Tribunners / Citizen Journalism

Cukai Rokok Tinggi Kebijakan Jitu Kurangi Perokok Tanpa Kurangi Pendapatan Negara

Pengalaman negara lain, kebijakan cukai tinggi sanggup menekan konsumsi tembakau dan rokok sementara di Indonesia jadi instrumen fiskal

Cukai Rokok Tinggi Kebijakan Jitu Kurangi Perokok Tanpa Kurangi Pendapatan Negara
Pixabay
Ilustrasi cukai rokok 

Oleh : Sofyano Zakaria *)

PUBLIK  mengeluhkan mengenai peningkatan jumlah perokok di Indonesia yang cukup fantastis, menjangkau "pasar baru" termasuk kelompok perokok pemula, anak anak dibawah umur, kelompok perempuan yang sebenarnya di masa lampau sangat sedikit perempuan merokok, namun "sekarang" sudah terbiasa terlihat kaum hawa merokok .

Meningkatnya jumlah perokok pada dasarnya bisa dinilai sebagai keuntungan tersendiri bagi pemerintah.

Dengan meningkatnya jumlah perokok maka penerimaan negara dari cukai rokok juga meningkat.

Akibatnya, terjadi perbedaan kepentingan antara publik yang memandang rokok membahayakan kesehatan dengan pemerintah yang "menjadikan" rokok sebagai sumber penerimaan penting.

Perbedaan ini tentu saja perlu dijembatani. Salah satunya adalah melalui kebijakan cukai.

Secara teori, cukai adalah pungutan terhadap barang konsumsi yang menimbulkan eksternalitas atau dampak buruk.

Sehingga "barang" ini perlu ditekan penggunaannya melalui instrumen perpajakan dan cukai.

Pengalaman negara lain, kebijakan cukai tinggi sanggup menekan konsumsi tembakau dan rokok.

Baca: Libatkan KPK untuk Pengawasan, Agar Penerimaan Cukai Rokok Maksimal

Namun pada pengalaman Indonesia, cukai rokok nyaris terbukti diterapkan sebagai instrumen fiskal.

Halaman
12
Editor: Eko Sutriyanto
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved