Tribunners / Citizen Journalism

Kontribusi Pemikiran Kiai Haji Imam Jazuli Terhadap Studi Islam Populer

Kemampuan akademiknya ditopang dengan "aktivismenya" sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon

Kontribusi Pemikiran Kiai Haji Imam Jazuli Terhadap Studi Islam Populer
Pesantren Bina Insan Mulia/Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, adalah Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Kontribusi Pemikiran Kiai Haji Imam Jazuli terhadap Studi Islam Populer

Oleh Aguk Irawan MN*

Google Engine menjadi instrumen utama saya dalam mencari tahu belbagai jenis tulisan dan pemikiran KH. Imam Jazuli. Beberapa bulan terakhir, kehadiran sosok ini sangat "unik", terutama di kalangan Nahdliyyin. Wacana keislaman yang diusung dalam setiap tulisannya kompatibel dengan isu-isu kontemporer, baik di level domestik maupun internasional. Isu-isunya variatif, dari sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Walaupun, prestasi tersebut dapat dilacak akar-akarnya secara karir akademik, tetapi produktifitasnya dalam menulis dan mencermati isue-isue nasional dan global, bagi saya masih mengejutkan. Kendati saya secra pribadi mengenal cukup lama. Kiai Imam Jazuli adalah Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Department Theology and Philosophy untuk jenjang S1. Sedangkan jenjang masternya ditempuh dengan double degree, di Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy dan Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies.

Kemampuan akademiknya ditopang dengan "aktivismenya" sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon dan Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia), ditambah lagi pernah mendapatkan amanah sebagai Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. Jadi, teori di kampus dikroscek ulang dengan data pengalaman di lapangan yang dia geluti.

Tahun 1999-2000, ketika ia menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa FakultasUshuluddin (PPMI) Universitas Al-Azhar Cairo Mesir, kebetulan estafet Ketua Senat itu saya yang melanjutkan. Dan, sayapun bersyukur mewarisi program-program yang ambisius, diantaranya soal literasi, yaitu seluruh mahasiswa Fakultas Ushuluddin harus bisa ikut berkontribusi dalam hal menyebarkan islam yang toleran dengan menulis di belbagai media Nasional.

Selain itu, ketika ia menahkodai Sanggar Terjemah dan Pustaka ICMI Orsat Cairo, di tahun yang sama, dia meluapkan ambisinya, dengan membuka program dan ruang kursus menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab yang langsung berkerjasama dengan berbagai penerbit di Indonesia. Saya sendiri termasuk yang bersyukur bisa belajar dari program ini. Karena dampak yang dihasilkan tidak saja literasi, tapi juga finansial.

Program kursus kilat menerejmahkan yang kebetulan seangkatan dengan saya, hingga hari ini nama-nama mereka masih  menghiasi buku-buku terbitan dari Timur Tengah, diantaranya adalah KH. Kamran As’ad Lc, MA. KH Anis Maftuhin, M.Hum (Penerjemah La Tahzan), Ustad Mutadi Kadi, Lc., M. Pd serta puluhan penerjemah lainnya yang tak mungkin disebut disini. Semangat pada kegiatan literasi ini terlihat mencolok dari keunikan gagasannya, dan sejauh ini menjadi fenomena baru dalam disiplin studi Islam; yaitu Islam populer di Indonesia. Populisme Islam juga sedang trend dalam lingkungan intelektual kampus beberapa tahun terakhir.

Tetapi, cara Kiai Imam mempresentasikan pemikirannya berbeda. Yakni, memanfaatkan kecenderungan kaum milenial. Tentu saja tidak hendak membandingkan dengan tulisan-tulisan KH. Abdurrahman Wahid, sosok kiai yang kreatif menulis di media massa. KH. Imam Jazuli hanya mengingatkan saya tentang masa-masa di mana dahulu kala kiai-kiai Nahdliyyin menjadikan kajian Islam merambah persoalan-persoalan populer, hot dan uptodate.

Masa-masa seperti itu kemudian meredup. Kiai-kiai kembali ke khitthah sebagai guru-guru pondok pesantren. Mereka jarang menulis, apalagi dengan tema-tema populer dan memanfaatkan perkembangan media sosial. Kedatangan era android ini sedikit mengejutkan, karena yang dihuni oleh generasi milenial yang membawa karakter beragama yang baru. Kabar ini semula tidak segera disadari oleh komunitas pesantren. Kiai-kiai dan Gus-gus pesantren yang bervisi dakwah Islam rahmatan lil alamin sedikit ketinggalan dibanding "kubu sebelah".

Kubu sebelah ini pada mulanya hadir tanpa pesaing berat. Website, blogspot, dan semua sosial media telah mereka kuasai untuk menyebarkan paham Islam extrimis, radikal, teroristik. Studi Islam Populer berhasil mereka warnai dengan ideologi berbahaya tersebut.

Lambat laun, kiai dan gus pondok pesantren mulai mengejar ketertinggalan. Mereka makin masif bergerak merambah dunia digital ini setelah intelektual kampus meradang. Dalam banyak temuan kajian ilmiah dikatakan bahwa generasi muda terpapar terorisme, radikalisme, dan fundamentalisme gara-gara belajar Islam dari internet. Bukan dari kiai dan mondok di pesantren.

Sempat saya membayangkan, seandainya sejak dini tulisan-tulisan Islam rahmatan lil alamin seperti karya-karya Kiai Bisri Mushthafa, Kiai Abdurrahman Wahid, Kiai Nurcholis Madjid, Kiai Mushthafa Bisri, Habib M. Quraisy Shihab, Kiai Emha Ainun Najib, Kiai Hussein Muhammad, dan semua "kiai penulis" dari Nahdliyyin dimassifkan sejak dini, sebelum medan cyber ini dikuasi kaum radikal-fundamental, sudah tentu keberagamaan dan kebangsaan kita tetap harmonis.

Kiai Imam Jazuli tampaknya memulai dengan merespon kasus-kasus seperti Ustad Abdul Somad (UAS), lalu beranjak ke kasus-kasus sosial, politik dan ekonomi di Indonesia era Jokowi, menerjemahkan langkah-langkah Kiai Said Aqil dan PBNU, terakhir ikut serta meramaikan analisa politik Internasional dan Kajian Timur Tengah, soal Iran versus Amerika.

Kiai Imam Jazuli kelihatannya sedang dalam rangka memancing kembali intelektual-intelektual muda pondok pesantren untuk menulis. Tulisan-tulisan Kiai Imam Jazuli yang mudah diakses di media Tribun hanya contoh kecil saja, yang bisa dikembangkan lebih massif oleh seluruh intelektual pesantren lainnya. Perkiraan ini saya rasakan ketika membaca tulisannya saat merespon fenomena radikalisme di Indonesia. Tulisan itu terkesan "provokatif". Atau, ketika melihat pemerintah sudah tidak berpihak pada rakyat kecil, kaum Nahdliyyin. Atau, saat tulisannya mengkritik pemerintahan yang sempat membiarkan kedaulatan negara disepelekan.

Kesan “provokatif” itu surut ketika berbicara perkara yang tidak ada sangkut paut secara langsung dengan Indonesia. Tulisannya jadi lebih objektif-kritis. Misalnya, tulisan Kiai Imam Jazuli yang melihat persoalan konflik-konflik di Timur Tengah dengan pendekatan politik regional maupun internasional. Kiai Imam menganalisis dengan baik bagaimana posisi negara-negara Islam dan umat muslim untuk menempatkan diri.

Atau, ketika terjadi rusuh di Surabaya oleh sekelompok muslim yang geruduk Konjen Tiongkok, Kiai Imam melihat benang merah persoalan tersebut dengan provokasi China di laut Natuna. Terlepas benar dan tidaknya wacana itu, pemerintah Indonesia sudah memastikan China hengkang dari Natuna. Sebab, selain PBNU telah memaklumatkan "resolusi jihad" 2020, tulisan Kiai Imam Jazuli dalam menafsir maklumat PBNU tersebut tampak membangkitkan semangat perang Nahdliyyin yang membacanya.

Alhasil, keunikan tulisan-tulisan Kiai Imam Jazuli, yang notabene mantan Pengurus di PBNU 2010-2015 dan sekaligus Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiah, bukan pada sekedar wacana yang diangkatkatnya. Tetapi, yang terpenting, tulisan-tulisan beliau semacam itu adalah pemantik awal yang mengajak para penulis lain dari Nahdliyyin untuk melakukan gerakan "dakwah literasi".

Dakwah Literasi jauh lebih elegan dari pada "dakwah orasi" di tv-tv dan medsos. Karena sering kali dipotong-potong, diselewengkan, disalah tafsiri, tetapi juga tidak. Literasi jauh lebih kental dalam menunjukkan nalar akademiknya. Sementara orasi di podium-podium, lalu diposting ke medsos, hanya mengandalkan kelihaian mengolah emosi audiens. Bahkan, terlalu bicara di panggung dan jarang membaca sumber kerap menjatuhkan si da'i ke dalam "kebodohan dan pembodohan" publik.

Sampai di sini penulis melihat, karya intelektual Kiai Imam Jazuli sebagai pemantik kajian/studi Islam populer harus diapresiasi. Apresiasi yang paling penting adalah kelahiran lebih massif penulis-penulis Nahdliyyin, dalam rangka menyebarkan pemikiran yang bervisi Islam rahmatan lil alamin..[]

*Kolomnis, alumni program Doktoral UIN Sunan Kalijaga dan Pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, Bantul, D.I Yogyakarta.

Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved