Tribunners / Citizen Journalism

Pembelajaran bagi Generasi Milenial

termasuk skenario pembunuhan hingga fakta-fakta tindakan anarkis di sejumlah tempat, harus diungkap

Pembelajaran bagi Generasi Milenial
ISTIMEWA
Presiden Jokowi dan Ketua DPR Bambang Soesatyo 

Oleh Bambang Soesatyo
Ketua DPR RI/
Kepala Badan Bela Negara FKPPI/
Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila/Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA-Semua dugaan tentang rencana atau gerakan inskonstitusional yang terjadi sebelum dan sesudah tanggal 22 Mei 2019 menjadi contoh buruk yang harus didengar dan dilihat generasi milenial Indonesia.

Tidak sedikit yang kecewa melihat adanya kekuatan yang berupaya menarik mundur proses pendewasaan demokrasi, serta merusak regenerasi kepemimpinan nasional.

Agar generasi milenial bisa belajar dan tidak mengulang contoh buruk itu, detail semua dugaan atau rencana gerakan inkonstitusional, termasuk skenario pembunuhan hingga fakta-fakta tindakan anarkis di sejumlah tempat, harus diungkap.

Sangat beralasan, dan juga menjadi kewajiban moral bagi para elit dan tokoh senior, untuk mendorong generasi milenial mencatat dan menggarisbawahi rangkaian peristiwa sesudah dan sebelum 22 Mei 2019 itu.

Tak hanya sekadar dijadikan catatan, tetapi mendorong generasi milenial untuk belajar dari peristiwa itu. Sebab, rangkaian peristiwa itu nyaris menjerumuskan negara dan bangsa ini ke dalam situasi kacau balau, bahkan mungkin juga terjadi pergolakan akibat benturan antarkelompok masyarakat.

Jika saja TNI dan Polri tidak menggelar tindakan preventif, skala risiko yang harus diterima negara dan masyarakat akan jauh lebih besar dari sekadar apa yang terlihat pasca rusuh 22 Mei 2019 itu.

Kendati tindakan preventif telah diupayakan, toh korban jiwa berjatuhan juga. Semua berkabung. Sejumlah korban luka, termasuk polisi, masih menjalani perawatan. Beberapa pihak harus menanggung rugi karena terjadinya pembakaran kendaraan dan penjarahan barang dagangan.

Belum lagi kerusakan pada sejumlah bangunan. beberapa hari berturut-turut, sebagian masyarakat harus menghentikan kegiatan atau tidak pergi ke kantor karena sejumlah ruas jalan ditutup sebagai bagian dari upaya preventif itu.

Bahkan, karena trauma dengan kata rusuh, tidak sedikit warga yang meninggalkan Jakarta menuju kota lain untuk menghindari berbagai kemungkinan terburuk.

Ungkapan people power itu benar-benar meneror banyak warga Jakarta, terutama karena adanya pengerahan massa dari luar ibukota.

Halaman
1234
Editor: Rachmat Hidayat
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved