Tribunners / Citizen Journalism

Brand Image Tidak Bisa Dijadikan Tuduhan Eksploitasi Anak

Brand Image atau Citra Merek adalah merupakan keseluruhan persepsi terhadap suatu merek yang ter-representatif dalam sebuah logo.

Brand Image Tidak Bisa Dijadikan Tuduhan Eksploitasi Anak
Istimewa/ PB Djarum
Pembinaan Atlet PB Djarum 

Oleh: Ichwan Anggawirya

Brand Image atau Citra Merek adalah merupakan keseluruhan persepsi terhadap suatu merek yang ter-representatif dalam sebuah logo.

Sudah menjadi tugas perusahaan untuk membangun dan menjaga Brand Image ini semaksimal mungkin, salah satu konsep untuk mempertajam Brand Image adalah dengan melakukan Brand Position atau gamblangnya menjadikan merek tersebut menjadi spesialis di benak konsumen.

Konsep positioning merek ini jelas harus dibangun sangat cermat dan membutuhkan waktu cukup panjang dengan memperhatikan target pasar, diferensiasi produk, sampai pada detil eksekusi kedalam sebuah merek, dari pemilihan nama, logo, warna, bentuk, slogan atau tag line bahkan iklan.

Logo merek dapat dikatakan sebagai ujung tombak dalam membangun Brand Image karena logo merek inilah yang akan pertama kali dilihat dan didengar oleh konsumen, dan ada beberapa merek yang memang sangat kuat masuk ke benak konsumen, seperti kebanyakan orang selalu menyebut AQUA untuk semua produk air mineral, atau kalau kita masih ingat pada kejayaan merek KODAK yang dipersepsi sangat kuat sebagai produk kamera.

Memang ada yang efektif dibangun dengan konsep rasional dengan memanfaatkan informasi logis yang akan dicerna oleh otak kiri, tapi ada juga produk yang memang lebih efektif dibangun dengan konsep emosional dan banyak memanfaatkan elemen-elemen yang akan dicerna oleh otak kanan seperti elemen gambar, warna, suara musik, iklan, dsb.

Ada hal menarik terkait pernyataan KPAI mengenai penggunaan logo Djarum Badminton Club, menariknya disini adalah persepsi terhadap Brand Image yang dijadikan dasar tuduhan ekploitasi anak yang jelas masuk pada ranah hukum pidana.

Penulis berpendapat ini adalah tuduhan yang prematur, karena dalam hal ini sebelum masuk ke ranah pidana maka pendaftaran merek Djarum Badminton Club harusnya digugat penghapusan merek terlebih dahulu, karena kita tidak bisa menuduh pidana atas penggunaan logo merek yang jelas-jelas sah dan telah diberi hak eksklusif oleh Negara untuk dapat digunakan sendiri oleh pemiliknya.

Gugatan penghapusan harus dapat dibuktikan terlebih dahulu apakah melanggar ketentuan Pasal 20 Ayat (a) Undang-Undang tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis, yang berbunyi: Merek tidak dapat didaftar jika (a) Bertentangan dengan ideologi negara, peraturan perundang-undangan, moralitas agama, kesusilaan, atau ketertiban umum

Merek dan Logo Djarum Badminton Club terdaftar atas nama Yayasan Djarum dengan nomor IDM000478730 untuk jasa-jasa klub bulutangkis, penyelenggaraan pelatihan dan dengan aktivitas olah raga bulu tangkis, sedangkan logo produk rokok Djarum terdaftar atas nama PT Djarum dengan nomor IDM000059872, secara legal dapat dilihat bahwa dari pemilik, jenis barang atau jasa dan tampilan logo semuanya berbeda, sama halnya dengan merek GARUDA yang juga ada untuk jasa penerbangan (kelas 39), kacang goreng (kelas 29), Rumah makan (kelas 43) semua sama-sama menggunakan nama GARUDA tapi masing masing didaftarkan dikelas yang berbeda, pemilik berbeda, logo berbeda.

Lalu apabila ada merek rokok GARUDA yang juga dapat membangun Brand Image sangat kuat untuk produk rokoknya apakah merek-merek GARUDA lainnya akan terkait secara hukum?

Terlepas dari kaitan hukum tersebut diatas, apabila dinilai suatu merek terdaftar dianggap melanggar, terlebih pelanggaran yang bersifat pidana, maka langkah hukum pertama harusnya diajukan gugatan penghapusan terhadap merek tersebut, gugatan dapat diajukan untuk menggugat pemilik merek dan DJKI sebagai turut tergugat agar menghapus merek yang dianggap melanggar.

Selama merek masih sah terdaftar dan penggunaan sesuai standar klasifikasi merek oleh pemiliknya maka tidak menyalahi aturan, apalagi dipidana.

*Ichwan Anggawirya juga sebagai praktisi merek dari IndoTrademark pernah melakukan penelitian terkait pada persepsi logo merek ini . Ichwan Anggawirya advokat pakar Hukum HaKI Magister Hukum UBK, pada Forum Grup Diskusi yang diselenggarakan Magister Ilmu Hukum Universitas Bung Karno senin 16 September 2019.

Ichwan Anggawirya advikat
Ichwan Anggawirya
Editor: Toni Bramantoro
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved