setidaknya ini menjadi perenungan kita bersama dalam memilah, memilih dan jangan sampai salah pilih menentukan pilihan calon pemimpin negeri ini di Pilpres 2014. Semoga!
* Alex Palit, citizen jurnalis “Jaringan Pewarta Independen”
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.