Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Tekan Dwelling Time Tidak Berkorelasi Positif dengan Penurunan Biaya Logistik

Pemindahan ini tidak harus memperhatikan apakah peti kemas yang dipindah sudah selesai proses clearance-nya atau belum

Warta Kota/Henry Lopulalan
Suasana bongkar muat di terminal peti kemas Pelabuhan Tanjungpriuk, Tanjungpriuk, Jakarta Utara, Selasa (23/9/2014). Presiden terpilih Joko Widodo akan membenahi semua pelabuhan di Indonesia. Salah satu yang dibenahi adalah dwelling time atau waktu tunggu kapal sejak bersandar hingga barang keluar pintu pelabuhan.(Warta Kota/Henry Lopulalan) 

Kerugian itu muncul karena hilangnya pemasukan dari jasa penumpukan barang di lini 1.

Perlu dicatat, penumpukan selama dua hari di lini 1 tidak dikenakan biaya alias gratis. Karena peti kemas dipindah ke lini 2 (TPS), akhirnya uang jasa penumpukan dinikmati oleh pengelola TPS.

Operator pelabuhan buntung, pengelola TPS untung.

Karenanya, The National Maritime Institute (Namarin) meminta kepada pemerintah untuk lebih saksama lagi dalam menyelesaikan isu DT yang menghangat saat ini.

Salah satunya dengan mengacu kepada praktek bisnis (best practices) yang sudah berjalan selama ini.

Tidak apa menumpuk peti kemas di lini 1; di manapun di dunia ini salah satu uang pemasukan operator pelabuhan adalah dari jasa penumpukan barang.

Dari kegiatan pemindahan peti kemas dari lini 1 setelah dua hari di CY selama ini terbukti telah meningkatkan movement barang –lift-on, lift-off dan trucking- dan ini semuanya menimbulkan biaya tambahan bagi pemilik barang.

Akhirnya upaya menekan DT tidak berkorelasi positif dengan penurunan biaya logistik nasional.

Editor: Eko Sutriyanto
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved