Tribunners / Citizen Journalism

Kontribusi KH. Imam Jazuli, Menyatukan Tradisi Pesantren, Seni dan Film

Saya mengenal Kyai Imam sebagai pengusaha bidang penerbitan, travel dan konsultan pendidikan yang sukses

Kontribusi KH. Imam Jazuli, Menyatukan Tradisi Pesantren, Seni dan Film
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Kontribusi KH. Imam Jazuli, Menyatukan Tradisi Pesantren, Seni dan Film

Oleh: Salamun Ali Mafaz*

Sekitar tahun 2012 saya bertemu Kyai Imam, persisnya di kediaman sutradara Hanung Bramantyo. Saat itu saya, Mas Hanung, dan Agus Kuncoro sedang ngobrol santai, setelah itu datanglah Kyai Imam bersama Aguk Irawan yang sudah janjian untuk bersilaturahmi. Tentu saja pertemuan itu membawa berkah tersendiri untuk menyatukan gagasan, pikiran dan arah jalan dakwah film ke dunia pesantren. Pertemuan saya, Kyai Imam dan Mas Hanung bukan yang terakhir kalinya, pertemuan selanjutnya terjadi di Dapur Film kantor studio Mas Hanung. Sembari menikmati makan malam di samping kolam renang, saat itu berdiskusi perihal fikih, sejarah, dan perfileman.

Saya mengenal Kyai Imam sebagai pengusaha bidang penerbitan, travel dan konsultan pendidikan yang sukses, karena itulah sejak pertama kali berkenalan saya langsung cocok, selain memang dari latar belakang yang sama yaitu dunia pesantren, dari daerah yang sama Cirebon, juga kesamaan arah tujuan bisnisnya. Baru berkenalan dengan beliau, sikap penghormatan kepada sesama menjadi alasan kuat saya terus menjalin persahabatan hingga saat ini.

Dulu pada saat di Jakarta saya bersama beliau terbiasa bertemu pagi sekitar pukul 09.00 dan pulang terkadang sampai larut malam sekitar pukul 24.00, sepanjang jalan bersama beliau inilah saya kerap kali dijamu makan di tempat-tempat ternama dan pulang masih diberi bingkisan. Selama di Jakarta inilah saya juga mengenal beliau sebagai pribadi yang lues bergaul dengan siapa saja, dari latar belakang manapun, baik dari kalangan politisi, pengusaha, tokoh agama, seniman, budayawan dan kalangan artis-artis beliau selalu care meyambut baik.

Sikap Kyai Imam ini mengingatkan saya kepada ungkapan Ali bin Abi Thalib yang mengatakan bahwa “dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudara dalam kemanusiaan.” Ruh ajaran pesantren tertanam kuat meskipun berada di kota Jakarta yang dikenal kehidupan orangnya masing-masing. Saya pribadi merasakan susah memang mencari orang seperti beliau di tengah-tengah kota Jakarta yang manusianya saling berlomba sendiri memenuhi tuntutan dan nafsu duniawinya.

Setelah itu beliau pulang kampung ke Cirebon mendirikan SMK Broadcast Pertelevisian dan Perfileman Bina Insan Mulia. Sesekali saya masih berkunjung ke beliau pada awal-awal perintisannya, tidak mudah memang menyatukan tradisi pesantren dengan seni dan film di tengah-tengah masyarakat kampung yang jauh dari kehidupan orang modern. Tetapi berkat perjuangan Kyai Imam, daerah Cisaat Dukupuntang yang terbentang sawah dan pegunungan berhasil disulap menjadi daerah yang ramai dikunjungi banyak kalangan.

Keberadaan Pesantren Bina Insan Mulia sebagai wadah pemersatu banyak kalangan sebagai bentuk impelementasi nyata dari sikap Kyai Imam yang menghargai kreativitas kalangan manapun. Prinsip yang familiar di kalangan pesantren dan Nahdlatul Ulama, yakni Al muhafadzotu ala qadimi sholih, wal ahdzu bil jadidi al ashlah, mempertahankan tradisi masa lalu yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik, benar-benar diterapkan Kyai Imam dalam mengembangkan pesantren ini.

Tradisi pesantren yang lekat dengan keilmuan lslam dan kitab kuningnya menjadikan pesantren mendapatkan kepercayaan dari masyarakat sebagai tempat mendidik anak-anak mereka. Persoalan muncul ketika pesantren harus dihadapkan dengan dunia seni terlebih film yang dianggap masyarakat umum sebagai dunianya orang modern atau kebiasaan orang di luar pesantren. Pada persoalan inilah Kyai Imam berani mengambil jalan yang dianggap sebagian orang nyeleneh atau mainstream. Tetapi bagi kalangan lain terutama yang bergelut di bidang seni dan film, keberanian Kyai Imam menyatukan tradisi pesantren, seni dan film merupakan langkah maju yang patut diapresiasi.

Faktanya memang demikian, seni masih dianggap hal yang kontroversi di kalangan pesantren, terlebih film yang masih dianggap tabu. Hadirnya pesantren Bina Insan Mulia merupakan kontribusi besar Kyai Imam dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat. Berbagai macam pentas seni telah diselenggarakan di pesantren ini tanpa adanya sekat pemisah, kalangan seniman yang berambut gimbal, berambut merah dicat, bahkan bertato sekalipun diterima dengan baik oleh Kyai Imam. Bagi beliau tidak ada jaminan bagi kita menjadi orang yang lebih baik dari pada mereka yang kelihatannya bertampang seperti preman dan anak jalanan. Menurut hemat saya disinilah nyelenehnya Kyai Imam ini, beliau berani melawan arus dengan menerima semua kalangan hadir di pesantrennya.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved