Tribunners / Citizen Journalism

Semalam di Kota ‘Cidayu’

Tidur ayamku terhenti total, ketika dari seberang yang tidak jauh, alunan bacaan Qur’an melalui pengeras suara menyasar gendang telingaku

Oleh: Kyai Saefullah Maksum, Ketua II Institut Kewarganegaraan Indonesia (IKI)

Tidur ayamku terhenti total, ketika dari seberang yang tidak jauh, alunan bacaan Qur’an melalui pengeras suara menyasar gendang telingaku. Kamar nomor 232 Hotel Sentosa berjarak hanya puluhan meter dari sumber suara. Jelas sekali terdengar.

Jarum jam terlihat olehku yang masih setengah sadar, baru menunjuk angka 04.00. Masih sangat pagi buta. Di mana kah gerangan saya berada? Batinku nyaris berkata, saya lagi berada di tengah kota santri, di sudut Pulau Jawa.

Ternyata kesadaranku cepat pulih. Saya sedang berada di Kota ‘Cidayu’. Kota yang berjarak sekitar 151 dari Pontianak, Kalimantan Barat. Kota Cina, Dayak dan Melayu, disingkat Cidayu. Itulah Kota Singkawang. Model bangunan Hotel Sentosa tempatku menginap, persis bangunan sekolah. Letter U, bagian tengah terhampar halaman luas.

Sudah beberapa kali saya menginjakkan kaki di Kota Singkawang, ketika ada tugas ke Sambas yang berbatasan dengan Singkawang. Tapi hanya numpang lewat. Tanggal 29 dan 30 Agustus kemarin saya tidak hanya lewat, melainkan berkesempatan bermalam di Kota ‘Cidayu’.

Tanggal 30 Agustus, bertempat di Hotel Sentosa, IKI menyelenggarakan pelatihan bagi para relawan IKI dari delapan kabupaten/kota seluruh Kalbar. Pelatihan ini mengawali penugasan IKI kepada para relawan yang akan terjun di masing-masing daerah, membantu Dinas Dukcapil.

Meski di sejumlah sudut kota kuat sekali suasana dan aura Cina, seperti simbol warna merah, atau lalu lalang orang berkulit putih dengan mata sipit, suasana santri juga manampakkan diri.

Salah satu bangunan yang menjadi ikon di kota ini ialah Vihara Tri Darma Bumi Raya. Vihara yang dikenal dengan Vihara Pekong ini sudah berusia lebih dari 200 tahun.

Tidak jauh dari Vihara yang merupakan warisan budaya, di perlimaan jalan Diponegoro, berdiri kokoh masjid Raya Singkawang, yang didirikan pada tahun 1885. Dari masjid ini setiap masuk waktu shalat dikumandangkan suara azan yang terdengar jelas di pusat-pusat perbelanjaan kota ini.

Warga nonmuslim tampak familier mendengar suara azan. Luar biasa toleransi warga kota ini. Persis di seberang masjid berderet bangunan pertokoan milik warga etnis Cina. Tidak jauh dari Masjid Raya, ada warung lumayan besar, Bubur Jieku namanya. Menjual menu spesial: bubur Babi. Unik memang. Persaudaraan antarwarga di Kota ini menggiurkan.

Meski tidak berjuluk kota santri, kegiatan keagamaan umat muslim di kota ini lumayan bagus, sama halnya dengan aktivitas keagamaan umat Budha yang dipusatkan di banyak vihara yang gampang dijumpai di sudut-sudut kota.

Tiba waktu shalat Subuh. Saya bergegas ke masjid untuk menunaikan shalat Subuh berjamaah. Ini Subuh hari Jumat. Selain melaksanakan kewajiban, terselip dalam niatan saya ingin mengetahui bagaimana amaliah ubudiyah, kegiatan peribadatan, yang dilaksanakan di masjid ini. ‘Macam-macam (neko-neko, Pen.) kah’, ataukah lurus-lurus saja sebagaimana amalan mayoritas umat beragama di Negeri Nusantara ini. Rasa penasaran seperti ini akhir-akhir ini sering muncul seiring dengan makin gencarnya dakwah Islam yang disampaikan sebagian kalangan yang cenderung mendestruksi amalan keagamaan yang dianut kalangan Islam yang berpaham Ahlussunnah wal-Jamaah.

Subhanallah. Ternyata shalat Subuh yag dilaksnakan di masjid ini melanggengkan tradisi dan anjuran Nabi. Yaitu sang imam setelah membaca surat al-Fatihah membaca surat as-Sajadah yang diikuti sujud tilawah. Surat al-Qur’an yang lumayan panjang. Tradisi imam shalat Subuh hari Jumat membaca Surat as-Sajadah seperti ini malahan banyak ditinggalkan di masjid-masjid di Jawa.

Muncul perasaan puas, dan keharuan, usai shalat Subuh di Masjid Raya Singkawang. Ini shalat Subuh (hari Jumat) di Singkawang Bro, bukan di Jombang, atau Malang.

Usai shalat, saya balik ke hotel untuk kembali memanjakan mata. Aura ‘Cidayu’ terasa kental di sepanjang perjalanan pulang. Sembari lesan melanjutkan bacaan wirid yang belum rampung, saya melewati kedai ‘Bubur Jieku’, bermenu utama: bubur babi. Hanya beberapa jengkal dari Masjid Raya.

Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved