Tribunners / Citizen Journalism

100 Hari Kabinet Jokowi

Catatan KH Imam Jazuli di 100 Hari Pemerintahan Jokowi; Antara Philosopher King dan Trader King

Warga Nahdliyyin diwanti-wanti agar segera sadar untuk bangkit dan mengubah situasi buruk yang sedang berjalan.

Catatan KH Imam Jazuli di 100 Hari Pemerintahan Jokowi; Antara Philosopher King dan Trader King
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

100 Hari Pemerintahan Jokowi; Antara Philosopher King dan Trader King

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

Hari ini Kamis 30 Januari 2020 tepat  100 hari pemerintahan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Mungkin sekarang bukan lagi era belajar filsafat politik Plato dalam bukunya, Republik. Seorang raja filosof (Philosopher king)  yang berhak memimpin negara kini telah digantikan oleh trader king, pemimpin yang pengusaha. Tidak perlu heran apabila demokrasi kehilangan ruh kebijaksanaannya, lebih berpihak pada kepentingan bisnis dari pada rakyat.

Dalam satu kasus terakhir, pemerintah menunjuk pelaku bisnis untuk memimpin penyusunan undang-undang omnibus law. Semua pasal yang dibahas harus mendapat persetujuan Kamar Dagang dan Industri. Ketika rakyat kecil tidak mampu bertahan dalam tawar-menawar dengan kepentingan negara, demokrasi substantif telah tamat. Apalagi nanti Dewan Rakyat, yang notabene perpanjangan lidah rakyat, turut memuluskan kepentingan pengusaha.

Kekhawatiran publik semacam ini sudah common sense, rahasia umum. Ditambah lagi penegasan dari seorang ekonom senior, Faisal Basri, yang menilai kebijakan omnibus law pemerintahan Jokowi ini mengesankan hanya untuk memenuhi seluruh permintaan dunia usaha, terkait cost tenaga kerja. Sedangkan keterlibatan rakyat kecil seperti para buruh sangat minim sekali. Bukan saja pamor dan marwah presiden yang jatuh, tetapi kelompok oligarki sudah berani terang-terangan menantang rakyat.

Di dalam pemikiran Plato tentang raja filosof, tema kebijaksanaan menjadi topik utama. Sebaliknya, di dalam visi raja yang pengusaha, tema untung-rugi dalam menjalankan negara adalah hal utama. Karenanya, dalam rangka menguji sejauh mana kepentingan bisnis pemerintah hanya bisa diukur dari sejauh mana rakyat merasa dirugikan.

Misalnya, Menteri Kooperasi dan UMKM, Teten Masduki, mengatakan bahwa dengan undang-undang Omnibus Law ini, kita harapkan investasi di UMKM mencapai 60 persen sampai tahun 2024. Saat ini investasi di UMKM masih mencapai 58 persen. Rancangan Omnibus Law dipastikan akan meningkatkan pertumbuhan UMKM.

Nalar pemerintah yang berorientasi pada investor ini bertabrakan dengan nalar rakyat kecil yang mencari kesejahteraan. Ada dua sudut pandang yang sulit dipertemukan. Karenanya, para buruh bergabung ke dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menolak ide Omnibus Law yang kesannya melayani investor ini, tanpa peduli pada dampak-dampak yang ditimbulkan di belakang hari.

KSPI menilai, Omnibus Law ini akan menghapus sistem upah minimum, menghilangkan pesangon, melanggengkan sistem outsourcing, menghilangkan jaminan pensiun dan kesehatan, membuka masuknya tenaga kerja asing, dan menghapus sanksi pidana bagi penguasa yang tidak mengupah pekerja. Dengan kata lain, rakyat melihat sisi kerugian dari Omnibus Law, sedangkan pemerintah melihat sisi keuntungannya.

Di dalam buku Republik, Plato sudah menjelaskan, negara yang dijalankan oleh kelas pengusaha pasti orientasinya pada untung dan rugi. Negara yang dijalankan oleh kelas tentara pasti orientasinya pada perang. Hanya negara yang dipegang filosof yang bijaksana yang mampu mengayomi seluruh kelas sosial. Dalam konteks ini, Omnibus Law perlu melihatkan kepentingan rakyat, bukan saja pengusaha dan investor.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved