Tribunners / Citizen Journalism

Membaca Syaikh Nawawi Al-Bantani Dari Karya-karyanya

Syaikh Nawawi Al Bantani adalah ulama Internasional yang aktif menulis buku-buku. Karya-karya banyak tersebar di kampus besar dunia.

Membaca Syaikh Nawawi Al-Bantani Dari Karya-karyanya
Istimewa
Bedah kitab Syekh Nawawi Al Bantani 

TRIBUNNEWS.COM - Syaikh Nawawi Al-Bantani adalah ulama internasional yang aktif menulis. Buku-bukunya banyak beredar di kampus-kampus besar dunia, museum internasional, dan sejak zaman penjajahan telah menjadi kajian utama para ulama Indonesia. Atas kiprahnya di bidang keilmuan Islam, beliau diberi gelar Bapak Kitab Kuning Indonesia.

Raksa Ajar Indonesia & PEDI (Pesantren Digital Indonesia) telah berhasil mengumpulkan 38 judul dan telah menerjemahkan 16 judul. Menurut informasi yang beredar, Syaikh Nawawi menulis tidak kurang dari 114 buku yang tersimpan di Belanda. Tapi riset terakhir yang dilakukan oleh Dr. Mufti Ali dari UIN Banten menyimpulkan jumlah buku yang ditulis sebanyak 41 judul.

Bank Indonesia Provinsi Banten telah mencetak dua judul kitab Syaikh Nawawi Al-Bantani, yaitu Nasoihul Ibad (Penyucian Jiwa) dan al-Aqdu-ts Tsamin (Pokok Ajaran Islam) yang kemudian didistribusikan kepada lembaga pendidikan dari tingkat SD sampai perguruan tinggi dan lembaga keagamaan di Banten. Bank Indonesia juga menjadi tempat penyelenggaraan acara Grand Lauching & Book Discussion.

Bedah kitab Syekh Nawawi Al Bantani
Bedah kitab Syekh Nawawi Al Bantani (Istimewa)

Acara yang digelar pada Selasa 8 Oktober 2019 kemarin dihadiri tak kurang dari 280 undangan. Panitia mengundang para kiai senior yang berasal dari seluruh kabupaten di Banten, tokoh masyarakat, para birokrat, dan kelompok professional. Sisanya sebanyak 70% undangan diisi oleh agen utama perubahan Indonesia, yaitu para guru dan dosen.

Erwin Soeriadimadja selaku Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten dalam sambutan tertulisnya menyatakan bahwa kegiatan mencetak dan membedah buku karya ulama internasional yang asli Banten ini adalah bentuk komitmen BI untuk kemajuan wisata rohani di Banten sehingga masyarakat dapat mengambil teladan dari ulama besar ini dan memahami pemikiran beliau.

Diskusi buku yang berlangsung dari jam 10.00 hingga 12.00 itu dimoderatori oleh Cecep Nikmatullah M.Pd dari Raksa Ajar Indonesia dan bertindak sebagai narasumber adalah Dr. Ubaydillah Anwar selaku Ketua Tim Penerjemah dari Raksa Ajar Indonesia, dan H. Agus Setiawan, SH. MH., selaku Pembina Pesantren Digital Indonesai (PEDI).

Agus Setiawan dalam paparannya menyampaikan bahwa awalnya kegiatan menerjemahkan kitab-kitab Syaikh Nawawi ini berangkat dari sebuah niat agar kitab-kitab Syaikh Nawawi bisa dibaca oleh masyarakat Banten, utamanya yang bukan lulusan pesantren.

Bedah kitab Syekh Nawawi Al Bantani
Bedah kitab Syekh Nawawi Al Bantani (Istimewa)

“Banyak orang bicara Syaikh Nawawi di Banten ini, banyak orang mau pakai nama besar beliau, tapi isi bukunya tidak tahu. Jangankan isi bukunya, judul bukunya saja masih banyak yang belum tahu. Kenyataan ini harus diresponi dengan tindakan, salah satunya dengan menerjemahkan ini, bukan dengan mengeluh atau menghimbau,” jelas Agus yang disambut tepuk tangan hadirin.

Sementara, Ubaydillah Anwar menyoroti isi buku dan sosok Syaikh Nawawi. Buku Nashoiul Ibad, menurutnya, adalah buku yang sangat pas dijadikan kajian tidak hanya di pesantren, tapi di semua tempat. “Mestinya buku ini dikaji dan dijadikan materi pengajian di kantor swasta, pemerintah, kampus, dan ruang-ruang publik di masyarakat,” tegasnya.

Bedah Kitab Syekh Nawawi Al Bantani
Bedah Kitab Syekh Nawawi Al Bantani (Istimewa)

“Buku Nasoihul Ibad ini,” tambah Ubaydillah, “Hanya tidak cocok bagi satu kelompok manusia, yaitu menusia yang yakin mampu membuat Malaikat Izrail gagal menemukan dirinya saat nyawanya mau dicabut,” candanya yang disambut gerrr hadirin.

Menurut Ubaydillah, dari Syaikh Nawawi, masyarakat Banten dan Indonesia bisa mengambil dua hal penting, yaitu cintanya kepada ilmu pengetahuan. Agama Islam adalah agama yang menempatkan ilmu sebelum ibadah atau amal. “Semua perintah Allah di agama hanya bisa dibumikan dengan ilmu,” tegasnya.

“Kedua, soal ibadah sosial. Syaikh Nawawi membuktikan kepada dirinya mengenai hal ini. Beliau aktif mengajar, aktif menulis, dan aktif dalam gerakan sosial. “Artinya, ibadah sosial harus dipahami sebagai lanjutan dari ibadah individual,” jelas Ubaydillah menutup paparannya.

Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved