Breaking News:

Teknologi Membuat Manusia Merusak Alam

Manusia, merupakan satu-satunya makhluk hidup di muka Bumi yang dianugerahi akal dan kecerdasan oleh Tuhan, oleh karena itu sudah seharusnya menjaga

zoom-inlihat foto Teknologi Membuat Manusia Merusak Alam
Greenpeace
Aktivis Greenpeace menyusuri kawasan gundul di dekat Taman Nasional Bukit Tiga, Riau. Tim Mataharimau menyaksikan langsung kerusakan hutan di Indonesia. Greenpeace mendesak pemerintah untuk meninjau konsesi yang ada, melindungi lahan gambut dan mendesak industri untuk menerapkan kebijakan nol deforestasi dalam operasi mereka

TRIBUNNERS - Manusia, merupakan satu-satunya makhluk hidup di muka Bumi yang dianugerahi akal dan kecerdasan oleh Tuhan, oleh karena itu sudah seharusnya menjaga kekayaan alam yang ada di muka Bumi ini.

Dalam semua ajaran agama pun, manusia diajarkan untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan dan keindahan alam.

Namun, beberapa manusia bertindak terlalu cerdas dengan mengeksploitasi kekayaan yang ada di alam secara habis-habisan.

Mereka berpikir bahwa alam telah menyediakan semua yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan mereka, sehingga mereka pikir tidak salah jika mereka menghabiskan kekayaan yang dimiliki oleh alam sampai tak bersisa.

Apalagi dengan bertambah pesatnya perkembangan teknologi yang ada sekarang ini membuat mereka semakin menjadi-jadi mengeruk kekayaan alam ini.

Salah satu contohnya adalah penebangan hutan yang semakin cepat dikarenakan adanya teknologi berupa gergaji mesin.

Sering juga kita lihat penggunaan alat berat untuk meratakan hutan yang lahannya akan dibuat entah itu untuk jalan raya, perumahan, dan lain sebagainya.

Bahkan, penggunaan teknologi pada kehidupan sehari-hari kita seperti smartphone, laptop, PC, dan lain sebagainya secara tidak langsung ikut berkontribusi terhadap rusaknya alam. Benda-benda tersebut jika sudah tidak terpakai, tentu akan dibuang begitu saja.

Masalahnya, benda-benda tersebut kebanyakan berasal dari bahan yang susah sekali diuraikan, sehingga jika dibiarkan akan menumpuk dan mengurangi keindahan lingkungan di sekitarnya.

Melihat fenomena tersebut, tentu membuat kita bertanya-tanya, apakah dengan adanya teknologi malah membawa dampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia?

Tentu saja jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. Tergantung dari cara kita menggunakannya. Namun, jika melihat kondisi sekarang, perkembangan teknologi malah cenderung memberikan dampak buruk bagi manusia.

Menurut Marshall McLuhan, salah satu dosen di University of Toronto, penemuan atau perkembangan teknologi itulah yang telah mengubah perilaku atau budaya pada manusia, atau yang biasa disebut sebagai Teori Determinisme Teknologi.

Mengacu pada teori tersebut, sudah jelas bahwa teknologi berdampak besar terhadap kehidupan manusia, entah itu baik atau buruk.

Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir, berperilaku dalam masyarakat, dan teknologi tersebut mengarahkan manusia bergerak dari satu abad teknologi ke teknologi yang lain.

Teknologi memang mampu memberikan kemudahan bagi manusia dalam hampir semua hal, namun melihat perilaku dan budaya masyarakat yang ada sekarang, teknologi memberikan dampak buruk tidak hanya pada manusia sendiri tetapi juga pada lingkungan sekitar.

Salah satu pengaruh penggunaan teknologi yang berpengaruh besar pada kerusakan alam dan lingkungan adalah efek rumah kaca.

Efek rumah kaca merupakan peristiwa yang terjadi akibat pantulan panas di dalam rumah kaca yang digunakan petani untuk menanam sayur pada musim dingin di negara yang mengenal empat musim.

Pembuatan rumah kaca ini menghasilkan gas rumah kaca yang menyelimuti Bumi.

Panas matahari yang masuk ke Bumi dipantulkan kembali oleh rumah kaca, namun karena adanya gas rumah kaca tadi maka panas matahari yang sudah dipantulkan oleh rumah kaca tadi, dipantulkan kembali ke Bumi oleh gas rumah kaca, sehingga menyebabkan panas matahari terperangkap di Bumi dan mengakibatkan suhu Bumi meningkat.

Meningkatnya suhu Bumi menyebabkan orang-orang di Bumi terutama di negara-negara tropis memilih menggunakan AC (Air Conditioner).

Padahal penggunaan AC pun juga berpengaruh pada kerusakan lingkungan, karena AC menghasilkan gas CFC (klorofluorokarbon) yang dapat menyebabkan lubang-lubang pada lapisan ozon.

Emisi CFC yang mencapai stratosfer menyebabkan laju penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.

Penggunaan kendaraan bermotor juga berkontribusi besar pada rusaknya lingkungan. Banyak masyarakat terutama di kota-kota besar menggunakan kendaraan pribadi sebagai transportasi.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2014 terdapat sebanyak 114,2 juta kendaraan bermotor. Jumlah tersebut selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Banyaknya kendaraan pribadi menyebabkan semakin banyaknya polusi yang dihasilkan akibat asap kendaraan bermotor. Padahal banyak dari masyarakat tersebut yang seharusnya tidak atau belum membutuhkan kendaraan pribadi.

Sikap manusia yang terlalu tergantung pada teknologi, malah membawa manusia kepada kehancuran. Walaupun banyak kemudahan yang diberikan dengan teknologi, efek samping yang dihasilkan dari teknologi, terutama terhadap lingkungan tidak bisa dianggap remeh.

Kebanyakan dari kita telah dibutakan oleh canggihnya teknologi yang ada, sehingga tidak mempedulikan lingkungan di sekitar kita. Tentu kita tidak mau hal tersebut terus berlanjut sampai ke anak cucu kita nanti.

Oleh karena itu, kita, sebagai manusia, tinggal memilih, mau terus-terusan bergantung pada teknologi yang ‘katanya’ banyak memberi kemudahan atau menggunakan teknologi dengan sewajarnya dan membantu menyelamatkan dunia tempat kita tinggal sekarang dari kehancuran?

Penulis: Muhammad Fauzan Pinantyo
Editor: Samuel Febrianto
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved