Tribunners / Citizen Journalism

Diplomasi Sukun Goreng dan Papeda untuk Sentani

Bagaikan menggelindingkan bola salju. Awalnya sekepalan tangan, kemudian menggelinding kian besar dan semakin besar.

Diplomasi Sukun Goreng dan Papeda untuk Sentani
Ist/Tribunnews.com
Kepala BNPB Doni Monardo meninjau banjir di Sentani. 

"Banjir bandang yang menerjang wilayah Sentani pada 16 Maret 2019 lalu antara lain karena manusia merusak alam. Menebang pohon sembarangan," ungkap mantan Danrem Bogor ini.

Pihak gereja mengamini. Bahkan akan door to door menyapa warga untuk direlokasi bilamana memang lahan yang mereka huni tak bisa dibangun kembali atas dasar ancaman bencana berulang.

Doni mengucap syukur, 16 institusi berhasil duduk bersama menyepakati 10 hal baik. Pertama, koordinasi, sinkronisasi program dan pelaksanaan pemulihan kawasan cagar alam Pegunungan Cycloops, Danau Sentani, DAS Sentani Tami.

Kedua, perencanaan detail tata ruang dan instrumen pengendalian pemanfaatan ruang kawasan Pegunungan Cycloops, Danau Sentani, DAS Sentani Tami yang berwawasan lingkungan dan berbasis pengurangan risiko bencana.

Kesepakatan ketiga, sinkronisasi mitigasi bencana dan literasi kebencanaan untuk masyarakat melalui edukasi, sosialisasi dan simulasi bencana.

Keempat, konservasi tanah dan air serta pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kelima, penataan kawasan dan pemulihan ekosistem cagar alam Pegunungan Cycloop. Keenam, pemetaan hak ulayat masyarakat adat yang berwawasan lingkungan dan berbasis mitigasi bencana.

Empat kesepakatan sisanya masing-masing adalah kesepakatan ketujuh yang berbunyi: penguatan pembinaan dan pengembangan usaha mikro kecil dan menengah berbasis komunitas dan ekonomi lokal; kedelapan: Pembangunan infrastruktur, investasi dan perijinan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung yang berwawasan lingkungan dan berbasis mitigasi bencana; kesembilan: penyediakan lokasi dan hunian sementara serta hunian tetap bagi masyarakat terdampak bencana, dan rawan bencana; dan kesepuluh: bidang lain yang disepakati para pihak.

Semua kesepakatan itu lahir atas kajian mendalam ahli dan para pihak.

Kajian tersebut menyimpulkan empat hal. Pertama, wilayah Kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura umumnya dibangun di muka mulut lembah pegunungan Cycloops yang hanya berjarak 3-4 km dari puncak Cycloops.

Daerah itu adalah jalur banjir bandang dan berada di wilayah kipas aluvial/jalur sedimentasi air.

Kesimpulan kedua, kawasan terdampak merupakan wilayah yang terbangun di atas area banjir bandang lama yang tidak diketahui waktu kejadiannya. Ketiga, kejadian banjir bandang merupakan kejadian alam akibat sumbatan/bendungan alami yang dikontrol oleh faktor benteng alam/morfologi dan kondisi geologi yang dipicu curah hujan tinggi dalam waktu yang singkat.

Adapun kesimpulan keempat, sangat patut dicatat, yakni wilayah ini masih berpotensi banjir dan longsor di masa depan.

Atas kondisi itu pula, lahir sejumlah rekomendasi untuk mengurangi dampak ancaman bencana tanah longsor dan banjir bandang ke depan. Salah satunya menjaga alur sungai tetap lancar dengan menjaga kelestariain hutan di wilayah pegunungan Cycloops. Selain itu juga perlu melakukan naturalisasi jalur sungai.

Bila perlu dilakukan pengerukan material sedimentasi di sepanjang alur sungai terutama di bagian hilir serta sungai yang dilintasi jembatan.

Pada alur sungai yang terbangun jembatan, harus dibuat bangunan penahan erosi air. Di samping, menyingkirkan batu berukuran boulder atau bongkahan di jalur sungai. Tujuannya menghindari terbentuknya bendungan alam.

Para pihak juga merekomendasikan agar tidak membangun di wilayah terdampak banjir. Adapun bangunan yang sekarang sudah bercokol di wilayah bantaran sungai, mulut lembah sungai, dan teluk sungai yang berbatas perbukitan dengan kemiringan lereng curam mesti dicarikan solusi konkret.

"Karena ini ancamannya permanen maka solusi penyelesaiannya juga harus permanen, " kata Agus Budianto dari Badan Geologi ESDM memaparkan.

Rekomendasi lainnya adalah membangun, memperbaiki, dan membersihkan drainase, menata wilayah sesuai Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah Kabupaten Jayapura dan mempertimbangkan aspek geologi.

Selain itu, membangun sabo DAM di lokasi jalur sungai yang berpotensi mengancam wilayah permukiman dan infrastruktur lainnya.

Khusus yang terkait pegunungan Cycloops juga dikeluarkan sejumlah rekomendasi.

Antara lain, penataan lahan pada bagian hulu, memperhatikan titik-titik longsor pada lereng Cycloops, memperhatikan terjadinya bendungan alam, serta mewaspadai dan memantau curah hujan di hulu sungai dan memantau perubahan debit aliran sungai.

Bila perlu, dipasang kamera pemantau (CCTV) dan alat pengingat (sirine) di lembah sungai ke arah hulu, seperti misalnya di RSUD Yowari serta hulu sungai Kemiri. Yang tak kalah penting adalah melibatkan secara aktif pemerintah daerah dan masyarakat dalam memantau gejala gerakan tanah atau longsor serta banjir bandang.

Saran penting lainnya juga melingkupi upaya memelihara kearifan lokal terkait fenomena alam. Doni Monardo meyakini, alam selalu memberi pertanda kepada masyarakat jika akan terjadi sesuatu.

Mantan Danyon Singaraja (1998) menyebut contoh petuah pedanda tua di Bali saat Gunung Agung “batuk-dan-berdahak”. Itulah cara kerja Gunung Agung membuat tanah di Bali menjadi lebih subur.

Semua itu bisa terlaksana karena adanya sense creative leader inovasi dan ketulusan hati para pihak sehingga merasa terhargai. Adanya koki handal yang meracik segala bahan menjadi hidangan yang maknyus.

Adanya composer sekaligus dirigen. Adanya komandan sekaligus panglima lapangan yang terlatih mengeksekusi.

Saatnya para pihak membiarkan keringat meleleh demi kebaikan Sentani. Nanti akan kering sendiri saat melihat hati rakyat sumringah diliputi bahagia.

Harmoni, paduan rampak, hentak serentak akan saling berjabat demi kebaikan bersama, terkhusus rakyat yang kini merana akibat bencana.

Kasus harimau turun ke kota Yogya suatu hari, adalah tanda-tanda alam bahwa Gunung Merapi “memanas”. Pertanda alam yang sudah menjadi kearifan lokal, pada dasarnya ada di sekitar kita.

“Kita harus mengasah kepekaan rasa kita terhadap tanda-tanda alam. Kepekaan itu akan terasah manakala kita menjaga alam. Sebab, saat itulah alam akan menjaga kita,” ujar Doni Monardo.

Egy Massadiah pernah bekerja sebagai wartawan dan pegiat teater

Editor: Hasanudin Aco
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved