Tribunners / Citizen Journalism

Pelukan Kebangsaan MSI 'The Bridge Builder'

Gegeran soal pelukan kebangsaan ini pada mulanya berasal dari momen ketika Surya Paloh (SP) dan MSI berpelukan di kantor DPP PKS.

Pelukan Kebangsaan MSI 'The Bridge Builder'
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh (kanan) dan Presiden PKS Sohibul Iman (kiri) usai mengadakan pertemuan di Kantor DPP PKS, Jakarta, Rabu (30/10/2019). Pertemuan tersebut dalam rangka silaturahmi kebangsaan dan saling menjajaki untuk menyamakan pandangan tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Oleh:Arya Sandhiyudha, Ph.D

Direktur Eksekutif, The Indonesian Democracy Initiative (TIDI)

TRIBUNNER - Entah siapa yang pertama kali yang sebenarnya memulai, tapi Saya sendiri membaca istilah “Pelukan Kebangsaan” pertama kali dari akun IG Bambang Soesatyo, Ketua MPR-RI dari F-Golkar.

Foto tribunner
Arya S

Dalam caption beliau: “PELUKAN KEBANGSAAN. Tidak mau kalah dengan Surya Paloh. Berpelukan dengan Presiden PKS Sohibul Iman,” lengkap dengan foto BS inisial pop Bambang Soesatyo yang membentang tangan mengajak MSI inisial pop dari Presiden PKS, Mohamad Sohibul Iman.

Gegeran soal pelukan kebangsaan ini pada mulanya berasal dari momen ketika Surya Paloh (SP) dan MSI berpelukan di kantor DPP PKS.

Viralnya foto beliau berdua menggegerkan karena memberikan pesan simbolik satu pola komunikasi anti ‘baper’ antara politik koalisi dan partai oposisi. MSI hendak memberikan pesan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memilih jalan “oposisi tanpa benci”.

Pun kemudian Presiden Jokowi merespon, mulai dari sindiran pelukan SP dan MSI dan balasannya SP ketika berpidato. Komunikasi yang membuat Kongres Partai Nasional Demokrat (Nasdem) menjadi saksi pertemuan Jokowi-SP-MSI.

Di akun IG Presiden Jokowi caption-nya: “Pak Surya Paloh berpelukan dengan Pak Sohibul Iman. Saya berangkulan hangat dengan Pak Surya Paloh, dan juga bersalaman akrab dengan Pak Sohibul Iman.

Rangkulan, pelukan, salaman di antara para pemimpin adalah sebentuk silaturahmi, senantiasa memperteguh komitmen kebangsaan, kenegaraan, persaudaraan, persatuan, kerukunan.” Pelukan Kebangsaan ini tidak dapat dipandang biasa.

Pelukan ini adalah aksi paling fenomenal dan seakan menjadi “AHA!” karena dapat mewakili ragam produksi narasi dan jargon yang kompleks, rumit, dan formalistik yang bertujuan mengakhiri residu Pemilu berupa pembelahan sosial (social cleavages).

Halaman
123
Editor: Malvyandie Haryadi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved