Tribunners / Citizen Journalism

Menolak Penyempitan Tugas Kemenag

Mengabaikan visi holistik Kemenag tidak hanya merugikan umat Islam melainkan seluruh umat beragama

Menolak Penyempitan Tugas Kemenag
Istimewa
KH Imam Jazuli menyampaikan sambutan di acara Haul KH Anas Sirajuddin 

Menolak Penyempitan Tugas Kemenag

Oleh KH. Imam Jazuli, Lc., M.A.*

Mempertahankan rasa optimis pada visi jangka panjang Kementerian Agama semakin terasa berat. Menteri Agama, Jenderal (Purn) TNI Fachrul Razi, di awal-awal masa jabatannya memainkan strategi menyerang lawan, dan bukan bertahan. Sehingga sejak dini Kemenag sudah mematok tugas utamanya, yakni memerangi radikalisme.

War on radicalism memang penting dan mendesak, tetapi jauh lebih mendesak adalah mewartakan pada publik nawacita Kemenag selama 5 tahun periode kepemimpinannya secara holistik. Pekerjaan Kemenag sangat banyak, di antaranya: pendidikan diniyah, ibtidaiyah, tsawaniyah, aliyah, pondok pesantren, Taman Pendidikan Quran, dirjen haji dan umroh, bimbingan masyarakat (BIMAS), dan lainnya.

Mengabaikan visi holistik Kemenag tidak saja merugikan kepentingan umat Islam, melainkan juga seluruh umat beragama. Sebab, Kemenag bukan saja urusan umat Islam tetapi mengurusi seluruh kepentingan umat dari agama-agama lain.

Masing-masing agama harus diperhatikan setara, dan mendapatkan layanan yang adil dari pemerintah. Bapak Menag jangan sampai salah mendengarkan bisikan, sehingga hanya menaruh perhatian pada soal radikalisme.

Dalam konteks sempit kepentingan umat muslim, misalnya, hal paling urgen belakangan ini adalah salah satunya merealisasikan Undang-undang Pesantren, sehingga memberikan manfaat maksimal bagi pondok-pondok yang ribuan jumlahnya. Atau bisa juga meningkatkan layanan haji dan memangkas jarak tunggu yang begitu lama.

Semua itu sama pentingnya dengan war on radicalism.

Tidak ada salahnya melirik ‘toko’ sebelah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A., telah jauh memikirkan visi Kemendikbud. Salah satunya, menghubungkan institusi pendidikan dengan dunia industri melalui penguatan penguasaan Sumber Daya Manusia akan teknologi-informasi. Sementera di sisi lain, realitas pondok pesantren ‘masih sedikit jauh’ proyek tersebut.

Melakukan penyempitan tugas Kemenag dengan hanya berfokus pada perang melawan terorisme-radikalisme tidak bisa diterima akal sehat. Banyak tugas dan tanggungjawab lain yang akan terabaikan. Selain itu, Kemenag akan terlalu jauh masuk ke ranah kerja lembaga-lembaga lain, karena di sana masih ada Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) atau yang lebih spesifik lagi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), bahkan masih ada TNI dan Polri.

Mewacanakan war on radicalism and terrorism di awal masa jabatan mengesankan Kemenag tidak memiliki visi holistik.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved