Tribunners / Citizen Journalism

Ramadan 2019

Ramadan 1440 H dan Momentum Rekonsiliasi

Para aktor politik yang sebelumnya sering menyulut kegaduhan ditantang untuk menahan diri selama bulan suci ini.

Ramadan 1440 H dan Momentum Rekonsiliasi
TRIBUN/DANY PERMANA
Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) 

Sebab, soal kecurangan tidak akan bisa diselesaikan dengan mengoyak emosi publik. Perkara kecurangan itu pada akhirnya harus diselesaikan oleh institusi berwenang menurut undang-undang. Masyarakat hendaknya tidak perlu dilibatkan terlalu jauh, setelah mereka melaksanakan kewajiban menggunakan hak pilih pada 17 April 2019 lalu.

Baca: Gorengan, Makanan Berlemak dan Banyak Mengandung Garam Sebaiknya Dihindari Selama Ramadan

Mengapa imbauan untuk menahan diri perlu dialamatkan kepada kekuatan-kekuatan politik yang terus menyoal ada-tidaknya kecurangan pada Pemilu 2019? Sebab, masyarakat pada umumnya sudah beranggapan Pemilu 2019 sudah berjalan dengan baik, aman dan lancar. Memasuki periode bulan suci Ramadan 1440 H, masyarakat bahkan sudah mengubah fokus.

Tidak lagi pada isu seputar Pemilu, melainkan melakukan berbagai kegiatan untuk menyongsong bulan suci. Artinya, publik akar rumput sudah move on. Seharusnya, para aktor politik pun sudah bisa move on seperti halnya  publik akar rumput.

Baca: Menang Rasa Kalah, Kalah Rasa Menang

Banyak upaya di berbagai daerah telah dijalankan untuk memulihkan hubungan baik antarkomunitas. Untuk tujuan itu, beragam cara atau tradisi dipraktikan bersama tanpa melihat perbedaan pilihan politik.

Dan, momentum bulan suci Ramadan 1440 H banyak dipilih warga untuk mempersatukan dan memperbaiki kerusakan yang terjadi akibat beda pilihan politik.

Di Banjarnegara, Jawa Tengah,  masing-masing tim sukses saling memberi perangkat salat, sebagai ungkapan rasa syukur karena Pemilu 2019 di Banjarnegara berjalan dengan lancar dan damai.

Setiap tempat atau wilayah berupaya dengan pendekatan tradisinya masing-masing. Misalnya,  tradisi santap daging bersama di Aceh, Pawai Obor di Jawa Barat,  tradisi Gerebek Apem di Jombang,  tradisi Dhandangan oleh Warga Kudus, permainan Bola Api di Cileunyi, Bandung, tradisi Padusan di Boyolali, dan acara megengan di Ponorogo.

Baca: Masjid Raya Gantiang, Masjid Tertua di Padang Perpaduan Arsitektur Minang, Cina Hingga Persia

Di Jakarta Barat, upaya pemulihan dilakukan dengan acara silaturahmi para ulama dan umaro se-Jakarta Barat. Semua ini sengaja disebutkan untuk menunjukan kepada semua elite politik bahwa publik akar rumput sudah move on; dari sebelumnya isu tentang Pemilu, kini sedang menghayati Ibadah Puasa Ramadan.

Kalau masyarakat sudah berinisiatif melakukan pemulihan, elit politik seharusnya mengikuti arus itu. Akal sehat selalu menunjuk arah yang benar.

Baca: Menteri Rini Pilih Kompromi Soal Penurunan Tarif Batas Atas Tiket Penerbangan

Kalau arus pemulihan itu dilawan, elite politik akan terisolasi dari banyak komunitas.  Maka, jadikanlah momentum bulan suci Ramadhan 1440 H sebagai pijakan dan kekuatan moral melakukan rekonsiliasi.

Editor: Rachmat Hidayat
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved