Tribunners / Citizen Journalism

Menakar 70 tahun Hubungan Diplomatik Indonesia dengan Rusia

Walaupun mayoritas beragama Kristen Ortodox, sekitar 14% atau sekitar 24 juta penduduknya adalah penganut agama Islam, mungkin yang terbesar

Menakar 70 tahun Hubungan Diplomatik Indonesia dengan Rusia
TRIBUN/DANY PERMANA
Newspaper Director, Regional News Directorate, KG Media Febby Mahendra Putra (kiri) memberikan cinderamata kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus M Wahid Supriyadi (kanan) usai berbincang bersama awak Tribunnews.com di Redaksi Tribun Network, Jakarta, Selasa (15/10/2019). TRIBUNNEWS/DANY PERMANA 

Terobosan untuk mendekatkan kembali hubungan kedua negara ditandai dengan kunjungan Presiden Soeharto ke Moskow pada 7-12 September 1989. Dalam kunjungan tersebut ditandatangani Pernyataan mengenai Dasar-Dasar Hubungan Persahabatan dan Kerja Sama antara Indonesia dengan Uni Soviet.

Baca: Akhir Juli 2020, KBRI Kembali Gelar Festival Indonesia ke-5 di Moskow

Perubahan geopolitik di dunia internasional awal tahun 1990-an yang ditandai dengan runtuhnya tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet berdampak pula pada arah hubungan Indonesia dan Rusia. Uni Soviet dibentuk pada 30 Desember 1922 dan dinyatakan bubar pada 25 Desember 1991.

Pada 28 Desember 1991 melalui surat Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Ali Alatas, yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Rusia, Andrei V. Kozyrev, Pemerintah Indonesia mengakui secara resmi Federasi Rusia sebagai “pengganti sah” (legal successor) Uni Soviet. Indonesia dan Rusia terus berupaya meningkatkan hubungan dan kerja sama.

Pada awal abad ke-21 hubungan dan kerja sama Indonesia dengan Rusia memasuki babak baru. Hal ini ditandai dengan saling kunjung atau pertemuan pemimpin kedua negara dan para pejabat tinggi pemerintahan, serta saling dukung di forum internasional.

Baca: Tak Hanya Senjata Militer Modern, Iran Miliki Pasukan Lumba-lumba Pembunuh Mematikan dari Rusia

Hubungan dan kerja sama tidak hanya terjalin pada tingkat pemerintah atau eksekutif, tetapi juga tingkat lainnya, seperti legislatif dan yudikatif, pelaku usaha, media, dan masyarakat.

Sejak tahun 2000 terjadi pertemuan yang sangat intensif antara Presiden Indonesia dan Presiden Rusia. Selama tahun 2000-2020 tercatat 13 kali pertemuan bilateral antara presiden kedua negara, 4 kali di antaranya dilakukan saat kunjungan dan 9 kali lainnya di sela-sela konferensi internasional.

Presiden Vladimir Putin telah bertemu dengan empat presiden Indonesia dari Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo.

Jika Presiden Soekarno merayakan ulang tahun di Moskow tahun 1961, maka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merayakan ulang tahunnya ke-63 di Vladivostok saat menghadiri KTT APEC pada 9 September 2012. Sementara itu, Presiden Vladimir Putin merayakan ulang tahun ke-61 di Bali saat menghadiri KTT APEC pada 7 Oktober 2013.

Presiden Joko Widodo bertemu dengan Presiden Vladimir Putin sebanyak 3 kali, yaitu di KTT APEC Beijing pada 10 November 2014, kunjungan Presiden Joko Widodo ke Sochi pada 18 Mei 2016 sebelum menghadiri KTT Rusia-ASEAN pada 19-20 Mei 2016 dan East Asia Summit (EAS) di Singapura pada 14 November 2018.

Kontak dan pertemuan Presiden kedua negara diharapkan dapat terus berlangsung. Presidsen Vladimir Putin dan Joko Widodo sama-sama menjabat sebagai presiden hingga tahun 2024.

Hubungan kedua negara saat ini sedang menuju pada tingkat yang lebih tinggi yaitu dalam bentuk Kemitraan Strategis. Dokumen Kemitraan Strategis sedang dipersiapkan oleh kedua negara yang diharapkan dapat ditandatangani pada saat pertemuan Presiden kedua negara.

Halaman
123
Editor: Rachmat Hidayat
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved